Dampak Teknologi pada Anak: Membangun Keterampilan atau Menyebabkan Ketergantungan?

Opini0 Dilihat

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menyebutkan bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara itu 35,57 persen lainnya telah mengakses internet. Secara tidak langsung penggunaan teknologi pada anak telah memicu terjadinya kenakalan remaja.

Penggunaan teknologi tentunya berkaitan dengan perkembangan zaman, tidak bisa dipungkiri pola asuh atau gaya parenting orang tua juga akan turut mengalami perubahan. Gaya parenting zaman dahulu tentu akan berbeda dengan gaya parenting zaman sekarang, dimana tidak semua gaya parenting orang tua zaman dulu dapat diterapkan dengan efektif pada masa kini.

Perbedaan pola asuh orang tua zaman dulu dan zaman sekarang

Pertama, orang tua zaman dulu cenderung mendisiplinkan anak melalui fisik seperti mencubit atau memukul anak sebagai hukumannya, jika dimasa kini, hal ini akan memicu rasa trauma dan takut pada anak. Sedangkan zaman sekarang orang tua cenderung menggunakan metode pendekatan dimana mengedepankan pemahaman yakni anak diajak berdiskusi dan penjelasan mengapa meraka perlu mentaati peraturan atau alasan kesalahan mereka, sehingga anak akan lebih memahami kesalahan mereka dan menghindari rasa takut atau trauma berlebihan akibat hukuman fisik.

Kedua, orang tua zaman dulu dikenal dengan pola asuh otoriter, dimana orang tua memiliki kuasa penuh terhadap anak dan anak-anak harus patuh pada aturan orang tua tanpa banyak pertimbangan, dalam hal ini anak tidak dapat mengekpresikan dirinya sendiri. Sedangkan, zaman sekarang anak diberi kebebasan untuk mengekpresikan dirinya, orang tua cenderung mendengarkan pendapat anak, memberikan penjelasan dan mendiskusikan keputusan bersama. Aturan yang diberikan kepada anak tidak bersifat kaku lagi yang tentunya tidak terlepas dari pengawasan.

Ketiga, perkembangan teknologi memiliki pengaruh besar terhadap pola asuh pada anak. Zaman dulu cenderung mendengarkan nasihat kakek nenek dari generasi sebelum-sebelumnya (petuah). Sedangkan zaman sekarang orang tua cenderung menggunakan internet untuk mencari informasi terkait pola asuh dan cara mendidik anak. Yang artinya perubahan dari pola asuh tradisional ke modern. Keempat, sikap kemadirian anak zaman dulu seringkali berfokus pada pengetahuan lokal, nilai-nilai tradisional dan keterampilan praktis.

Sedangkan zaman sekarang, kemandrian, kreativitas dan keterampilan anak menggunakan teknologi. Pola asuh saat ini sesuai dengan perkembangan zaman atau mengikuti tuntuan zaman. Dan kelima, pola asuh orang tua zaman dulu berfokus pada peran ibu terkait urusan rumah tangga sedangkan ayah cenderung berkaitan dengan pekerjaan diluar rumah atau menafkahi. Sedangkan zaman sekarang pola asuh lebih terbuka dan kedua orang tua baik ayah atau ibu berperaan dalam mendidik anak dan tanggung jawab dibagi merata.

Peran orang tua menjadi faktor pertama dan utama dalam memberikan pola asuh yang baik terutama saat ini di era modern dan berkembangnya teknologi. Lingkungan keluarga menjadi lingkungan pertama untuk membentuk sikap dan karakter anak, sehingga orangtua perlu untuk memahami mengenai digital parenting dan dampak akibat penggunaan teknologi yang berlebihan.

Salah satu contoh nyata dampak negatif dari penggunaan teknologi yang berlebihan dapat dilihat dari kasus yang terjadi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya. Berdasarkan laporan MetroTVNews, ribuan anak telah dirawat di RSJ tersebut dan mayoritas dari mereka mengalami gangguan kesehatan mental akibat kecanduan gawai (Metrotvnews, 2024).

Fenomena kecanduan gawai/gadget tersebut menunjukkan sangat pentingnya peran orang tua dalam melakukan digital parenting, berupa pengawasan, membatasi, dan mendampingi anak dalam penggunaan teknologi. Tanpa adanya pengawasan, anak-anak akan rentan untuk kecanduan dan mengakibatkan dampak psikologis lainnya.

Dampak positif dan negatif penggunaan teknologi pada anak

Adapun dampak positif penggunaan teknologi yakni dapat mendukung anak untuk belajar secara mandiri melalui akses tak terbatas ke informasi. Anak dapat mencari informasi, membaca buku digital, dan mengeksplorasi dunia dengan lebih luas. Selebihnya, teknologi menawarkan peluang untuk pembelajaran interaktif. Aplikasi edukatif dapat membantu anak-anak dalam memahami konsep-konsep visual secara menarik yang dapat meningkatkan daya tangkap anak terhadap materi pelajaran (CLSD Psikologi UGM, 2023).

Dampak negatif dari teknologi terhadap anak-anak antara lain adalah masalah kesehatan, seperti posisi duduk saat bermain game yang bisa merusak mata karena terlalu lama melihat layar. Selain itu, teknologi digital bisa bikin anak-anak kecanduan, terutama dalam hal bermain game. Ini bisa berdampak buruk pada mereka, seperti menurunnya minat belajar, perubahan dalam mental dan perilaku, ketidakstabilan emosi, hingga bisa berujung pada perilaku agresif atau kekerasan. Ada juga kemungkinan munculnya halusinasi dan gangguan jiwa yang serius. Selain itu, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat membuat anak-anak jadi kurang bersosialisasi atau bahkan bersikap anti sosial (Antaranews, 2024).

Pengaruh negatif dari penggunaan teknologi dapat dihindari dengan cara, orang tua harus lebih aktif untuk mengontrol anak dalam menggunakan handphone/teknologi. Orang tua perlu menetapkan batasan waktu penggunaan perangkat, memastikan bahwa anak-anak tidak menghabiskan waktu berlebihan di depan layar. Selain itu, orang tua harus aktif terlibat dalam kegiatan digital anak, seperti mendampingi mereka saat bermain game atau menjelajahi internet, sehingga dapat memberikan arahan dan pengawasan yang tepat.

Jika meminjam salah satu pemikiran tokoh sosiologi yaitu Talcott Parsons seorang sosiolog asal Amerika, orang tua memiliki andil yang penting dalam mendidik anak terkait penggunaan teknologi di era digital saat ini. Teori Struktural Fungsional Parsons, dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana keluarga (sebagai subsistem sosial) berfungsi menyeimbangkan adaptasi terhadap teknologi sekaligus menjaga stabilitas sosial.

Parsons melihat masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari subsistem yang saling berhubungan untuk menjaga keseimbangan (equilibrium). Dalam konteks teknologi dan pengasuhan anak, keluarga berperan sebagai institusi utama yang menjalankan berapa fungsi. Pertama, teknologi sebagai sarana adaptasi sehingga keluarga harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi dengan memanfaatkannya untuk pendidikan (aplikasi edukatif, ebook). Namun, adaptasi ini harus diimbangi dengan kontrol agar tidak mengganggu fungsi lain.

Kedua, Fungsi Goal Attainment dimana keluarga harus menetapkan tujuan jelas dalam penggunaan teknologi, seperti mendukung pembelajaran anak sekaligus mencegah kecanduan. Ketiga, teknologi dapat mengganggu interaksi sosial anak jika tidak dikontrol. Keluarga berfungsi mengintegrasikan nilai-nilai sosial (seperti komunikasi langsung) agar anak tidak menjadi anti-sosial. Keempat, keluarga bertugas memelihara nilai-nilai budaya dan norma sosial, termasuk etika penggunaan teknologi.[]

Penulis :
Amirah Tsania Khansa, Anis, Gina Veranty, Habib Kurniawan, Reisya Fadhilah, Vina Julianti (Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Universitas Bangka Belitung)