Suku Jawa merupakan salah satu suku yang sampai sekarang masih mempertahankan dan melestarikan tradisi kebudayaan yang ada sejak zaman dahulu. Salah satu tradisi yang masih mengakar kuat dimasyarakat yaitu Festival Gunung Slamet di Kabupaten Purbalingga, tepatnya berada di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Festival Gunung Slamet merupakan acara tahunan masyarakat Desa Serang. Festival tersebut dimaksudkan untuk melestarikan dan menjaga tradisi dan budaya yang dilakukan oleh leluhur zaman dahulu.
Tradisi turun temurun ini seperti halnya tradisi pengambilan air dari mata air Sikopyah, dan tradisi ruat bumi atau sedekah bumi. Sedangkan perjunjukan lainnya yang di tampilkan pada Festival ini hanya sebagai pemeriah tradisi yang dilakukan. Kegiatan Festival Gunung Slamet diselenggarakan di tempat wisata Lembah Asri Serang yang bertepatan di lereng kaki gunung Slamet, sehingga dapat menarik wisatawan lokal untuk berkunjung. Selain itu, juga dapat membantu meningkatkan perekonomian daerah.
Festival Gunung Slamet pertamakali diadakan pada tahun 2015 atas usul masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Dan kemudian oleh Bupati Kabupaten Purbalingga, Bapak Tasdi S.E. mencetuskan supaya dapat menyelenggarakan Festival Gunung Slamet di desa Serang tersebut. Diharapkan kegiatan ini dapat diagendakan menjadi kegiatan tahunan masyarakat Desa Serang.
Festival Gunug Slamet memiliki rangkaian acara yang panjang sehingga memakan waktu tiga hari lamanya. Rangkaian acaranya terdiri dari :
1. Pawai Ta’aruf
Dalam Festival Gunung Slamet ini, pawai ta’aruf merupakan kegiatan awal yang dilaksanakan pada hari pertama acara.dan merupakan acara wajib sebelum dilakukannya pengambilan air sikopyah.
2. Pawai Rebana
Pawai rebana merupakan pawai yang dimaksudkan untuk mengiringi sholawat yang dilantunkan oleh para rombongan yang ikut dalam pengambilan air sikopyah.
3. Serang Sholawat
Kegiatan ini ditandai dengan dilantunkannya sholawat yang bertujuan untuk mengharapkan mendapat keberkahan serta rahmat Allah SWT.
4. Pengambilan Air Sikopyah
Pengambilan air Sikopyah merupakan tradisi wajib dilakukan dalam Festival Gunung Slamet. Air Sikopyah diambil dari tujuh mata air yang terletak dilereng kaki Gunung Slamet.
5. Penerimaan Air Sikopyah
Setelah air sikopyah diambil oleh masyarakat atau para pemimpin tradisi, selanjutnya air tersebut dikumpulkan menjadi satu kedalam bak atau kolam untuk kemudian melakukan do’a bersama dan menampilkan wayang. Lalu setelahnya air tersebut dapat diambil oleh para pengunjung.
6. Ruwat Bumi
Ruwat Bumi merupakan lambang rasa syuku kepada Allah SWT. atas berlimpahnya hasil pertanian mereka. Berbagai sayur-sayuran hasil pertanian masyarakat desa Serang dikumpulkan menjadi satu untuk kemudian dibagikan kepada para pengunjung yang menghadiri kegiatan tersebut.
7. Pagelaran Wayang Kulit
Acara pagelaran wayang kulit ini bertujuan untuk memeriahkan Festival Gunung Slamet. Mengingat wayang merupakan salah satu ciri khas dari Jawa Tengh, sehingga patutnya perlu dilestarikan pula.
8. Pawai Budaya
Biasanya pawai budaya dilakukan oleh masyarakat dan beberapa sekolah-sekolah di Kecamatan Karangreja dengan menampilkan keseniannya masing-masing
9. Takiran Bareng Bupati
Takiran bareng bupati atau dalam Bahasa Indonesi dikenal dengan istilah makan-makan bersama bupati merupakan salah satu acara yang dapat mempererat hubungan masyarakat dengan bupati. Biasanya takiran ini dilakukan dengan menggunakan alas daun pisang yang memanjang dan diatasnya diiisi oleh nasi beseta lauk-pauknya sehingga bias saling mendekatkan satu sama lain.
10. Perang Tomat
Perang tomat dilakukan dengan tujuan unntuk mengenal sejarah atau asal usul dari Desa Serang. Biasanya tomat yang dipakai dalam acara ini adalah tomat yang sudah matang.
11. Festival Ebeg
Ebeg atau biasa disebut dengan kuda lumping merupakan salah satu budaya Jawa yang terbuat dari bambu yang dianyam. Biasanya festival ebeg dilakukan pada siang hari guna memeriahkan Festival Gunung Slamet.
12. Pagelaran Akustik atau akustik kabut lembut
Dalam festival ini, pagelaran music dilakukan pada malam hari di hari terakhir Festival Gunung Slamet dan biasaya menghadirkan penyanyi-penyanyi terkenal.
Dengan adanya Festival Gunung Slamet diharapkan dapat melestarikan dan mempertahanan tradisi yang diwariskan oleh leluhur zaman dahulu. Dan sudah sepatutnya kita sebagai generasi selanjutnya untuk ikut andil dalam menjaga tradisi dan budaya yang ada.
Pengirim :
Luthfiyyah Qurrotul Aini, mahasiswa UIN K.H Abdurahman Wahid Pekalongan
