Jika Iran dan Israel Berperang, Yang Kaya Bukan Mereka, Tapi…

Konflik bersenjata antara Iran dan Israel kembali mencuat ke permukaan dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan yang selama ini mengendap perlahan kini meledak dalam bentuk serangan langsung yang saling dibalas tanpa ampun. Serangan-serangan tersebut telah menimbulkan kerusakan besar, menewaskan banyak warga sipil, serta mengguncang stabilitas politik dan militer kedua negara. Dunia internasional pun dibuat resah, karena konflik ini tidak hanya berdampak pada dua negara saja, tetapi berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam perang regional yang lebih luas.

Dilaporkan bahwa Israel memulai eskalasi ini dengan melancarkan serangan mendadak ke sejumlah titik penting di wilayah Iran pada Jumat (13/6). Tidak hanya fasilitas militer yang menjadi sasaran, tetapi juga infrastruktur sipil seperti depo gas, kilang minyak di pusat kota Teheran, bandara di Tabriz, dan fasilitas strategis lainnya.

Bahkan, fasilitas nuklir utama di Natanz turut dihantam. Serangan tersebut dikabarkan menewaskan sejumlah tokoh penting dalam struktur militer Iran, di antaranya Jenderal Mohammad Bagheri yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, serta Panglima IRGC Jenderal Hossein Salami. Beberapa ilmuwan nuklir terkemuka juga turut menjadi korban. Banyak pihak menilai ini bukan sekadar serangan militer, tetapi bentuk aksi pembunuhan terencana yang menyasar kepemimpinan strategis Iran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan besar-besaran ke berbagai kota utama di Israel, seperti Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa. Serangan ini menimbulkan ketegangan hebat dan kepanikan luas. Dunia internasional pun menyerukan gencatan senjata, namun potensi perang terbuka semakin nyata. Konflik ini tidak lagi sekadar peristiwa lokal, tetapi telah menjadi krisis geopolitik global.

Namun, dalam setiap konflik sebesar ini, selalu muncul satu pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya diuntungkan? Sejarah mengajarkan bahwa dalam banyak kasus perang, pihak yang paling diuntungkan bukanlah negara yang menang atau kalah di medan tempur. Yang justru meraup keuntungan adalah mereka yang menjual senjata, menguasai perdagangan energi, serta memainkan kekuasaan dari balik meja diplomasi.

Keterlibatan Amerika Serikat, khususnya di bawah Donald Trump, mempertegas pola lama itu. Dikutip dari BBC News, Trump tengah mempertimbangkan langkah untuk mendukung Israel menyerang fasilitas nuklir Iran. Ia bahkan secara terbuka menyerukan Iran untuk “menyerah tanpa syarat” melalui media sosial. Hubungan dekat antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun memperlihatkan bahwa kepentingan politik dan ekonomi Amerika bisa saja ikut bermain dalam konflik ini.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan diri sebagai mediator, dengan alasan memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan kedua negara. Namun, Trump merespons tawaran tersebut dengan sinis, menyarankan Putin untuk terlebih dahulu menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika konflik Iran-Israel bukan sekadar masalah kawasan, tetapi sudah menjadi alat tawar global dalam perebutan pengaruh dunia.

Menariknya, di tengah konflik ini, China tampak memosisikan diri sebagai penonton yang cermat. Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah secara tidak langsung menguntungkan posisi China dalam perang dagangnya melawan Amerika Serikat. Dengan memanfaatkan fokus AS yang terpecah, China bisa memperkuat jalur dagangnya, membentuk aliansi baru, serta memperluas pengaruh di kawasan-kawasan yang selama ini dikuasai Barat.

Pada akhirnya, yang benar-benar dirugikan dari perang ini adalah rakyat sipil. Mereka kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan harapan masa depan. Sementara itu, para konglomerat industri militer, spekulan energi, dan elite kekuasaan global terus menghitung laba dari konflik yang tak kunjung usai.

Perang, dalam bentuk apa pun, selalu menjadi tragedi. Tapi selama konflik dijadikan komoditas oleh segelintir elite dunia, perdamaian akan selalu tertunda. Maka benar adanya: yang kaya bukan mereka yang berperang, tapi mereka yang menjual pelurunya.[]

Penulis :
Zhafira Azzahra, Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Ilmu Komunikasi