Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar dalam pendidikan di semua jenis jenjang pendidikan, dari sekolah dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi. Selain itu, dalam mempelajari bahasa sunda, bahasa jawa dan bahasa asing, kata pengantarnya untuk mempelajarinya adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Apakah guru wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam mengajar?
Para guru dan calon pendidik sebelum mengajar disarankan harus bisa menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena kita akan memberikan pengajaran kepada peserta didik. Apabila seorang pendidik tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka itu akan dicontoh oleh peserta didiknya. Setidaknya dengan guru berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, para peserta didik pun bisa menambah kosakata dan belajar tentang bahasa Indonesia dengan baik. Walaupun masih ada beberapa guru yang masih menggunakan bahasa daerahnya ketika mengajar, “Guru saya mengajar menggunakan bahasa daerah tergantung dengan mata pelajarannya, tetapi kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia.”
Dari jawaban salah satu peserta didik berinisial N yang bersekolah di SMKN 1 Plupuh Sragen tersebut dapat kita lihat, bahwasannya dalam mata pelajaran apapun itu alangkah baiknya kita sebagai seorang guru bisa menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Seperti yang telah dijelaskan dalam UU No. 24 Tahun 2009 Pasal 29, bahwasannya bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan.
Kenapa belajar bahasa Indonesia, bukankah itu bahasa keseharian kita?
Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk menguasai bahasa Indonesia itu tidak perlu dipelajari secara khusus karena akan paham dengan sendirinya, asalkan kita mau melatihnya dalam kegiatan sehari-hari. Seperti cuplikan perkataan pada salah satu peserta didik berinisial S yang bersekolah di SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar, “Saya lebih tertarik menggunakan bahasa asing, karena ingin bisa berbahasa asing, kalau bahasa Indonesia saya sudah bisa.”
Tidak sampai disitu saja, bahkan peserta didik berinisial AP yang bersekolah di SMAN 41 Jakarta juga lebih tertarik dalam belajar bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia, “Saya tertarik bahasa asing, karena dapat mempelajari berbagai macam kosa kata yang baru.”
Dari uraian di atas mereka beranggapan bahwa dirinya sudah bisa berbahasa Indonesia, karena itu adalah bahasa keseharian mereka. Tanpa mereka sadari, bahasa Indonesia yang mereka pakai itu sudah bercampur dengan bahasa-bahasa gaul, jadi kosa kata bahasa Indonesia yang mereka pakai itu hanya terpenuhi dengan bahasa gaul. Padahal jika kita perhatikan lagi, mereka belum sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, bahasa Indoensia memiliki banyak variasi dengan percampuran bahasa gaul dan bahasa daerah. Jadi, kosakata yang mereka semua pahami hanya bahasa gaul yang biasa mereka gunakan dalam kesehariannya, atau bahkan mereka lebih nyaman dengan bahasa daerah masing-masing, sehingga kosakata bahasa Indonesianya berkurang.
Lalu, bagaimana dengan ketidaktertarikannya dengan bidang sastra?
Terdapat juga peserta didik berinisial NA yang bersekolah di SMAN 1 Jakarta tidak tertarik dengan bahasa Indonesia, karena ia tidak suka bidang kebahasaan ataupun sastra, “Saya tidak minat dengan bahasa Indonesia, karena saya kurang memiliki minat dibidang kebahasaan ataupun sastra.”
Semua fenomena di atas menunjukan bahwa bahasa Indonesia kini sudah mengalami degradasi secara perlahan, apalagi ditambah dengan penggunaan bahasa asing yang sekarang sudah akrab dikalangan masyarakat, khususnya pada generasi milenial dan Z. Bukan hanya itu saja, bahkan nilai-nilai yang sekarang diraih oleh peserta didik rata-rata lebih tinggi bahasa Inggris dibandingkan dengan Bahasa Indonesia. Berarti mereka belum sepenuhnya paham tentang bahasa Indonesia. Padahal bahasa Indonesia ini sangat berdampak pada kemampuan membaca, menulis, hingga berpikir kritis.
Bagaimana solusi yang baik dari semua permasalahan tersebut?
Menindaklanjuti ketidak tertarikan peserta didik terhadap bahasa Indonesia serta minimnya kosakata, tentu saja kita perlu memperbaiki hal itu. Kita perlu mengasah kembali bahasa Indonesia di kalangan masyarakat, contohnya dengan kita memasyarakatkan bahasa Indonesia ini ke media massa. Perlu kita ketahui bahwa generasi Z ini sangat aktif terkait internet. Dengan demikian, strategi yang dapat kita coba yaitu dengan mendekatkan media massa dengan platform berita. Melalui platform ini, jurnalistik mampu menyajikan sebuah berita dengan kebahasaan yang baik dan benar, sehingga masyarakat bisa membaca tulisan yang disajikan.
Bisa juga kita berikan solusi dengan mengajak para peserta didik atau bahkan guru, untuk mengikuti tes UKBI (Uji Kemampuan Bahasa Indonesia) yang sudah disediakan di kemendikbud. Tes ini bisa dijadikan sebagai pengasahan kita terkait hal kebahasa Indonesiaan, seberapa kenalnya kita tentang bahasa Indonesia? UKBI ini memberikan hal positif kepada masyarakat, karena dapat memotivasi masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga masyarakat bisa memiliki tingkat percaya diri yang tinggi dengan penggunaan bahasa Indonesianya.
Namun, tidak senangnya peserta didik dengan bidang kebahasaan dan sastra, kita juga bisa sering-sering mengadakan sebuah perlombaan tentang membaca puisi, menulis, berpidato dan lain sebagainya di sekolah atau masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, peserta didik juga akan terlatih dalam hal keterampilan, dan juga bisa menambah sedikit demi sedikit kosakata dalam berbahasa.
Perlu dipahami, bahwa bahasa Indonesia dalam pendidikan itu sangat penting. Beberapa topik yang dapat kita pelajari dalam pembelajaran bahasa Indonesia kini meliputi membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Tanpa adanya pembelajaran seperti itu, kita tidak akan mudah dalam mencari pengetahuan. Dapat dimulai dari senangnya membaca, kita akan memahami berbagai macam ilmu pengetahuan, serta dapat menambah wawasan yang luas.
Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia ini kita bisa belajar banyak hal mengenai kebahasaan. Contohnya ketika kita berada dalam forum resmi seperti presentasi, seminar, lokakarya, simposisum, dan sejenisnya, kita membutuhkan kosakata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika kita tidak tertarik mengenai kebahasaan, lalu bagaimana anda akan berada di forum resmi ketika menyampaikan suatu pesan kepada para pendengar? Karena kita membutuhkan banyak kosakata yang baik dan benar untuk diucapkan dalam forum resmi.
Perlu kita cermati, bagaimana penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu? Bahasa yang benar adalah bahasa yang idealnya menaati kaidah kebahasaan secara penuh. Ketepatan tata bahasa, intonasi, serta ekspresi merupakan sebuah komponen yang mutlak harus dipenuhi oleh sang pembicara. Lalu bahasa yang baik adalah bahasa yang memiliki kesesuaian situasi dan kondisi pembicaraan. Saat kita sedang berbicara ataupun menulis, dengan sendirinya kita akan menyesuaikan bahasa dan cara berbicara atau menulis dengan lawan bicara kita sesuai dengan kondisinya.
Dari semua permasalahan di atas, ada beberapa hal yang patut kita banggakan juga, terdapat peserta didik yang senang dengan belajar bahasa Indonesia dalam sekolahnya. Ia beranggapan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan sebagai alat komunikasi antar sesama, “Bahasa Indonesia itu sebagai alat pemersatu dari berbagai ragam bahasa daerah di Indonesia,” ucap salah satu peserta didik berinisial PS dari SMPN 1 Sidoharjo.
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang ditetapkan sebagai lambang kebanggaan dan identitas nasional serta bahasa resmi kenegaraan. Dengan adanya kerjasama dan komitmen guru terhadap peserta didiknya untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia, maka bahasa Indonesia akan menjadi semakin kuat, sehingga menunjukan jati diri sebuah bangsa.[]***
Pengirim :
Sabila Qonita Heria Putri, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta, email : sabilaqnt@gmail.com
