Bulan Ramadan adalah bulan yang dinanti umat Islam di seluruh dunia karena terdapat malam yang penuh berkah dan keutamaan, yakni Lailatul Qadar. Malam ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi? Apa saja tanda-tandanya? Dan bagaimana cara mendapatkannya?
Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa, disebut dalam Surah Al-Qadr sebagai malam saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Allah berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang mulia. Dan tahukah kamu apakah malam yang mulia itu? Malam yang mulia lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)
Yang dimaksud “lebih baik dari seribu bulan” adalah ibadah yang dilakukan pada malam itu memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan ibadah selama lebih dari 83 tahun, MasyaAllah.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim bahwa “malam ini penuh dengan berkah dan rahmat, di mana setiap takdir tahunan ditentukan oleh Allah”.
Selain itu, Rasulullah bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang melaksanakan salat pada Lailatul Qadar dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang sudah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm menjelaskan bahwa malam ke-27 memiliki kemungkinan terbesar sebagai Lailatul Qadar berdasarkan beberapa riwayat sahabat. Akan tetapi, Al-Imam Malik menekankan dalam kitab Al-Muwatha’ bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah di antara malam ganjil sesuai kehendak Allah.
Walaupun tidak ditentukan secara tepat, Nabi Muhammad memberikan petunjuk bahwa Lailatul Qadar pasti terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan). Hal ini berdasarkan hadis:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ada hal menarik tahun ini di mana malam 21 bertepatan dengan malam Jumat. Menurut Al-Imam Al-Haddad, seorang ulama terkemuka, jika sebuah malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan jatuh pada malam Jumat, maka kemungkinan besar malam tersebut adalah Lailatul Qadar.
Banyak ulama berpendapat bahwa ada tanda-tanda yang sering dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar, antara lain:
1. Malam terasa tenang dan damai, tidak panas maupun dingin. Rasulullah bersabda:
“Lailatul Qadar adalah malam yang cerah, tidak panas, tidak dingin, dan di pagi harinya matahari bersinar dengan lembut kemerah-merahan.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
2. Matahari di pagi hari tampak bersinar tapi tidak menyilaukan.
3. Udara dan suasana malam terasa lebih sejuk dan nyaman.
4. Tidak ada suara aneh atau gangguan dari alam, suasana lebih hening dari biasanya.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari tanda-tanda ini adalah agar umat muslim terdorong untuk lebih banyak beribadah tanpa bergantung pada tanda fisik semata, melainkan dengan keyakinan dan keikhlasan hati.
Untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar, umat Islam dianjurkan untuk:
1. Perbanyak salat malam (Qiyamul Lail), khususnya salat tahajud!
2. Jangan lupa banyak berdoa, terutama doa yang diajarkan Nabi:
“Allahumma innaka ‘afuwwu tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan, maka ampunilah aku) (HR. Tirmidzi).
3. Baca Al-Qur’an dan berzikir juga.
4. Lakukan sedekah dan berbuat baik.
5. I’tikaf di masjid, yaitu berdiam diri untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah sendiri pernah mengatakan:
“Rasulullah biasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penulis :
Muhammad Fahmi Shidiq, Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang
