Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia dua tahun. Prevelensi stunting di indonesia masih menjadi permasalahan yang serius. Menurut UNICEF, satu dari tiga anak mengalami stunting, dan sekitar 40% anak di daerah pedesaan mengalami pertumbuhan terhambat.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia di angka 21,6%. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 24,4%. Walaupun menurun, angka tersebut masih tinggi, mengingat target prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14% dan standard WHO di bawah 20%. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Komalasari, mengingatkan pentingnya pemberian protein hewani kepada anak, terutama bagi anak di bawah usia 2 tahun, guna mencegah stunting.
Angka stunting di Indonesia masih tinggi yaitu 24,4% (SSGI 2021), walaupun terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 27,7% (SSGI 2019) namun masih butuh upaya untuk mencapai target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%. Tren data SSGI 2019-2021, menunjukkan Stunting terjadi sejak sebelum lahir, dan meningkat paling banyak pada rentang usia 6 bulan 13,8% ke 12 bulan 27,2% (SSGI 2019). Dari data tersebut kita dapat melihat pentingnya terpenuhi gizi ibu sejak hamil, menyusui dan gizi pada MP-ASI balita.
Gaya hidup modern dan pola makan yang tidak sehat berkontribusi pada masalah stunting, dengan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang sebagai akibatnya. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Upaya pencegahan melibatkan berbagai program dan kegiatan, termasuk Keluarga 1000 HPK yang memberikan dukungan kepada ibu hamil dan anak usia 0–24 bulan. Namun, kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan perawatan anak-anak juga sangat diperlukan. Edukasi mengenai pola makan yang baik dan pentingnya perawatan pada 1000 HPK harus terus ditingkatkan. Dengan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholder terkait, kita dapat mengatasi permasalahan stunting dan memastikan generasi masa depan tumbuh optimal dan sehat.
Dalam kondisi ini, anak tidak mencapai tinggi badan yang seharusnya sesuai dengan usianya, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan dan perkembangan anak. Anak yang mengalami stunting rentan mengalami masalah kesehatan seperti penurunan daya tahan tubuh, risiko terkena penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung, serta gangguan perkembangan fisik dan mental. Mencegah stunting menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan anak tumbuh dan berkembang secara optimal, yang melibatkan memberikan nutrisi yang cukup, pola makan yang seimbang, serta perawatan kesehatan yang baik sejak dini. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi yang baik dan perawatan kesehatan yang tepat menjadi kunci dalam upaya pencegahan stunting pada balita.
Penyebab anak mengalami stunting muncul dari berbagai faktor. Menurut WHO, faktor penyebab terjadinya stunting adalah faktor keluarga dan rumah tangga, pemberian Air Susu Ibu (ASI), pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), dan riwayat infeksi. Salah satu faktor keluarga yang berpengaruh adalah kurangnya pengetahuan orang tua mengenai gizi dan kesehatan. Pengetahuan orang tua tentang gejala, dampak, dan cara pencegahan stunting dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dalam pemeliharaan kesehatan sehingga dapat menekan angka kejadian stunting.
Oleh karena itu, perwakilan Universitas Mercu Buana menginisiasi kampanye untuk program “Menu Sehat, Anak Cerdas: Gizi Untuk Generasi Indonesia Unggul” dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan perkembangan tumbuh kembang anak dan pentingnya asupan gizi yang memadai bagi mereka. Melalui program ini, kami berharap dapat mengurangi kasus stunting yang menjadi masalah di Indonesia. Dalam kampanye ini, kami menyelenggarakan kegiatan Kuliah Peduli Negeri di wilayah Duren Sawit, Cakung Jakarta Timur, dengan fokus pada para ibu yang memiliki balita, agar mereka lebih memperhatikan perkembangan anak-anak mereka.[]
Pengirim :
Fatimah Az-Zahra, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Mercu Buana – Jakarta
Email : patimazzhr05@gmail.com
