Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Jakarta, khususnya di lingkungan Kecamatan dan Kelurahan yang padat penduduk. Setiap tahun, angka penderita DBD terus mengalami peningkatan, terutama saat musim hujan tiba. Padahal, penyakit ini bisa dicegah dengan cara yang sederhana, yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sayangnya, kesadaran masyarakat dan perhatian pemerintah sering kali kurang maksimal.
Mengapa PSN penting? Karena nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus DBD, berkembang biak di tempat-tempat yang tergenang air. Genangan air di pot bunga, kaleng bekas, talang air, hingga tempat minum hewan menjadi sarang ideal bagi nyamuk ini. Jika lingkungan dibiarkan kotor dan lembap, maka risiko penyebaran penyakit pun semakin besar.
Siapa yang bertanggung jawab? Jawabannya: semua pihak. Masyarakat memiliki peran penting dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. Gerakan 3M Plus (menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas) harus menjadi kebiasaan, bukan hanya saat ada program dari pemerintah. Selain itu, pihak Kecamatan dan Kelurahan juga wajib aktif melakukan penyuluhan, fogging, dan inspeksi berkala ke rumah warga.
Namun, yang sering terjadi adalah sikap saling menunggu. Warga menunggu pemerintah turun tangan, sementara pemerintah menunggu laporan kasus tinggi terlebih dahulu baru bertindak. Inilah yang harus diubah. Pemberantasan sarang nyamuk bukan soal reaksi terhadap wabah, tapi upaya pencegahan sejak awal.
Apa solusinya? Pemerintah daerah sebaiknya membentuk tim PSN yang terdiri dari kader kelurahan dan relawan warga. Tim ini bertugas melakukan pemantauan mingguan, memberi edukasi, dan menjadi penghubung antara warga dengan layanan kesehatan. Selain itu, perlu ada sanksi ringan atau teguran bagi warga atau tempat usaha yang tidak menjaga kebersihan lingkungan.
Pemberantasan sarang nyamuk tidak akan berhasil tanpa kerja sama semua pihak. Butuh kesadaran kolektif bahwa lingkungan bersih adalah benteng utama dari berbagai penyakit. Mari mulai dari lingkungan kita masing-masing, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.[]
Penulis :
Firmansyah Faizal, Mahasiswa Universitas Pamulang, email : firmansyahfaizal23@gmail.com
