“SISIR RINDU” Sebuah Inovasi para Penyandang Disabilitas Netra di Penganthi Temanggung

Self Help Skill atau Keterampilan Bantu Diri adalah bekal yang dapat kita berikan untuk dapat membantu Anak Berkebutuhan Khusus untuk menjalani fase-fase di kehidupan mereka. Kemandirian harus dilatih sedemikian rupa sejak dini. Anak berkebutuhan Khusus memerlukan latihan pembiasaan agar terlatih mengerjakan, melakukan sejumlah aktivitas yang membentuk pola kemandirian sejak dini. Kemandirian merupakan salah satu indikator utama dalam merumuskan program bagi anak berkebutuhan khusus.

Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra (PPSDSN) Penganthi Temanggung pada tahun 2019 berhasil menciptakan simulator sirkuit yang berfungsi sebagai sarana pelatihan keterampilan berjalan para penyandang disabilitas sensorik netra.  Selama ini, dalam melaksanakan pelatihan mobilitas belum ditunjang sarana yang tepat sehingga mereka kurang mengoptimalkan kemampunan yang berakibat pada tingkat kecelakaan berjalan yang tinggi, sempitnya daya jangkau mobilitas dan ketidak kepercayaan diri dari penyandang disabilitas sensorik netra.  Hal tersebut berhubungan langsung dengan tingkat kemampuan mereka dalam menghasilkan pendapatan dalam meningkatkan kesejahteraan hidup mereka sendiri dan juga keluarganya.

SISIR RINDU tidak hanya sebuah sarana ataupun alat bantu dalam melaksanakan bimbingan orientasi dan mobilitas namun lebih dari sekedar itu. Kemampuan orientasi dan mobilitas yang meningkat, bisa mempengaruhi berbagai kemampuan yang selama ini belum optimal seperti kemampuan eksplorasi, interaksi, komunikasi, akademik, sosial dan emosional dan kemampuan ekonomi. SISIR RINDU adalah sebuah simulator yang menggabungkan kondisi jalan yang sering ditemui oleh penyandang disabilitas sensorik netra pada saat orientasi lapangan, dengan adanya simulator yang terpadu diharapkan para penyandang disabilitas sensorik netra mampu mengembangkan kemampuannya dan mempunyai solusi dalam menghadapi resistor jalan. Dengan demikian, dampak awal yang timbul adalah meningkatnya kepercayaan diri, rasa mandiri dan enggan tergantung terhadap orang lain.

Hasil akhir dari inovasi SISIR RINDU adalah terjadinya peningkatan harkat dan martabat penyandang disabilitas sensorik netra dalam menjalankan kehidupannya yang wajar di tengah masyarakat. Dengan adanya persamaan hak dan kewajiban, penyandang disabilitas sensorik netra diharapkan mampu berperan serta dan aktif dalam ikut melaksanakan program pengentasan kemiskinan terutama pada sektor sosial.

Tujuan inovasi Simulator Sirkuit Orientasi Mobilitas Terpadu atau disingkat SISIR RINDU dalam mengatasi keterbatasan tersebut adalah : 1) Meningkatkan karakteristik kognitif; 2) Meningkatkan Karakteristik Akademik; 3) Membangun Karakteristik Sosial dan Emosional; 4) Membangun Karakteristik Perilaku; 5) Meningkatkan Karakteristik Kesehatan dan Motorik; dan 6) membangun Karakteristik Ekonomi.

Disabilitas merupakan penyebab sekaligus akibat dari kemiskinan. Penyandang disabilitas (Persons with Disabilities–PWD) sebagian besar tetap terpinggirkan dalam kebijakan dan program pembangunan utama. Di Indonesia ditemukan adanya stigma negatif yang terkait dengan disabilitas, dan bahkan penyandang disabilitas dianggap tidak memiliki kemampuan serta cenderung dianggap sebagai beban bagi orang-orang di sekitar mereka.Kebijakan dan undang-undang masih didominasi dan dipengaruhi oleh pendekatan karitatif daripada pendekatan berbasis hak asasi manusia.

Inovasi SISIR RINDU dalam hal ini dikategorikan pada Pelayanan Publik Berbasis Gender. Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025, dimana pengarusutamaan gender dinyatakan sebagai salah satu prinsip yang harus diaplikasikan pada semua program pembangunan termasuk pelayanan publik. Gender dalam hal ini tidak lagi semata-mata pada pelibatan perempuan atau pemenuhan kebutuhan perempuan, tetapi memiliki lingkup yang lebih luas.

Ruang lingkup pengarusutamaan gender mensyaratkan pemenuhan kebutuhan kelompok rentan, marjinal dan berkebutuhan khusus (vulnerable groups), seperti anak-anak, orang tua atau lanjut usia dan disabilitas. Dengan kata lain, SISIR RINDU sebagai sebuah inovasi pelayanan publik berbasis gender bagi disabilitas berusaha semaksimal mungkin mengakomodir kebutuhan mereka dalam rancangan inovasi yang bertujuan menyediakan kemudahan akses bagi disabilitas yang dalam hal ini sensorik netra melakukan orientasi mobilitas (sumber Doc. PPSDSN Penganthi Temanggung).[]

Pengirim :
Yayah Uffy Laily
Email : uffylail@gmail.com