Umah Berandun dan Politik Perlawanan Ekologis di Bangka Barat

Dalam konteks komunitas lokal dan masyarakat adat, bentuk perlawanan tidak selalu terlihat dalam wujud konfrontasi langsung dengan negara maupun perusahaan. Berbagai aksi inklusif justru terwujud dalam kegiatan sosial sehari-hari yang melestarikan pengetahuan lokal, nilai-nilai budaya, dan hubungan yang berkelanjutan dengan lingkungan. Di Bangka Belitung, praktik perlawanan ini dapat ditemui melalui kegiatan perempuan yang tergabung dalam komunitas Umah Berandun di Bangka Barat.

Bangka Belitung memiliki sejarah yang panjang sebagai salah satu pusat global dalam produksi timah. Kegiatan pertambangan telah menjadi denyut nadi ekonomi lokal selama berabad-abad. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan aktivitas pertambangan telah menyebabkan dampak lingkungan yang besar. Lanskap alami mengalami perubahan drastis, hutan berkurang, dan banyak area berubah menjadi lubang bekas tambang yang sulit untuk dipulihkan.

Kerusakan lingkungan ini tidak hanya berdampak pada kondisi alam, melainkan juga struktur sosial masyarakat. Pencemaran sumber air, hilangnya lahan yang subur, serta perubahan dalam pola ekonomi masyarakat menyebabkan banyak komunitas menghadapi tekanan sosial yang cukup berat. Dalam kondisi tersebut, perempuan seringkali menjadi kelompok yang paling merasakan dampak karena mereka terlibat langsung dalam pengelolaan sumber pangan, air, dan kesehatan keluarga.

Dari interaksi sehari-hari, pemahaman ekologis para perempuan mulai terbentuk. Pemahaman ini lalu berkembang menjadi bentuk-bentuk perlawanan sosial yang terwujud dalam ruang-ruang komunitas seperti Umah Berandun. Komunitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul bagi perempuan, tetapi juga sebagai wadah untuk membangun solidaritas, bertukar pengetahuan, serta meningkatkan kesadaran kritis tentang ekologis.

Bentuk perlawanan perempuan berbasis adat dapat dianalisis dengan konsep ekofeminisme yang dikembangkan oleh Vanda Shiva. Ekofeminisme menekankan hubungan antara eksploitasi alam dan marginalisasi perempuan. Dalam sistem ekonomi yang mengandalkan keuntungan dari sumber daya alam, alam dipandang hanya sebagai objek produksi, sementara perempuan sering kali dianggap sebagai bagian dari tenaga reproduksi sosial yang kurang terlihat.

Di dalam komunitas Umah Berandun, perempuan-perempuan di Bangka Barat menawarkan pandangan alternatif terhadap pola pikir ini. Mereka tidak hanya mengkaji dampak lingkungan dari kegiatan penambangan, namun juga berusaha meningkatkan kesadaran bahwa keberlanjutan ekosistem sangat penting bagi kelangsungan sosial dan budaya masyarakat.

Selain itu, komunitas ini juga memiliki peran politik yang signifikan. Dengan membangun kekuatan kolektif serta wadah diskusi bagi perempuan, komunitas ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berpartisipasi lebih aktif dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal.

Dalam konteks ini, perlawanan perempuan bukan hanya ditujukan kepada kekuatan dari luar seperti pemerintah atau perusahaan, melainkan juga kepada struktur sosial dalam yang masih membatasi keterlibatan perempuan. Dalam artian lain, gerakan perempuan dalam komunitas ini memuat dimensi transformasi sosial yang lebih luas, memperjuangkan keberlanjutan lingkungan sambil mendorong kesetaraan gender dalam kehidupan komunitas.

Lebih jauh, gerakan perempuan yang terlihat dalam komunitas Umah Berandun menunjukkan bahwa perubahan sosial sering kali berawal dari ruang-ruang komunitas yang kecil namun memiliki kekuatan kolektif yang besar. Dari tempat-tempat tersebut, perempuan menciptakan narasi alternatif tentang pembangunan, narasi yang tidak hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan juga pada keberlanjutan hidup.[]

Penulis :
Tharischa Via Zulkarnain, mahasiswa Ilmu Politik, FISIP Universitas Bangka Belitung

Editor :
Yeddi Alaydrus