ADHD : Sejarah, Karakteristik dan Cara Penangananya

Oleh : Suci Salmiyatun*

ADHD merupakan istilah baru, akan tetapi keberadaanya sudah ada sejak lama. ADHD pertama kali dikemukakan oleh George F. Still dalam penelitianya terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu “ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian, gelisah, dan resah”. Ia berpendapat bahwa anak-anak tersebut memiliki kekurangan yang serius dalam hal kemauan yang berasal dari bawaan biologis. Menurut Baihaqi dan Sugiarman gangguan tersebut disebabkan oleh sesuatu didalam diri anak dan bukan karena faktor lingkungan.

Pada awalnya ADHD (Attention Dicifult Hyperactivity Disorder) dikenal dengan istilah “brain injured child syndrome” yang terkadang dikaitkan dengan “retardasi mental” (terbelakang mental) hal ini dikemukakan berdasarkan epidemi enchepalitis (peradangan otak yang menyebar keseluruh dunia yang terjadi sejak tahun 1917-1926.

Kemudian pada tahun 40 dan 50-an, istilah ini berganti menjadi “minimal brain damage” (MBD) kerusakan otak minimal dan “minimal brain dysfunction” (DMO) disfungsi minimal otak. Pada akhir tahun 50-an ADHD disebut dengan hiperkinesis yang biasanya ditunjukkan terhadap lemahnya penyaringan stimuli yang masuk dalam otak. Istilah tersebut mendefinisikan sindrom anak hiperaktif, yaitu gerak yang berlebihan digambarkan sebagai ciri utama ADHD. Namun teori ini dibantah dengan pendapat bahwa selain hiperaktif, rendahnya perhatian dan kontrol gerak juga merupakan gejala utama ADHD yang dikemukakan pada tahun 70-an.

Pengertian ADHD (Attention Dicifult Hyperactivity Disorder)
Attention Dicifult/Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah istilah yang diberikan untuk anak-anak, remaja, dan beberapa orang dewasa, yang kurang mampu memperhatikan, mudah dikacaukan, dengan over aktif, dan juga impulsif. ADHD merupakan suatu gangguan neurobiologi, dan bukan penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik.

Baca Juga :  6 Rekomendasi Laptop untuk Mahasiswa Harga 5 Jutaaan

Menurut Barkley ADHD adalah hambatan untuk mengatur dan mempertahankan perilaku sesuai peraturan dan akibat dari perilaku itu sendiri. Gangguan tersebut berdampak pada munculnya masalah untuk menghambat, mengawali, maupun mempertahankan respon pada suatu keadaan. Pengertian tersebut didukung oleh hasil observasi yang dipimpin Russell Barkley dkk. yang menggambarkan ADHD sebagai ketidakmampuan untuk, menghambat, bukan ketidakmampuan memperhatikan dalam diri mereka.

Anak ADHD yang tidak mampu melakukan pengerman, maka mereka :
a. Tidak mapu menahan gangguan : kurang memperhatikan
b. Tidak mampu mengontrol pemikiran : impulsif
c. Tidak mampu mengontrol tindakan seperti gangguan atau pikiran hiperaktif

ADHD dibagi menjadi tiga subtype: tipe predominan tidak adanya perhatian, tipe predominan hiperaktif/impulsive dan tipe kombinasi yang ditandai oleh tidak adanya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas tingkat tinggi.

Karakteristik ADHD
Kriteria ADHD kurang perhatian paling sedikit mengalami enam atau lebih gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit enam bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan perkembangan. Gejala tersebut diantaranya adalah
1. gagal memerhatikan baik baik terhadap sesuatu yang detail,
2. mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian,
3. seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung,
4. tidak dapat mengikuti baik-baik suatu intruksi,
5. mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan
6. seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar

Pada ADHD hiperaktif mereka seringkali gelisah dengan tangan dan kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi, sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainya dimana diharapkan anak tetap duduk, sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi dimana hal ini tidak tepat, serta sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan seggang secara tenang.

Baca Juga :  Ini Sosok Pelaku Penendang Sesajen di Gunung Semeru

Sementara ADHD impulsif mereka sering memberikan jawaban sebelum pertanyaan seleseai, sering mengalami kesulitan menunggu giliran, sering menginterupsi atau menganggu orang lain seperti memotong pembicaraan atau permainan.

Faktor-Faktor Penyebab ADHD
Beberapa ilmuwan yakin bahwa ADHD bukan disebabkan oleh kerusakan otak atau alergi makanan. Beberapa hipotesis penelitian menyebutkan penyebab dari ADHD adalah:
a) keturunan/ faktok genetik, sebagian anak yang menderita DHD memiliki kerabat yang tampaknya memiliki gejala serupa.
b) Defisit neotransmiter, dua neotransmiter pada otak tampaknya berperan dalam regulasi jumlah pembangkitan dan perhatian. Konsumsi obat mempengaruhi regulasi keduanya.
c) Kelambatan perkembangan sistem pembangkitan diotak, pengobatan stimulan meningkatkan pembangkitan dan perhatian, ada beberapa indikasi bahwa kemungkinan anak-anak ADHD menderita kelambatan pembangkitan yang membuat mereka tidak sensitif terhadap rangsang yang datang.
d) Perkembangan otak yang abnormal, tidak berfungsinya lobus frontal.

Jenis Penanganan ADHD
ADHD merupakan gangguan yang bersifat heterogen dengan manifestasi klinis beragam. Hingga saat ini belum ada satu jenis terapi yang dapat diakui untuk menyembuhkan anak dengan ADHD secara total. Namun ada beberapa terapi yang dapat diberikan bagi anak dengan ADHD seperti pemberian obat, diet, latihan , terapi perilaku, terapi kognitif dan latihan ketrampilan sosial serta psikoedukasi kepada orang tua, pengasuh serta guru yang sehari-hari berhadapan dengan anak tersebut.

Baca Juga :  Partisipasi Masyarakat dan Pendidikan Politik, Benteng Terhadap Politik Uang

Penanganan rehabilitasi medik pada anak dengan ADHD dapat berupa terapi okupasi yang terdiri dari terapi relaksasi,terapi perilaku kognitif, terapi sensori integrasi, terapi snozellen, dan terapi musik. Terapi relaksasi adalah terapi terapi yang menggunakan kekuatan pikiran dan tubuh untuk mencapai suatu perasaan rileks.terapi ini bertujuan untuk dapat mengontrol ansietas, stres, ketakutan dan ketegangan, memperbaiki konsentrasi, meningkatkan kontrol diri, serta meningkatkan kreativitas.

Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang dengan mengubah perilaku seseorang dengan mengubah pemikiran dan persepsi terutama pola pikirnya. Terapi sensori integrasi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan proses sensori. Terapi sensori integrasi memberikan stimulasi sensori dan interaksi fisik untuk dapat meningkatkan integrasi sensori dan peningkatan kemampuan belajar dan perilaku.

Terapi snozellen dilakukan untuk memengaruhi sistem saraf pusat melalui pemberian rangsangan yang cukup pada sistem sensori primer (penglihatan, pendengaran, peraba, perasa lidah, penciuman) dan juga pada sistem sensori internal (vestibular dan prosprioseptif). Terapi musik merupakan terapi efektif dan alat edukasi untuk anak dengan ADHD sehingga dapat memengaruhi perubahan ketrampilan yang penting pada gangguan belajar atau perilaku. Musik dapat menstimulasi dan memfokuskan atensi terutama untuk orang yang tidak respon dengan intervensi lain. []

*Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Pendidikan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institul Islam Nahdlotul Ulama (INISNU) Temanggung, email : sucisalmiyatun@gmail.com

banner 300250