Bagaimana Konsep Pendidikan Menurut Hasan Langgulung?

Pendidikan merupakan pilar peradaban suatu bangsa, artinya pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk generasi bangsa untuk meningkatkan kehidupannya. Karena bangsa dan peradaban merupakan produk pendidikan, kegagalan suatu bangsa dan hancurnya peradaban merupakan kegagalan dunia pendidikan. Diasumsikan bahwa pendidikan memiliki tujuan yang tepat untuk mencapai keberhasilan masyarakat yang diinginkan. Hal yang sama berlaku untuk orang Indonesia, yang tujuan pendidikannya untuk kemajuan negaranya diabadikan dalam undang-undang.

Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan keterampilan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bernilai, mencerdaskan kehidupan bangsa dan berupaya mengembangkan kesempatan peserta didik menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, warga negara yang cakap, kreatif, mandiri dan demokratis serta bertanggung jawab. Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia di atas adalah ingin menampilkan kepribadian yang ideal, setia dan berakhlak mulia. Ironisnya, banyak warga yang melakukan perbuatan asusila yang menyimpang dari ajaran agama, seperti seks.

Bagi manusia, filsafat sendiri merupakan aktivitas otak yang dapat menemukan pemahaman mendalam atas segala persoalan yang kita hadapi. Pemikiran juga dapat menguatkan dan memperkuat iman, hanya jika filsafat berbeda dengan ilmu agama, maka dalam ilmu ukuran rasional menjadi kebenaran dan agama bukanlah ukuran kebenaran. Salah satu tokoh pendidikan Islam yang memberikan kontribusi besar bagi pendidikan islam konsep pemikiran pedagogik yang dikemukakan oleh Hasan Langgulung beranggapan bahwa pendidikan adalah suatu proses spiritual, moral, intelektual dan sosial yang bertujuan untuk membimbing manusia dan memberikannya nilai-nilai ideal, asas-asas dan teladan hidup yang akan membimbingnya dalam mempersiapkan diri untuk hidup di dunia. kemudian.

Menurut Hasan Langgulung, tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk kepribadian seorang muslim, yaitu segala aspek kepribadian dan perilaku, aktivitas spiritual, falsafah hidup dan keyakinan yang menunjukkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Berdasarkan konsep pemikiran Hasan Langulung, beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah proses pewarisan nilai-nilai budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda untuk mempertahankan identitas budayanya sebagai pengikut masyarakat.

Baca Juga :  Begini Konsep Pendidikan Menurut Fazlur Rahman

Dengan kata lain, pendidikan memang merupakan warisan budaya yang harus dikembangkan dengan menggali potensi masyarakat.. Dengan demikian kesinambungan nilai-nilai yang ditransmisikan dari generasi tua ke generasi muda terjamin, sehingga selanjutnya dikembangkan dari generasi ke generasi sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing individu. Sedangkan menurut Hasan Langgulung, mengembangkan potensi dan mentransmisikan nilai-nilai tersebut berarti beribadah kepada Allah dengan mengembangkan dan memelihara sifat-sifat seseorang.

Seperti kutipan berikut : Tuhan telah memberikan manusia berbagai kemungkinan atau kemampuan yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan tersebut disebut dengan nama-nama indah Al-Asma al-Husna dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih (Al-Rahman), Penyayang (Al-Rohim), Maha Suci (Al-Qudus), Maha Hidup (AlHayy) dan lain-lain, dengan angka 99. Ibadah (ibadah) dalam pengertian umum berarti mengembangkan sifat-sifat tersebut pada manusia sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.

Maksud dari kutipan di atas adalah bahwa sifat-sifat Tuhan ini harus dikembangkan dan dipertahankan pada setiap individu dan masyarakat secara turun-temurun. Misalnya, Tuhan menyuruh manusia untuk berdoa kepada-Nya. Dalam hal ini manusia telah mengembangkan sifat-sifat Tuhan dalam kesucian yaitu Al-Qudus, sedangkan Ar-Rahman adalah Maha Penyayang yang artinya kita diperintahkan untuk saling mencintai. Dan seterusnya, karena sifat-sifat tersebut harus diwariskan kepada generasi melalui pendidikan.

Agar sifat-sifat Tuhan terwujud sebagai pewaris generasi, maka dorongan perilaku harus diberikan kepada generasi yang lebih tua agar siswa dapat merespon perbuatan tersebut. Misalnya, Tuhan memerintahkan manusia untuk berdoa kepadanya. Hasan Langgulung membedakan tiga motivasi perilaku, yaitu komponen pertama adalah ketaatan, dimana seseorang didorong oleh keinginan untuk menerima imbalan atau menghindari hukuman. Kemudian komponen kedua adalah recognition, yang dapat diartikan sebagai respect imitation, meniru seseorang yang dikagumi.

Baca Juga :  Etika dan Moral Menjadi Dasar Dalam Ilmu Pengetahuan

Apalagi komponen terakhir adalah pengakuan atau keyakinan, keinginan sendiri. Agar sifat-sifat Tuhan dapat diwujudkan dalam pewaris suatu generasi, generasi yang lebih tua harus didorong untuk bertindak dengan cara yang memungkinkan siswa untuk menanggapi tindakan tersebut. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat dipahami sebagai suatu usaha atau proses yang dilakukan guru bagi siswa untuk mengembangkan dan memberdayakan semua kemungkinan siswa, termasuk intelektual, spiritual, emosional, fisik, psikologis, sosial, dan lain-lain. untuk membuatnya lebih berguna. berdasarkan nilai – nilai keimanan, akhlak, nilai ibadah berdasarkan sumber keislaman Al-Qur’an dan Al-Hadits serta Ijtihad dalam kaitannya dengan pembinaan ulama.

Singkatnya, menurut Hasan Langgulung, pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan guru secara sadar dan penuh perhatian serta tanggung jawab kepada anak didiknya sehingga terjadi interaksi antara keduanya. Pemikiran Hasan Langgulung tentang Islam: Islam terdiri dari berjalan di jalan keselamatan dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan mengikuti semua aturan yang telah Dia tetapkan untuk mendapatkan kemakmuran dengan kepatuhan dan kepatuhan total.[]

Pengirim :
Aleyda Putri Azizah, Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan, email : aleydaputri6@gmail.com

banner 300250