Bagaimana Seharusnya Generasi Z Menilai Childfree?

Dewasa ini, istilah childfree seringkali terdengar dan menjadi trending topic di media sosial. Awal tahun 2023 lalu, selebgram Gita Savitri Devi menjadi perbincangan public terkait statemennya bahwa childfree adalah cara alami untuk awet muda, terlebih Gita menyampaikan bahwa baginya anak merupakan beban bagi pasangan suammi istri. “Not having kids is indeed natural anti-aging. Di kutip dari detikHealth, Gita menuliskan “You can sleep for 8 hours every day, no stress hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you have the money to pay for botox,” tulisnya.

Istilah Childfree, secara harfiah diartikan dengan “ bebas anak”, yang artinya kondisi tidak memiliki anak atau terbebas dari anak. Childfree juga dikenal dengan istilah voluntaru childlessnees atau pilihan untuk tidak memiliki anak secara sukarela. Memasuki era generasi Z, childfree dipakai untuk menggambarkan satu ideologi baru dalam rumahtangga, yaitu keputusan untuk tidak memiliki momongan dalam kondisi reproduksi yang normal. Badan Pusat Statistik Kesehatan Nasional mendefinisikan orang yang tidak memiliki anak secara sukarela (childfree) adalah mereka yang menyatakan tidak mengharapkan anak walaupun dalam keadaan reproduksi baik-baik saja. Dari kriteria ini sekitar enam persen wanita Amerika berusia lima belas hingga empat puluh empat tahun secara sukarela tidak memiliki anak (3.735 juta wanita Amerika) pada tahun 2006 hingga 2010.

Dalam perspektif feminisme, keputusan untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai hak asasi dan hak personal Perempuan. Artinya, Wanita mempunyai kebebasan penuh untuk memiliki atau tidak memiliki anak. Kedua, feminisme menganggap bahwa anak dan keturunan merupakan beban yang dapat menghilangkan hak-hak personal Perempuan, seperti kebebasan, hak belajar, hak bekerja, serta hak untuk mengekspresikan diri.

Fenomena childfree atau bebas anak ini diperkenalkan oleh feminis Amerika Shirley Radl dan Ellen Peck, yang dimulai di Palo Alto, California pada tahun 1972. Untuk melindungi hak-hak individu yang tidak ingin memiliki anak. Sh. Radl dan E. Peck memulai komunitas childfree pertama dan menamakannya “National Organization for Non-Parents”. Yang kemudian berubah nama menjadi “National Alliance For Optional Parenthood” dan berlanjut hingga tahun 1980-an. Komunitas ini berdiri sebagai pendukung childfree dan bertujuan untuk mendidik masyarakat tentang tidak menjadi orang tua sebagai pilihan gaya hidup yang valid dan mendukung orang yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Istilah childfree saat ini tengah menjadi topik hangat yang memenuhi berbagai media sosial diantaranya seperti Twitter dan Instagram. Tidak hanya dalam lingkup masyarakat awam saja, namun ternyata para selebriti juga mulai mengungkap pilihan mereka untuk childfree. Di Indonesia wacana ini pertama kali muncul dan mulai di beritakan dari salah seorang muslimah yang juga seorang Youtuber terkenal bernama Gita Savitri Devi dan suaminya Paul Andre Partohap pada tahun 2021 yang saat itu memutuskan untuk tidak memiliki anak. Gita dan suami memutuskan childfree karena mereka menganggap bahwa memiliki keturunan bukanlah sebuah kewajiban, dan Gita mengungkapkan bahwa finansial, pendidikan, kebudayaan dan alasan kesehatan semuanya menjadi acuan dari gagasannya untuk melakukan childfree. Sejak saat itu, pilihan hidup childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak mengalami peningkatan khususnya pada generasi milenial di Indonesia.

Baca Juga :  Universitas Syiah Kuala Resmi Dirikan Lembaga Pendamping Proses Produksi Halal

Faktor yang Mempengaruhi Individu untuk Memilih Childfree

Perubahan pola Masyarakat, gaya hidup, dan perkembangan teknologi yang begitu pesat seringkali menjadi latarbelakang seseorang untuk memilih childfree. Cinta Laura Kiehl salahsatunya yang menilai bahwa kondisi bumi yang overpolulation menjadikan seseorang harus berfikir ulang untuk memiliki anak. Ia berpendapat orientasi “ keturunan “ bukan hanya dengan melahirkan dan memiliki anak, tapi merawat anak- anak terlantar, mengadobsi mereka, memenuhi kebutuhan mereka merupakan sebuah cara untuk menekan overpopulation. Alasan lain diungkapkan oleh Romizawa, anggota Indonesia Childfree Community. Ia mengungkapkan gaya hidup Masyarakat jepang yang dinamis, aktif dan berkemajuan bermula dari keputusan mereka untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak. Budaya produktif tersebut tentu memberikan pengaruh besar pada kehidupan manusia, menurutnya.

Corinne Maier membagikan alasan orang-orang childfree dalam lima kategori yang ditulis dalam bukunya No Kids: 40 Reasons For Not Having Children, yaitu:

a. Internal

Keputusan childfree ditemukan karena kekhawatiran individu akan efek pada tubuh yang timbul setelah hamil dan melahirkan. Seperti khawatir dengan penambahan berat badan, stretch mark, payudara terkulai, hiperpigmentasi di wajah, otot pinggul yang lebih longgar yang menyebabkan kenikmatan seksual berkurang, wasir, inkontinensia urin, kematian dan lain-lain. Alasan lain ialah Mereka menganggap memiliki anak akan menghambat proses pekerjaan mereka yang mana mereka harus setiap hari menyiapkan segala sesuatu kebutuhan anak, suami dan dirinya sendiri.

b. Psikologis

Keputusan childfree terkadang didasari oleh pengaruh psikologis, kesiapan mental, dan kondisi traumatic yang ia alami. Terkadang seseorang memilih untuk childfree karena dipicu oleh rasa takut atau kecemasan akan masa depan.

c. Ekonomi

Alasan ekonomi merupakan alasan yang paling realistis. Jika dilihat dari biaya yang diperlukan untuk melahirkan dan membesarkan seorang hingga dewasa. Sebab kebutuhan otomatis akan semakin meningkat dengan memiliki anak.

Baca Juga :  Pentingnya Berorganisasi Bagi Mahasiswa untuk Meningkatkan Potensi Diri

d. Alasan Prinsip

Alasan filosofis ini menyangkut prinsip kehidupan yang dianut seseorang. hal ini muncul karena cara berpikir atau pandangan seseorang tentang kehidupan. Sebagian orang berpikir waktu dan uang yang dia miliki dapat diinvestasikan untuk tujuan sosial yang tidak hanya untuk membesarkan anak saja. Tetapi lebih memilih menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk kegiatan mereka, seperti membantu anak-anak yang berkekurangan, membantu anak-anak yang tidak dapat pendidikan yang layak.

Childfree dalam Pandangan Islam

Berkeluarga dan memiliki keturunan merupakan anugrah dari Allah kepada orangtua. Anak merupakan ikatan antara suami dan istri, yang juga dapat meningkatkan komitmen, tanggungjawab dan kasih sayang dalam perkawinan. Islam menanggapi childfree dengan menjelaskan tentang keutamaan anak dan keturunan. Proseedings of the International Conference on Social dan Islamic Studies 2021 menunjukkan bahwa childfree dalam Islam bertentangan dengan hadits maupun al-qur’an.

Childfree berisi ajakan untuk tidak memiliki anak, sedangkan Rasulullah memerintahkan untuk memiliki banyak keturunan.

Pertama :

والله جعل لكم من أنفسكم أزواجا وجعل لكم من أزواجكم بنين وحفدة ورزقكم من الطيبات

Artinya: Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu, serta menganugerahi kamu rezeki yang baik-baik. (QS An- Nahl : 72)

تزوجوا الودود والولود فاني مكاثر بكم الأمم

“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]

Kedua :
Hadits yang berupa doa Rasulullah SAW Kepada Anas bin Malik

اللهم اكثر ماله وولده وطل حياته واغفرله

“Ya Allah ! Banyakanlah hartanya dan anaknya, dan panjangkanlah umurnya dan ampunkanlah ia” [Derajad hadits ini Hasan]

Ketiga :

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اذا مات ابن أدم انقطع عنه عمله الا ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتقع به أوولد صالح يدعوا له .

“Dari Abu Hurairah : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila manusia itu telah mati maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan orangtuanya. ( HR. Muslim )

Generasi Z Memandang Childfree

Generasi Z perlu memahami bahwa childfree jika bertujuan untuk mematikan fungsi keturunan dan reproduksi maka haram hukumnya. Hal tersebut merujuk pada Keputusan Muktamar NU Ke-28 di PP Al-Munawwir di Krapyak Yogyakarta, 26-29 Rabiul Akhir 1410 H. jika tujuannya memperlambat reproduksi dan meunda kehamilan karena alasan selain udzur sya’I maka hukumnya makruh. Apabila penundaan ini disebabkan karena penyakit atau alasan- alasan medis yang lain, maka hal tersebut mubah dengan rekomendasi dari para ahli.

Baca Juga :  Tabung Gas Tiba-tiba Keluar Api, Rumah Nek Sapiah di Aceh Tamiang Ludes Terbakar

Maka, generasi Z perlu memahami bahwa fitrah manusia untuk melanjutkan generasi adalah sesuatu yang penting. Merujuk hasil putusan Muktamar ke 48 di Surakarta tentang ketahanan keluarga, childfree dinilai bertentangan dengan maqasid keluarga terutama keberlangsungan keturunan atau Hifdzu nasal. Muhammadiyyah berpendapat bahwa islam mendorong ummatnya untuk membangun keluarga Sakinah sesuai dengan amanat QS Ar-Ruum ayat 21. Dalam suarat ini terdapat beberapa nilai dan konsep keluarga Sakinah yang meliputi ajaran tauhid, fitrah berpasangan dan juga regenerasi keturunan.

Pertama, Memiliki Anak adalah Fitrah Manusia. Anak-anak adalah permata hati dan kebahagiaan bagi mereka yang masih berada dalah fitrah. Manusia memiliki hidup perpasangan dan melanjutkan keturunan. Anak merupakan Amanah dari Allah yang harus dijaga dan dipelihara secara baik. Childfree seringkali menilai bahwa memiliki anak merupakan beban yang dapat mengganggu karir dan cita-citanya.

Kedua, Memiliki dan mendidik anak termasuk sunnah. Anas bin Malik RA berkata ; “Rasulullah SAW memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang. Anak merupakan anugrah dari Allah yang kehadirannya dapat memberikan kebahagiaan bagi orangtuanya. Akan tetapi, anak juga bisa menjadi pintu ujian dan cobaan bagi orangtuanya apabila tidak dididik dengan tepat.

Ketiga, Banyak perintah untuk memiliki dan memperbanyak anak. “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku berbangga dengan kalian di hadapan para Nabi dihari kiamat“ HR Ibnu Hibban.

Keempat, Anak mendatangkan rizki, dengan izin Allah SWT. Dalam QS Al-Isra ; 13 disebutkan “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS Al-Isra’: 31)

Kelima, Anak adalah amal jariyah. Anak merupakan investasi dunia dan akhirat bagi orang tuanya. Dijelaskan dalam hadits

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عمله الا ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعوا له .

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim)[]

Penulis :
Putri Qurrata A’yun, Lc. MH, Afiliasi STITMA Yogyakarta, email : 20913063@alumni.uii.ac.id

banner 300250