Bahaya Sinar Ultraviolet Bagi Kesehatan Tubuh

Seperti yang kita ketahui Indonesia terletak pada garis khatulistiwa atau equator. Hal tersebut menyebabkan wilayah Indonesia memiliki dua musim yakni musim kemarau dan musim penghujan. Pada saat musim kemarau, cuaca akan menjadi lebih panas dikarenakan oleh paparan sinar matahari yang lebih terik dari biasanya. Sinar yang dipancarkan matahari terdiri dari beberapa sinar antara lain, sinar x, sinar inframerah, sinar ultraviolet, sinar kosmik, sinar gamma dan gelombang radio . Sinar matahari memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu manfaatnya bagi kesehatan yaitu vitamin D yang terkandung pada sinar matahari dapat mencegah terjadinya kerapuhan tulang atau sering disebut osteoporosis.Selain bagi kesehatan, sinar matahari juga bermanfaat dibidang ekonomi. Cahaya matahari akan dirubah menjadi energi listrik menggunakan sel surya.

Walaupun sinar matahari memiliki banyak manfaat, tidak dapat dipungkiri sinar matahari juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan tubuh. Jika kita berjemur sekitar pukul 8 hingga 10 pagi, sinar matahari masih berpengaruh baik untuk kesehatan. Sementara itu, paparan sinar matahari diluar jam tersebut akan berbahaya bagi tubuh. Apalagi jika terpapar sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet dalam waktu yang lama.

Ketika kita berkegiatan diluar ruangan dalam waktu yang lama terkadang kulit kita menjadi merah ataupun lebih gelap dari sebelumnya. Kondisi ini biasa disebut dengan sunburn atau kulit terbakar. Sunburn adalah masalah pada kulit yang disebabkan paparan sinar matahari berlebih dalam waktu yang lama. Gejala sunburn tidak terjadi secara langsung, kebanyakan akan muncul 4 jam setelah terpapar sinar matahari. Gejala yang sering terjadi yaitu kulit kemerahan, rasa hangat atau panas ketika disentuh, kulit terasa kering, gatal dan bahkan sampai mengelupas. Hal tersebut dikarenakan sinar ultraviolet yang masuk kedalam kulit telah merusak sel-sel.

Baca Juga :  Prokontra Ekspansi Mixue

Paparan sinar matahari juga memicu terjadinya kanker pada kulit. Berdasarkan Skin Cancer Foundation Statistic, satu dari lima warga Amerika mengalami kanker kulit semasa hidupnya. Di Indonesia sendiri penyakit kanker kulit memiliki persentase sebesar 7%. Bahkan penyakit kanker kulit masuk kedalam 15 besar kanker yang umum terjadi di Indonesia. Kanker kulit dapat disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet menembus lapisan kulit luar dan semakin lama masuk kelapisan yang lebih dalam lagi. Setelah masuk kelapisan terdalam, sinar ultraviolet mulai merusak sel-sel kulit yang sedang aktif membelah dan menimbulkan rusaknya DNA sehingga terjadi mutasi gen. Mutasi gen inilah yang menyebabkan sel mulai membelah tanpa terkontrol dan akhirnya memicu terjadinya kanker kulit.

Kanker kulit terdiri dari beberapa jenis, tetapi yang paling umum dijumpai ialah kanker kulit basal dan kanker kulit sel skuomosa. Pada kanker kulit basal biasanya sel kanker berkembang pada bagian tubuh yang sering terpapar sinar matahari. Sedangkan pada kanker kulit sel skuomosa, sel kanker akan menyebar pada bagian tubuh dalam. Walaupun jarang terjadi, terdapat juga kanker melanoma yang menyerang sel melanosit yaitu sel yang memberi warna pada kulit. Jika tidak segera diobati, kanker kulit ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker paru-paru atau bahkan berujung pada kematian.

Selain berbahaya bagi kulit, sinar ultraviolet juga berbahaya untuk kesehatan mata. Salah satu ganguan pada mata yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet yakni penyakit katarak. Menurut World Health Organization (WHO), terdapat 50 juta orang buta di seluruh dunia dengan penyebab kebutaan terbanyak 51% adalah katarak. Penyebab katarak kebanyakan berhubungan dengan diabetes melitus ,efek keturunan, merokok dan terpapar sinar ultravioet. Sinar ultraviolet yang langsung mengenai mata membuat lensa mata menjadi mengeruh sehingga terjadi katarak. Pada beberapa kasus katarak sinar ultraviolet dapat menyebabkan kebutaan total.

Baca Juga :  Setelah 3 Bulan, Kasus Baru Covid-19 di Indonesia Kembali Tembus 1.000

Gejala umum penyakit katarak yaitu penglihatan menjadi tidak jelas dan kabur. Lensa mata juga akan berubah buram dan tidak bening sehingga ketika ingin membaca harus membutuhkan cahaya yang terang. Jika seseorang telah merasakan gejala-gejala seperti diatas, alangkah baiknya segara untuk dikonsultasikan kepada tenaga ahli kesehatan. Kebanyakan masyarakat terlambat menyadari gejala awal tersebut sehingga pada akhirnya terdiagnosa katarak. Pada kondisi ini satu-satunya pengobatan hanya melalui operasi. Padahal jika mata hanya mengalami gejala awal maka masih dapat ditangani dengan memakai kacamata kesehatan.

Kita sebagai manusia pastinya tidak mungkin bisa menghindari paparan sinar matahari selamanya. Hal tersebut dikarenakan hampir semua aktivitas yang kita lakukan berada pada luar ruangan. Maka dari itu, perlu adanya suatu upaya untuk membatasi jumlah sinar ultraviolet yang dapat mengenai tubuh kita. Berikut ini beberapa upaya yang mempu meminimalisir paparan sinar matahari ke tubuh kita yaitu sebagai berikut.
1. Hindari berada di bawah sinar matahari ketika terik. Sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet dan berbahaya bagi tubuh ialah sekitar pukul 11 pagi sampai jam 4 sore.
2. Gunakan tabir surya (sunblock). Tabir surya dapat melindungi kulit dari sinar ultraviolet sekitar 2-3 jam saja. Maka dari itu, kita harus mengoles ulang secara berkala dan teratur agar sunblock dapat berkerja dengan maksimal melindungi kulit kita.
3. Gunakan kacamata hitam anti ultraviolet. Sinar matahari dapat menyebabkan katarak dan kerusakan permanen pada mata. Salah satu cara untuk melindungi mata dari sinar ultraviolet yaitu dengan menggunakan kacamata anti ultraviolet
4. Gunakan payung anti ultraviolet. Payung anti ultraviolet dapat meminimalisir tubuh dari paparan sinar ultraviolet. Kebanyakan dari kita melakukan aktivitas diluar ruangan, sehingga payung anti ultraviolet dapat digunakan.
5. Menggunakan pakaian tertutup. Beberapa jenis pakaian dapat memberikan perlindungan anti ultraviolet. Sebenarnya kain yang berwarna gelap memberikan perlindungan lebih baik dibandingkan yang berwarna terang.
6. Jangan berada di tempat yang memantulkan cahaya. Hindari pula tempat yang reflektif atau dapat memantulkan cahaya seperti air, pasir, kaca, dan jendela. Pantulan dari benda-benda tersebut juga dapat membahayakan tubuh.

Baca Juga :  Usaha Dibalik Penyembuhan Perekonomian Indonesia Ulah Pandemi Covid 19

Meskipun sinar ultraviolet dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan, bukan berarti kita harus menghindarinya selamanya. Sinar ultraviolet juga memiliki manfaat bagi kesehatan, asalkan paparannya tidak terlalu lama atau pada jam yang aman. Apabila kita sering beraktivitas di bawah terik matahari maka dianjurkan menerapkan upaya-upaya diatas agar terhindar dari masalah kulit atau gangguan kesehatan lainnya akibat paparan sinar ultraviolet yang berlebihan.[]

Pengirim :
Hanifa Rahma Islami, email : hanifarahmaman1kotasmg@gmail.com

banner 300250