Bangka Belitung : Penting Nyawa atau Tanah?

SEBUAH permasalahan yang cukup rumit terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, sebab sering terjadinya konflik persoalan mata pencahariaan. Sering terdengar kabar bahwa seringkali perseteruan antar masyarakat yang mencari nafkah di laut sebagai nelayan dan dengan masyarakat yang makan dari hasil timah, terutama yang mencari timah di laut. Para aktivis lingkungan juga sudah berulangkali mengupayakan masalah perusakan lingkungan yang dilakukan oleh para penambang timah, baik darat ataupun laut.

Namun, yang menjadi benteng besar dari rumitnya perjuangan lingkungan tadi adalah tentang masyarakat banyak. Kira-kira mana yang lebih penting mendahulukan lingkungan atau nyawa dan keluarga? Terdapat keistimewaan dari kedua aspek tersebut, baik lingkungan ataupun timah, yaitu :

Keindahan Alam Bangka Belitung

Bangka Belitung dengan anugerah yang luar biasa dari Tuhan lewat pantai yang tesebar luas di setiap daerah pulau ini, namun sekarang hanya tinggal beberapa yang masih bisa saksikan keindahan pantai itu. Para nelayan yang mencari nafkah di laut seringkali mengeluh terhadap rusaknya laut yang disebabkan banyaknya KIP yang mulai menjajah wilayah laut, namun mereka tidak bisa banyak berbuat lebih.

PERGUB RZWP3K yang mengatur zonasi wilayah pulau-pulau kecil awalnya memang sedikit membuat tenang, sayangnya berjalan waktu peraturan masih bisa dilanggar oleh beberapa oknum. Bangka Belitung juga memiliki keindahan alam di sektor perkebunan, terutama kebun sahang dahulunya. Sekarang kita hanya bisa melihat semua kebun sawit yang secara kajian lingkungan bukan lagi tumbuhan perkebunan, melainkan tumbuhan industri.

Sumber Daya Alam Timah

Bukan tidak dapat dibantah lagi bahwa Bangka Belitung sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia dengan hampir 90%. Masyarakat yang dahulunya bekerja sebagai petani atau berkebun sudah banyak yang berpindah mata pencaharian sebagai penambang timah inkonvensional.

Baca Juga :  Peranan Tambang Inkonvensional Sebu dalam Memenuhi Kebutuhan Masyarakat Babel

Para penambang TI ini seringkali mendapat kecaman karena merasa merusak lingkungan dengan menanbang di sekitar wilayah pemukiman, bahkan sampai kelaut. Tapi jika dipikir-pikir, saat ini banyak masyarakat Bangka Belitung yang hidup dari hasil timah, dan tidak bisa dibohongi banyak para mahasiswa yang saat ini berkuliah hasil dari keluarganya sebagai penambang TI.

Lingkungan dan Timah

Ada 2 tipe masyarakat yang mencari nafkah di bumi Serumpun Sebalai yang sama-sama dari alam, bedanya salah satu dari mereka dengan cara mengerus lingkungan hingga rusak. Jika kita tanya kepada nelayan pasti mereka mengatakan harus menjaga lingkungan karena ini adalah anugerah Tuhan, tapi jika kita beralih ke masyarakat penambang tentang menjaga lingkungan kita hanya akan mendapatkan sebuah penolakan.

Sudah jelas, namanya masyarakat mendapatkan uang pada hari ini menjadi semakin melebarnya wilayah-wilayah tambang di darat dan laut, yang semakin mengancam lingkungan. Dilemanya kita juga tidak bisa memaksa bagaimana menjaga lingkungan itu untuk saat ini, karena kita belum bisa kembali mengubah peradaban timah ini menjadi perababan rempah seperti dulu nya Bangka Belitung.

Pentingnya nyawa atau tanah menjadi sebuah pertanyaan yang masih sangat berat untuk terjawab di kehidupan masyarakat saat ini. Keduanya sama-sama mencari nafkah dengan hasil alam dengan cara yang berbeda. Tapi kita perlu ingat, setiap perusakan yang terus digerus bakal bisa habis karena timah bukan sumber daya alam yang bisa dihasilkan terus menerus. Lingkungan selalu memberikan kita kehidupan dengan syarat kita menjadikannya dengan sebaik-baiknya. []

Pengirim :
Ahmad Raihan Ardana S
Mahasiswa Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bangka Belitung
Email : ahmadraihanardana@gmail.com

banner 300250