Bengong Is the New Mindfulness? Saat Generasi Milenial-Z Menemukan Damai dalam Diam

Opini0 Dilihat

Di tengah hiruk-pikuk digital, notifikasi yang tak pernah tidur, dan tekanan untuk terus produktif, ada satu tren menarik yang mulai mencuat di kalangan Generasi Milenial dan Z yaitu bengong. Sekilas terdengar sepele, bahkan seringkali dianggap sebagai tindakan “nggak ngapa-ngapain” yang tak berguna.

Bengong padahal kegiatan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang sudah memasuki masa pensiun. Tapi, siapa sangka, bengong kini jadi bentuk perlawanan halus terhadap dunia yang terlalu cepat dan sedang digemari oleh generasi muda Milenial dan Z.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Generasi Milenial dan Z hidup di era hiperinformasi setiap hari mereka dibanjiri dengan berita, tren, dan tuntutan untuk selalu “ikut zaman”. Stres, burnout, dan krisis eksistensial menjadi masalah yang sering muncul bahkan sejak usia muda. Maka, bengong menjadi sejenis katarsis. Sebuah momen jeda.

Saat di mana kepala tidak harus memikirkan target, algoritma, atau validasi dari dunia maya. Ada juga orang-orang mengikuti tren bengong dengan mengunjungi tempat-tempat yang sedang ramai karena sekedar penasaran dengan suasananya dan tempatnya atau istilah yang biasa disebut dengan FOMO.

Dengan adanya fenomena ini, banyak taman atau tempat terbuka semakin hits atau ramai yang kini menjadi tujuan untuk tempat “bengong” atau sekedar menghabiskan waktu dari segala kesibukan.

Contohnya saja Hutan Taman GBK Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang berada di kawasan Blok M, dan masih banyak taman-taman lainnya yang semakin diperbarui menjadi estetik dan nyaman yang dilakukan oleh pengelola setempat.

Bengong di sini bukan semata-mata melamun tanpa arah, melainkan bentuk kontemplasi. Seperti jeda di antara kalimat, ia memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas. Banyak yang merasa setelah bengong, pikiran menjadi lebih jernih, ide-ide muncul, bahkan emosi terasa lebih seimbang.

Tanpa disadari, ini adalah bentuk mindfulness yang paling sederhana dan organik tanpa harus duduk bersila atau mengunduh aplikasi meditasi dan yang pastinya kegiatan ini tidak memerlukan biaya banyak, cukup dengan membeli kopi untuk menemani kegiatan bengong ini sambil menikmati suasa tempat sekitar.

Namun, tentu saja, tak semua bengong itu menyehatkan. Ada pula bengong yang lahir dari kelelahan mental yang ekstrem atau bahkan gejala awal gangguan psikologis, jika seperti ini haruslah berkonsultasi dengan ahlinya yaitu Psikolog atau Psikiater.

Tapi menariknya, tren ini justru membuka obrolan yang lebih jujur tentang kesehatan mental. Kini, orang lebih berani bilang, “Aku lagi butuh waktu buat bengong,” alih-alih memaksakan diri tampil prima di depan layar. Generasi muda saat ini memang lebih memikirkan tentang Kesehatan mental yang begitu sangat penting.

Tren ini juga memberi pelajaran penting yaitu tidak semua waktu luang harus diisi dengan produktivitas. Dalam bengong, Generasi Milenial dan Z menemukan ulang makna istirahat.

Mereka belajar bahwa diam bukan berarti malas, melainkan sadar. Sadar akan tubuh sendiri, emosi yang terpendam, dan ritme hidup yang perlu diseimbangkan supaya bisa Kembali beraktivitas dengan lancar dan semangat.

Mungkin, dalam dunia yang terlalu sibuk berbicara, generasi ini justru memilih diam untuk mendengar dirinya sendiri. Kita terlalu sering mengukur nilai seseorang dari produktivitasnya. Tapi siapa bilang diam itu tidak berarti? Justru dari diamlah muncul kreativitas, ketenangan, dan terkadang mendapat Solusi.

Bengong bukan simbol kemalasan. Ia bisa menjadi bentuk perawatan diri yang paling sederhana, tapi paling jujur. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menghakimi diri sendiri saat tak melakukan apa-apa. Karena bisa jadi, dalam diam itu, kita sedang menyembuhkan diri.[]

Penulis :
Lilis Nofiyatun, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang