Cegah Kasus Gagal Ginjal, Dilarang Mengonsumsi Obat Dalam Sediaan Sirup

Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kadar sakarosa (C12H22O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, atau polialkohol yang lain dalam jumlah sedikit, dengan maksud selain untuk menghalangi pembentukan hablur sakarosa, juga dapat meningkatkan kelarutan obat.

Untuk sementara waktu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menginstruksikan para tenaga kesehatan untuk tidak meresepkan obat-obat dalam bentuk sediaan cair atau sirup. Hal tersebut lantaran adanya kasus gagal ginjal akut misterius yang menyerang anak-anak. Karena obat dalam kemasan sirup mengandung cemaran etilen glikol yang melebihi ambang batas. Efek samping etilen glikol pada ginjal umumnya terjadi 24–72 jam setelah zat beracun tersebut masuk ke dalam tubuh, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Jika tertelan, etilen glikol awalnya memengaruhi sistem saraf pusat, kemudian sistem pernapasan, jantung, dan akhirnya ginjal.

Etilen glikol adalah anggota dari keluarga glikol (alkohol) yang berasal dari senyawa etilen. Zat kimia dengan rumus C2H6O2 ini bentuknya berupa cairan bening, rasanya manis, kental ketika dididihkan pada suhu 198 derajat Celsius. Etilen glikol merupakan bahan kimia yang ditemukan dalam berbagai produk rumah tangga dan industri otomotif, seperti minyak rem kendaraan, zat antibeku pada radiator kendaraan, detergen, dan cat dinding. Namun, senyawa kimia tersebut juga diketahui bisa saja terkandung dalam sediaan obat sirop, seperti paracetamol.

Berikut adalah 6 fakta penting terkait larangan peredaran dan konsumsi obat sirup dan cair di Indonesia yang wajib Anda ketahui :

1. Berlaku untuk semua jenis obat sirup dan cair

Obat yang dilarang untuk diresepkan maupun dijual termasuk semua jenis obat dalam bentuk sirup atau cair, termasuk obat cair untuk dewasa, dan tidak terbatas pada obat paracetamol sirup saja. Larangan ini berlaku sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. “Setelah didiskusikan dengan seluruh pihak, sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, [larangan ini untuk] semua obat sirup atau obat cair, bukan hanya parasetamol,” ungkap Syahril.

Baca Juga :  Cegah Covid-19, Kodim 0117/Aceh Tamiang Gelar Vaksinasi di Manyak Payed

2. Komponen yang membuat obat sirup diduga jadi pemicu gagal ginjal

Kementerian Kesehatan hingga kini masih melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab pasti lonjakan kasus gagal ginjal anak. Namun, dugaan sementara adalah komponen untuk membuat obat menjadi sirup yang menjadi pemicunya. “Ini diduga bukan kandungan obatnya saja, tapi komponen lain yang menyebabkan terjadi intoksikasi,” ungkap Syahril. “Data sementara yang sudah kami olah dari Januari sampai 19 Oktober, ada 71 kasus terlaporkan. Kemudian yang meninggal sejak Januari ada 40 anak,” ucap Kepala Dinkes DKI Jakarta Widyastuti di Labkesda DKI, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (20/10/2022) seperti dikutip dari Tribun Jakarta.

3. Obat alternatif selain sirup

Selama larangan peredaran obat sirup berlaku, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk dapat menggunakan obat alternatif dalam bentuk sediaan lain seperti tablet, kapsul, suppositoria (anal), injeksi (suntik), atau lainnya. Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Yanuarso menyebut orang tua bisa memberikan kompres hangat yang lebih aman atau pemberian parasetamol melalui anus jika diperlukan. Dia juga mengingatkan orang tua untuk tidak cepat panik ketika anak mengalami batuk, pilek, dan demam. Sebab, itu adalah mekanisme bentuk pertahanan tubuh untuk mengusir virus.

4. Ada pengecualian untuk obat sirup kering

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, sirup kering adalah jenis obat sirup yang dikecualikan dalam larangan tersebut sehingga masih dapat dikonsumsi oleh masyarakat. “Ada juga (jenis obat) sirup kering yang (harus) diencerkan pakai air di rumah. Itu (sirup kering) bisa digunakan,” jelas Nadia ketika dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (20/10/2022). Dilansir dari laman resmi Kemenkes, sirup kering adalah obat serbuk (biasanya dalam kemasan botol) yang harus dilarutkan terlebih dahulu dengan air mineral sampai batas tanda tertentu. Jika tidak terdapat petunjuk tanda batas, konsumen bisa meminta bantuan apoteker untuk melarutkan sirup kering tersebut menggunakan gelas ukur. Suspensi atau larutan dalam sirup kering biasanya mengandung antibiotik, harus dihabiskan, dan hanya dapat digunakan maksimal 7 hari setelah dilarutkan. Jenis obat sirup kering masih diizinkan untuk dikonsumsi karena tidak menggunakan zat pengencer obat yang diduga menjadi pemicu cedera ginjal akut pada anak.

Baca Juga :  Asap Rokok Ancam Gizi Anak di Indonesia

5. Kemenkes beli obat penawar racun dari Singapura

Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Kesehatan telah membeli obat penawar atau antidotum dari Singapura untuk diberikan kepada pasien gagal ginjal akut yang masih mendapat perawatan di fasilitas kesehatan. Dr. Lies, Direktur Utama (Dirut) RSCM mengatakan pihaknya membeli 10 vial obat penawar tersebut setelah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan. Obat sudah tiba di Indonesia pada Selasa (18/10/2022) dan langsung diberikan kepada pasien yang dirawat di RSCM. “Hasilnya kita tunggu dulu karena baru dua hari (obat diberikan kepada pasien) jadi kita belum bisa menyampaikan secara pasti (hasilnya) walaupun sebagian menunjukkan perbaikan,” paparnya, dalam konferensi pers.

6. Jika alami gejala, informasikan riwayat penggunaan obat pada petugas kesehatan

Orang tua yang memiliki anak balita dengan gejala penurunan jumlah air seni dan frekuensi buang air kecil dengan atau tanpa demam, diare, batuk pilek, mual dan muntah untuk segera dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat. Orang tua harus selalu hati-hati, pantau terus kesehatan anak-anak kita, jika anak mengalami keluhan yang mengarah kepada penyakit gagal ginjal akut, sebaiknya segera konsultasikan ke tenaga kesehatan jangan ditunda atau mencari pengobatan sendiri,” kata Plt. Direktur Pelayanan Kesenatan Rujukan dr. Yanti Herman, MH. Kes. Pastikan bila anak sakit cukupi kebutuhan cairan tubuhnya dengan minum air. Lebih lanjut, gejala lain yang juga perlu diwaspadai orang tua adalah perubahan warna pada urine (pekat atau kecoklatan). Bila warna urine berubah dan volume urine berkurang, bahkan tidak ada urine selama 6-8 jam (saat siang hari), orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut atau menginformasikan obat yang dikonsumsi sebelumnya, dan menyampaikan riwayat penggunaan obat kepada tenaga kesehatan.

Baca Juga :  14.452 Warga Aceh Tamiang telah Jalani Vaksinasi Dosis Kedua

Dari semua berita yang sedang tranding di media sosial tentang larangan mengonsumsi obat sediaan sirup karena peningkatan kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak-anak. Saya sebagai mahasiswa farmasi setuju mengenai larangan mengomsumsi obat sediaan sirup untuk semestara ini karena obat dalam kemasan sirup mengandung cemaran etilen glikol yang melebihi ambang batas. Efek samping etilen glikol pada ginjal umumnya terjadi 24–72 jam setelah zat beracun tersebut masuk ke dalam tubuh, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Jika tertelan, etilen glikol awalnya memengaruhi sistem saraf pusat, kemudian sistem pernapasan, jantung, dan akhirnya ginjal. Hal tersebut lantaran adanya kasus gagal ginjal akut misterius yang menyerang anak-anak saat ini. Menurut saya sebaiknya obat dalam sediaan sirup seharusnya diteliti bukan hanya produk-produk lama, melainkan juga produk-produk baru sebelum akhirnya diperbolehkan kembali untuk dikonsumsi anak-anak.[]***

Pengirim :
Sri Wahyuni Mahasiswa Jurusan Farmasi UMM, email : sriwahyuni4775434@gmail.com

banner 300250