Cinta dan Iman: Kesejukan yang Terpancar dari Tanah Palestina

Oleh : Yelis Nur Wahidah*

Di tengah hiruk-pikuk konflik yang melanda, Palestina menawarkan kekayaan cinta dan iman yang menyejukkan hati. Lebih dari sekadar medan perjuangan perebutan wilayah kekuasaan, Palestina adalah kisah tentang bagaimana cinta dan iman dapat menjadi sumber kekuatan bagi penduduknya. Palestina, tanah suci yang kaya sejarah dan keagamaan, bukan hanya menjadi medan konflik, tetapi juga menghidupkan jalan keimanan yang menakjubkan. Di tengah konflik yang melanda, Palestina mengajarkan kepada dunia bahwa keimanan adalah sumber kekuatan yang tak terbatas, yang dapat membawa ketenangan di tengah cobaan.

Cinta Sebagai Pengikat Komunitas

Cinta di Palestina tidak hanya berkisar pada hubungan individu, tetapi juga perekat yang mengikat seluruh komunitas. Solidaritas dan gotong-royong menjadi pondasi yang membangun kehidupan bersama, memastikan bahwa setiap orang dianggap sebagai bagian dari satu keluarga besar yang saling mendukung dan melindungi. Inilah tanah pilihan, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menetapkan keberkahan tanah Palestina (bagian dari Syam). Keberkahannya ini dapat diingat kembali, misalnya Syam menjadi tempat hijrah Nabi Ibrahim a’laihissalam, tempat singgah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjalankan Isra dan Mi’raj, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al-Israa [17]: 1)

Baca Juga :  2.990 Peserta SNBP Lulus di Universitas Syiah Kuala

Keberkahan lain yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan atas Palestina (sekelilingnya) yaitu merupakan tempat dakwahnya para Nabi dengan misi agama tauhid serta keberadaan kiblat pertama kaum muslim (Masjidil Aqsha) di tanah Palestina.

Cinta pada Tanah Air

Cinta pada tanah air di Palestina tidak dapat diukur dengan kata. Setiap bukit, lembah, dan pohon memiliki kisah yang dalam tentang kehidupan (perjuangan). Cinta tanah air merupakan fitrah, di mana setiap individi tidak akan mampu melupakan tempat kelahirannya. Kondisi ini bisa dilihat dari penduduk Palestina yang mencintai tanah mereka dengan penuh perjuangan walaupun nyawa taruhannya, hidup terbiasa dengan suara tembakan, ledakan bom yang bisa terjadi kapan saja tidak menjadikan mereka meninggalkan negeri kelahirannya, tetapi tetap bertahan di atas keimanan dan kekuatan do’a yang dipanjatkan, sebagaimana Nabi Ibrahim pernah berdoa kepada Allah untuk negeri yang didiaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa: Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari berbagai jenis buah-buahan kepada penduduknya, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 126)

Cinta dalam Perjuangan

Perjuangan panjang yang dihadapi masyarakat Palestina menjadi ajang di mana cinta akan keadilan dan kebebasan membimbing setiap langkah. Meskipun terjebak konflik yang kompleks, cinta pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan terus menjadi api yang menyala dalam hati setiap individu yang tinggal di Palestina. Sekarang kita dikagumkan sosok pejuang palestina yang dikenal Abu Ubaidah, walaupun masih menjadi misteri tetapi keberaniannya patut dicontoh karena dianggap menjadi salah satu simbol perlawanan Palestina terhadap agresi, penjajahan (makar) dilakukan Israel dan zionis. Cinta dalam perjuangan, keimanan yang kuat dan ketaqwaan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan pejuang Palestina tidak gentar dalam berjuang karena rahmat dan syahid yang diharapkan. ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga :  Program Sayur Gratis, Solusi Cegah Stunting

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” . (QS Al-A’raaf [7]: 56)

Iman sebagai Pilar Kekuatan

Iman adalah pilar utama di Palestina. Meskipun terjadi cobaan (penderitaan), penduduknya tetap menemukan kekuatan, ketenangan dalam keyakinan mereka. Masjid yang luluh lantah tidak menggoyahkan keimanan, pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa yang diucapkan dengan penuh kekhusyukan menjadi sumber kekuatan spiritual yang tidak tergoyahkan dalam berjihad melawan kedzaliman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.“(QS At-Taubah [9]:44)

Baca Juga :  Transformasi Gemilang Desa Kace, dari Lahan Tambang Menjadi Wisata yang Mempesona

Iman dalam Keragaman

Palestina bukan hanya diwarnai oleh konflik politik, tetapi juga merangkul keragaman iman. Kristen, Islam, dan Yudaisme hidup berdampingan, menciptakan mosaik spiritual yang memperkaya kehidupan. Toleransi dan keterbukaan menjadi wujud nyata dari iman yang berkembang dalam keragaman. Cinta dan iman, dua kekuatan spiritual yang terpancar dari tanah Palestina, mengajarkan kepada dunia bahwa ketenangan dan kebahagiaan bukanlah hasil dari kekayaan materi, tetapi dari kekayaan batin yang memancar dari hati yang penuh cinta dan keyakinan. Dengan kesejukan ini, penduduk Palestina memberikan pelajaran tentang kehidupan yang harmonis, saling mengenal antar suku dan bangsa kendati dihadapkan pada tantangan konflik yang berat. Sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa  dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Q.S Al-Hujurat [49]: 13)[]

*Penulis adalah Afiliasi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madani Yogyakarta, email : yelisnurwahidah@gmail.com

banner 300250