Harapan Ekonomi Digital Indonesia

Oleh : Joko Yuliyanto*

Pandemi dan ekonomi. Setidaknya dua hal tersebut yang menjadi dilema semua negara di dunia. Pandemi berkaitan dengan kemanusiaan (kesehatan), sedangkan ekonomi adalah pondasi kemajuan bangsa. Ketika dampak pandemi menyebar ke seluruh negara, yang lebih cepat memulihkan ekonomi domestik akan digadang menjadi raksasa ekonomi dunia.

Wacana kesiapan Indonesia menjadi negara maju sudah diagendakan beberapa tahun ke belakang. Pemerintah mulai membatasi ketergantungan terhadap ekspor komoditas (mentah) dengan meningkatkan peran industri manufaktur. Selain itu, pembangunan infrastruktur secara masal juga bentuk dukungan pemerintah yang mempunyai efek multiplier dalam perekonomian nasional.

Menariknya, ketergantungan kemandirian ekonomi di Indonesia tidak tersentral pada kapitalisasi perusahaan tertentu. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah punya andil menyumbang sekitar 60 persen dari PDB Indonesia dan menciptakan lapangan kerja hampir 108 juta orang Indonesia. Namun demikian, seringkali pertambahan potensi memproduksi lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya. Sehingga perkembangan ekonomi lebih lambat dari potensinya.

Era modern, indikator pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada faktor produksi konvensional (penambahan kapital dan kualitas SDM). Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) menjadi faktor fundamental kemajuan ekonomi negara. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah harus menyusun strategi kebijakan yang mendorong inovasi. Fokus alokasi anggaran negara untuk kemajuan industri teknologi digital.

Perlu diketahui bahwa ekonomi digital Indonesia memiliki valuasi di atas USD130 miliar dan menjadikan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Pada 2019, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai USD40 miliar. Sedangkan 2020, valuasi ekonomi digital Indonesia naik dari USD40 miliar menjadi USD44 miliar. Tahun 2025, valuasi ekonomi digital Indonesia diprediksi akan tembus USD130 miliar atau Rp1.820 triliun (jika kurs 14 ribu/ USD).

Baca Juga :  Indahnya Ramadhan dengan Berburu Takjil dan Berburu Lailatul Qadar

Potensi sumber daya (bonus demografi) yang dimiliki Indonesia membangkitkan optimisme mengenai masa depan ekonomi nasional. Meskipun bukan satu-satunya parameter kemajuan negara, namun ekonomi merupakan bidang strategis pembangunan fisik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Industri 5.0

Dunia akan segera menyambut kehadiran Industri 5.0 yang semula diprediksi 20 tahun setelah era 4.0 ternyata akan muncul lebih cepat. Pemanfaatan teknologi telekomunikasi 5G disertai masifnya platform digital Over TheTop menjadi pemicu hadirnya Industri 5.0.
Saat Industri 4.0, karakter penekanan pada revolusi digital berupa cyber physical.

Aplikasi karakter penekanan pada revolusi industri 5.0 akan lebih tertuju kepada peran manusia sebagai pusat peradaban. Tidak hanya menekankan relasi machine to machine dan efektivitas robot, tetapi juga relasi human to machine dan sebaliknya. Kehadiran Industri 5.0 bertujuan menciptakan keseimbangan antara kemajuan teknologi digital, kemajuan ekonomi paralel dengan penyelesaian masalah sosial.

Pembangunan Iptek dengan pembangunan ekonomi bisa terjadi ketika teknologi yang dihasilkan dapat mendukung kegiatan ekonomi. Kemajuan perekonomian dan peningkatan persaingan bisnis akan selalu menciptakan kebutuhan teknologi baru. Pengembangan teknologi perlu berorientasi pada kebutuhan atau persoalan nyata seputar ekonomi (demand-driven).

Pemerintah perlu terlibat dalam proses pengembangan teknologi termasuk kebijakan yang mendukungnya. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang bertujuan agar masyarakat Indonesia bisa menikmati akses internet cepat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia. Keberadaaan infrastruktur akan semakin berpengaruh terhadap posisi Indonesia sebagai pemimpin ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik.

Setelah menyelesaiakan problem mendasar seputar akses internet, pemerintah perlu menekan kualitas sumber daya manusia dalam menguasai lini teknologi. Saat ini untuk menunjukan eksistensi kemajuan bangsa dapat dilihat dari seberapa besar kekuatan menguasai data digital dunia. Penjajahan tidak lagi dilakukan dengan cara tradisional seperti menguasai sumber daya alam suatu negara.

Baca Juga :  Kepopuleran Toko Online dan Dampaknya Terhadap Toko Offline

Kecanggihan industri 5.0 memudahkan sistem pengumpulan (data collection) menjadi lebih efektif dan efisien. Tidak lagi menggunakan survei dan kuisioner, pengumpulan data bisa dilakukan dengan self-collected data dan self-reported data. Data merupakan senjata untuk menguasai sebuah sistem dan “penaklukan” secara intelektual digital sebuah negara.

Ketika bisa menghimpun data secara global, data bisa diolah dan dianalisis dengan metodologi tertentu. Manfaatnya bukan hanya memberikan informasi (descriptive), namun dapat digunakan untuk meramalkan tren atau pola yang akan terjadi (forecasting). Bisa juga digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi (predictive), hingga dapat digunakan untuk mengarahkan sesuatu hal yang akan terjadi (directive).

Industri 5.0 bisa menjadi peluang bagi negara yang memanfaatkan, namun juga bisa menjadi ancaman bagi negara yang tidak segera mempersiapkan. Harapan terhadap ekonomi digital Indonesia selalu muncul di tengah ombang-ambing ketidakpastian pandemi Covid-19.[]

*Penulis adalah Penggagas Komunitas Seniman NU. Esais, alumni Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret – Kota Surakarta, email : jokoyuliyanto38@gmail.com

banner 300250