Implementasi Pancasila sebagai Wujud Hubbul Wathon Minal Iman

Oleh : Jamaludin Ni`am*

Ideologi Pancasila tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur masyarakat, bentuk masyarakat majemuk, baik suku, bahasa, budaya, bahkan agama yang kemudian diikat menjadi satu. Dengan keragaman itu, bangsa Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan bangsa lain, kehidupan yang terkandung di dalamnya memiliki banyak keunikan, sehingga bangsa Indonesia tidak luput dari tantangan dan ancaman.

Bangsa Indonesia Sebagai bangsa yang berfilsafat, falsafah ini memiliki makna bahwa seluruh unsur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan, yang disebut dengan Pancasila. Selain itu bangsa Indonesia juga memiliki ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila sering dikaitkan dengan nasionalisme bangsa Indonesia.

Rasa nasionalisme tentunya tidak lepas dari rasa cinta tanah air, Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga untuk menjaga eksistensi Pancasila tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan medan nasionalis saja, tetapi juga perlu dilakukan. diimbangi dengan aspek keagamaan yang memiliki pandangan luas tentang kehidupan sosial. Sehingga tidak terjadi perpecahan suatu bangsa.

Implementasi cinta tanah air diwujudkan oleh umat Islam, khususnya warga nahdliyin dengan julukan Hubbul Wathan Minal Iman. Secara linguistik Hubbul Wathon Minal Iman artinya : “hub” artinya cinta, “wathon” artinya tanah air (bangsa), “minal iman” artinya dari atau sebagian dari iman, jadi Hubbul Wathan Minal Iman adalah cinta tanah air sebagian dari iman. Sosok fikur yang digagas Hubbul Wathon Minal Iman adalah K.H. Abdul Wahab Chasbullah pada tahun 1934 H. Dan Hubbul Wathon Minal Iman dalam nasionalisme memiliki makna, yang disebtkan dalam lagu Syubbanul Wathon atau juga dikenal dengan Ya Lal Wathon.

Baca Juga :  Eksistensi Kepala Sekolah di Tengah Pandemi

Hubbul Wathon Minal Iman juga tidak lepas dari peran para ulama dan kiai nusantara khususnya tokoh NU selama perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah mencatat bahwa proses berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak lepas dari kaum nasionalis dan umat beragama yang mampu bersinergi dengan baik dengan pedoman yang benar dan tidak ada unsur yang menyimpang. Sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, pada dasarnya merupakan titik tolak untuk menyatukan kaum nasionalis dan umat beragama. Ikatan dalam penggunaan ideologi Pancasila merupakan cita-cita penting bagi warga negara Indonesia agar tidak terjadi perpecahan antar suku atau suku untuk menghadapi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan

Apa saja tantangan masyarakat di era sekarang ini? Salah satu tantangan bangsa Indonesia saat ini dipengaruhi oleh pengaruh globalisasi. Pengaruh globalisasi saat ini khususnya pada masyarakat milenial, jika tidak disikapi dengan baik dan seimbang, tentunya Indonesia akan berdampak pada hilangnya rasa bangga terhadap bangsanya sendiri, yang akan berakibat pada berkurangnya rasa cinta terhadap tanah air.

Bentuk yang dapat dijadikan indikator memudarnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air dapat dilihat dari perilaku masyarakat pertambangan masa kini. Kurangnya pemahaman masyarakat Minenial tentang budaya dan sejarah bangsa. Sehingga masyarakat pertambangan lebih bangga dengan budaya bangsa lain, lebih menyukai produk impor daripada produk dalam negeri, dan lebih percaya pada bangsa lain daripada bangsanya sendiri.

Implementasi Era Sekarang

Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat jika dengan hidup berdasarkan Pancasila dan menanamkan rasa cinta tanah air. Agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya yaitu ciri dan kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri yang mampu menjadi karakter bangsa Indonesia. Bentuk cinta tanah air dapat dilaksanakan oleh masyarakat saat ini dengan memperluas pemahaman tentang budaya dan sejarah bangsa Indonesia, dengan mewujudkan rasa cinta terhadap budaya sendiri dibandingkan dengan budaya bangsa lain, membeli produk dalam negeri dan saling percaya. di negara mereka sendiri lebih dari negara lain.

Baca Juga :  Demokrasi Pancasila: Etika Politik Pemilu 2024

Dalam mewujudkan pengamalan sila pertama Pancasila, masyarakat dilakukan untuk meningkatkan rasa toleransi terhadap sesama bangsa Indonesia. Toleransi itu baik dalam agama, budaya, opini, bahkan politik. Dengan adanya toleransi tentunya dapat mengurangi perselisihan bahkan konflik dalam masyarakat. Terciptanya toleransi bisa menjadikan indikator implementasi cinta tanah air dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[]

*Penulis adalah Mahasisawa HKI INISNU Temanggung, email : jamaludinniamredmi@gmail.com

banner 300250