Ini Beberapa Aliran Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan memberikan jawaban terhadap problem yang menantang manusia, yaitu jawaban atas ketidaktahuan tentang sesuatu. Bentuk dan wujud reaksi, kreasi, pemahaman, gagasan-gagasan mengenai prinsip, dan cita cita pendidikan tersimpul dalam pokok ajaran aliran filsafat pendidikan.

Karena telah banyaknya aliran filsafat pendidikan yang tumbuh dan berkembang, maka jika kita mengamati secara mendalam ada perbedaan dan segi teori dan praktik, yaitu berbeda dalam cara dan dasar pandangannya mengenai pendidikan. Perbedaan-perbedaan itu hanya dapat diketahui setelah dilakukan penelitian secara hati-hati dan mendalam berdasarkan klasifikasi yang ada.

Menurut Brameld, perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan dapat diketahui melalui aliran filsafat pendidikan progressivism, essentialism, perennialism, dan reconstructionism.

Aliran Progresifisme

Dalam pandangan Progresivisme, manusia harus selalu maju (progress) bertindak konstruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis. Sebab manusia mempunyai naluri selalu menginginkan perubahan-perubahan. Aliran ini memiliki konsep yang menganggap subjek manusia mampu menghadapi dunia dan lingkungannya. Tujuan pendidikan selalu diartikan sebagai pengalaman yang berkesinambungan dan progresif.

Sedangkan ciri negatifnya adalah sekolah ini bukanlah pendidikan otoriter dan mutlak dalam segala bentuknya seperti yang ada dalam agama, moral, politik, dan ilmu pengetahuan. Kemajuan harus diupayakan dengan memfungsikan jiwa sedemikian rupa sehingga menghasilkan dinamika lain dalam kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya menanamkan pengetahuan siswa, tetapi lebih penting dari itu. Yakni, melatih kemampuan berpikir dengan memberikan stimulasi secara ilmiah. Seperti kemampuan menganalisis untuk memilih secara rasional diantara beberapa alternative yang tersedia.

Baca Juga :  Peran Filsafat dalam Memahami Dunia Modern

Istilah progresivisme dalam deskripsi ini akan dikaitkan dengan pendidikan, pendidikan modern abad ke XX. Pada pendidikan modern itu, merekonstruksi dunia pen didikan telah banyak dilakukan oleh aliran ini melalui ini siatif dan karya nyata. John Dewey, tokoh yang berpengaruh di Amerika Serikat melalui kerja” yang ia dirikan mempraktikkan pandangan-pandangannya dalam dunia pendidikan.

Pandangan tersebut mengenai kebebasan dan kemerdekaan peserta didik agar mencapai tujuan pendikan dalam pembentukan warga negara yang diubah. Progressivism juga tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang terpisah, harus diusahakan menjadi satu kesatuan dan terintegrasi. Misalnya, dalam bidang studi TPA, sejarah, dan keterampilan serta yang bermanfaat dan dirasakan oleh masyarakat. Praktek kerja di laboratorium, bengkel dan kebun adalah kegiatan yang direkomendasikan dalam konteks learning by doing atau learning to work.

Progres atau kemajuan menimbulkan perubahan, sedangkan perubahan menghasilkan pembaruan. Kemajuan juga adalah di dalamnya mengandung nilai yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Kemajuan tampak kalau tujuan telah tercapai. Nilai suatu tujuan dapat menjadi alat, jika ingin dipakai untuk mencapai tujuan lain. Misalnya, faedah kesehatan yang baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Aliran Esensialisme

Aliran filsafat pendidikan Esensialsme dapat ditelusuri dari aliran filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama “educatio as cultural conservation”, karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia.

Baca Juga :  Dasar-dasar Filsafat Pendidikan: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi

Esensialisme yang berkembang pada zaman renaissance mempunyai tinjauan atau kajian yang berbeda dengan progresivisme mengenai pendidikan dan kebudayaan. Jika progresivisme memandang pendidikan harus fleksibel, serba terbuka untuk perubahan, tidak terikat pada suatu doktrin tertentu, toleran dan nilai-nilai dapat berubah serta berkembang, maka esensialisme memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibelitas dalam segala bentuk, dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah, kurang terarah dan tidak menentu serta kurang stabil.

Oleh karena itu, menurut esensialisme pendidikan harus di atas pijakan nilai yang mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama, dan nilai-nilai yang memiliki kejelasan serta telah terseleksi.

Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik, juga dipengaruhi pandangan idealisme dan realisme. Johan Fiederich Herbatrt (1776-1841), Ia salah seorang murid Immanuel Kent, yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari Yang Maha Mutlak, yang bermakna penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan.

Inilah yang ia sebut dengan pembelajaran yang mendidik dalam proses pencapaian tujuan. Tujuan umum esensialisme membentuk pribadi untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Isi atau materi pendidikan didasarkan kepentingan pembinaan pribadi yang meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan menggerakkan keinginan manusia. Karena itu, kurikulum sekolah dianggap sebagai miniatur dunia yang dapat dijadikan ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan.

Baca Juga :  Hubungan Moderasi Beragama dengan Prinsip Dasar Epistemologi Islam

Aliran Paranialsme

Menurut Zuhairini, dkk. (1995) perennialisme diambil dari kata perennial yang berarti continuing throughout the whole year, yaitu abadi dan kekal. Perennialisme adalah aliran filsafat pendidikan yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi. Aliran ini memandang keadaan sekarang sebagai zaman yang sedang ditimpa krisis kebudayaan karena kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Perennialisme berpendapat, untuk mengatasi gangguan kebudayaan diperlukan usaha untuk menemukan dan mengamankan lingkungan sosiokultural, intetektual, dan moral. Inilah yang menjadi tugas filsafat dan filsafat pendidikan.

Sikap yang dilakukan aliran ini, untuk kembali ke masa lampau bukanlah suatu sikap nostalgia, sikap mengenang, dan membanggakan masa yang penuh kesuksesan, tetapi untuk membina kembali keyakinan yang teguh kepada nilai-nilai asasi masa silam yang diperlukan untuk kehidupan abad cybernetic ini.

Di bidang pendidikan, pandangan perennialisme dipengaruhi antara lain Thomas Aquinas, yang berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha mewujudkan kapasitas yang ada dalam diri individu atau seseorang menjadi nyata, aktual dan aktif. Peranan guru adalah mengajar guna memberi bantuan kepada peserta didik mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.[]

Pengirim :
Vivi Juanda Pasa, Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negri K.H.Abdurrahman Wahid Pekalongan

banner 300250