Ini Putra Aceh yang jadi Penasehat Senior di Perserikatan Bangsa-Bangsa

Banda Aceh, TERASMEDIA.NET – Agus Wandi, itulah nama putra Aceh yang pernah dikenal sebagai aktivis 1998. Namanya hampir tak ada yang tidak mengenalnya di kalangan mahasiswa Aceh pada saat itu, bahkan warga Aceh pada umumnya.

Agus Wandi merupakan putra Aceh kelahiran Sibreh Aceh Besar pada tahun 1977 hampir identik namnya dengan SMUR. Sebuah organisasi mahasiswa dengan kepanjangan Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR).

Dilansir acehnews.id , menyebutkan Agus Wandi telah dipercayakan untuk menduduki posisi sebagai penasehat senior PBB untuk bidang perdamaian dan pembangunan yang bertugas di 10 negara Pasifik atau UN Senior Peace and Development Advisor (Penasehat Senior PBB untuk perdamaian dan pembangunan) di 10 negara-negara Pasifik.

Agus Wandi dikalangan aktivis tahun 1998 dikenal sebagai pentolan yang juga pendiri dari sebuah gerakan perlawanan rakyat SMUR. SMUR merupakan sebuah gerakan mahasiswa di Aceh yang menuntut pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) dan juga menuntut melengserkan rezim Soeharto pada saat itu.

Baca Juga :  Pemkab Aceh Tamiang Gelar Musyawarah RPJP 2025-2045

Akibat getolnya perjuangan Agus Wandi saat itu, dirinya sempat mendapat stempel sebagai musuh negara dan menjadi aktivis paling diburu aparat TNI/Polri. Dan pada itu Agus Wandi harus bersembunyi dari kejaran aparat bersama aktivis SMUR yang lainnya.

Tahun 2001 Agus Wandi meninggalkan Provinsi Aceh dan melanjutkan studinya di London University. Selama di negeri Ratu Elizabeth, Agus Wandi tidak berhenti untuk mengampanyekan pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh. Disana dia aktif di Organisasi Sipil pada isu HAM, Tapol.

Dan di negeri Ratu Elizabeth itu Agus Wandi justru mampu bersuara lebih keras lagi guna mengampanyekan HAM dan resolusi konflik untuk Aceh di pertemuan-pertemuan dan konferensi-konferensi internasional di Asia Tenggara, AS, dan Eropa.

Dilansir serambinews, pasca Pemerintah RI dan GAM berdamai, nama Agus Wandi kembali muncul, dimana ia bersama Thamren Ananda, Rahmat Djailani, Raihan Diani dan beberapa aktivis SMUR lainnya mendirikan sebuah partai lokal yaitu Partai Rakyat Aceh (PRA).

Baca Juga :  FAKSI Minta Kapolres Aceh Timur Jamin Kebebasan Pers dan Keselamatan Wartawan

Dan pada pemilu tahun 2009, partai ini kurang mendapat sambutan masyarakat Aceh, sehingga kurang diperhitungkan dalam perolehan kursi legislatif, dan Agus Wandi pun memilih berkarier di jalur yang lain.

Pada tahun 2008, di tengah kesibukannya Agus Wandi menerbitkan buku berjudul “9 Langkah Memajukan Diri dan Aceh”. Dan sejak saat itu, namanya pun seperti hilang ditelan bumi dari lingkaran gerakan aktivis di Aceh.

Setelah lama tak terdengar kabar, ternyata anak petani asal Sibreh kelahiran tahun 1977 ini memilih berkarier di luar negeri. Sebelum bertugas sebagai UN Senior Peace and Development Advisor, ia pernah menjadi relawan di UNDP dengan jabatan kepala penasehat teknis di United Nation Development Program (UNDP) di Pulau Solomon.

Baca Juga :  PT Medco E&P Malaka Salurkan Kebutuhan Pokok untuk Pengungsi Gas Beracun

UNDP adalah sebuah organisasi yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai spesialis kohesi sosial sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan yang terletak di sebelah timur Papua Nugini atau Papua Guinea dan merupakan bagian dari Persemakmuran yaitu Kepulauan Solomon.

Tak hanya itu, Agus Wandi bahkan pernah menjejakkan kakinya di benua Antartika. Untuk menuju ke benua itu yang terletak di Kutub Selatan Bumi dan ditutupi sekitar 98 persen hamparan es ini butuh persiapan dan perjuangan yang sangat keras.

Tidak sembarangan orang bisa dan sanggup ke sana, dan Agus Wandi pada Januari 2019 lalu berhasil mencapai Antartika. Agus Wandi adalah anak Aceh pertama yang berhasil menyentuh Antartika, dan ini merupakan sebuah kebanggan tersendiri baginya. ***

banner 300250