Di tengah gempuran tren fear of missing out (FOMO) dan gaya hidup konsumtif “ngopi cantik” setiap akhir pekan, muncul sebuah pertanyaan besar bagi kita sebagai generasi Z: Apakah kita hanya akan menjadi penonton dalam perputaran ekonomi, atau mulai menjadi pemain?
Bagi banyak mahasiswa, kata “investasi” seringkali terdengar berat, membosankan, atau dianggap hanya milik mereka yang sudah memakai setelan jas di gedung pencakar langit Jakarta. Namun, berdiri di koridor kampus Universitas Tazkia, kita harus sadar bahwa investasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang harus dimulai sedini mungkin.
Waktu: Aset Termahal yang Kita Miliki
Investasi di usia muda bukan soal seberapa besar nominal yang kita setorkan ke aplikasi sekuritas atau instrumen syariah. Poin utamanya adalah waktu. Dalam matematika keuangan, kita mengenal konsep compounding interest atau bunga berbunga. Semakin awal kita mulai, semakin eksponensial pertumbuhan aset kita di masa depan.
Sebagai mahasiswa yang mendalami nilai-nilai ekonomi Islam, kita juga diajarkan bahwa investasi adalah bentuk ikhtiar untuk mencapai falah (kesejahteraan) di masa depan. Kita tidak hanya menumpuk harta, tapi memastikan bahwa di masa depan kita memiliki kemandirian finansial agar tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan bisa menebar manfaat melalui zakat dan wakaf yang lebih besar.
Melawan Arus Konsumerisme
Salah satu tantangan terbesar mahasiswa di Sentul maupun kota-kota besar lainnya adalah godaan lifestyle. Tekanan media sosial membuat kita merasa harus selalu tampil “keren” dengan barang-barang bermerek. Namun, investasi mengajarkan kita tentang delayed gratification atau menunda kesenangan sesaat demi keamanan jangka panjang.
Uang 100 ribu yang kita habiskan untuk sekali makan mewah di mall, jika dialihkan ke reksadana syariah atau saham syariah sejak semester satu, nilainya akan jauh lebih bermakna saat kita lulus nanti. Investasi melatih mentalitas kita untuk menjadi pengelola keuangan yang bijak, bukan sekadar konsumen yang reaktif.
Investasi Bukan Cuma Soal Uang
Sebagai mahasiswa, penting bagi kita untuk memperluas definisi investasi. Selain aset keuangan, investasi paling berharga di usia muda adalah leher ke atas (ilmu dan keterampilan). Membaca buku, mengikuti sertifikasi, aktif di organisasi, dan memperluas jejaring adalah bentuk investasi yang imbal hasilnya (return) seringkali jauh lebih tinggi daripada instrumen keuangan mana pun.
Penutup
Masa muda adalah masa emas untuk mengambil risiko dan belajar. Jangan tunggu mapan untuk berinvestasi, tapi berinvestasilah agar kita mapan. Mari kita ubah pola pikir dari “mau beli apa hari ini” menjadi “mau jadi apa sepuluh tahun lagi”.
Karena pada akhirnya, investasi adalah bukti bahwa kita peduli pada diri kita di masa depan. Jangan biarkan dirimu di masa depan menyesal karena dirimu yang sekarang terlalu sibuk mengejar tren yang fana.[]
Penulis :
Muhammad Azzaky Kaska Lopulalan Mahasiswa Universitas Tazkia
