Kesehatan Mental dalam Kurikulum Merdeka Belajar

Kesehatan berasal dari kata “Sehat” yang artinya keadaan badan / pikiran yang bebas dari penyakit (Kamus Besar Bahasa Indonesia, n.d.). Sedangkan “Mental” artinya adalah semua hal yang berkaitan dengan batik / watak (Kamus Besar Bahasa Indonesia, n.d.). Selain itu “Mental juga dapat diartikan sebagai jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat yang mengarah pada aktivitas jiwa dan cara berpikir. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kesehatan mental adalah kondisi dimana jiwa dan pikiran manusia dalam keadaan tenang dan damai. Ketika kesehatan mental peserta didik baik maka peserta didik mampu mengoptimalkan potensi yang ia miliki untuk mengahadapi permasalahan, tantangan, dan komunikasi. Maka dari itu sebagai stakeholder harus menjaga kesehatan mental peserta didik.

Baca Juga :  Apa Kabar Dunia Hari Ini?

Berdasarkan data survei Ipsos menunjukkan bahwa Health Service Monitor pada tahun 2023 adalah 44% menunjukkan bahwa kesehatan menjadi masalah yang mengkhawatirkan (Potu, 2024). Terlebih kesehatan mental pelajar sangat berpengaruh pada kepribadian, suasana hati, konsentrasi. Peserta didik yang diberikan tekanan untuk terus belajar dengan paksaan tentu pengetahuan baru hanya sedikit yang masuk dalam ingatan jangka panjang.

Kurikulum Merdeka menjadi salah satu solusi untuk menjaga kesehatan mental peserta didik. Menurut ibu Endah Kurniawatie selaku Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka sangat membantu peserta didik untuk membangun komunikasi secara dua arah yaitu guru dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk rasa nyaman, damai, aman di ruang kelas maupun di lingkungan sekolah. Selain itu menurutnya pendidik di sekolah tidak hanya menjadi seorang pendidik saja. Namun, bisa manjadi seorang teman dan sahabat (Isherry, n.d.).

Baca Juga :  Mengenal Golongan Obat untuk Swamedikasi yang Tepat

Dalam kurikulum Merdeka pembelajaran didesain dengan lebih sederhana dan mendalam artinya fokus materi yang esensial dan mampu mengembangkan kompetensi peserta didik pada tingkatannya. Dengan demikian belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan. Tidak hanya itu kurikulum Merdeka didesain lebih Merdeka, artinya dalam pembelajaran pendidik dapat mengajar sesuai dengan capaian perkembangan peserta didik.

Dalam prespektif sekolah, sekolah berwenang untuk melakukan pengembangan dan pengelolaan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik sekolah dan peserta didik. Tidak hanya itu kurikulum Merdeka lebih relevan dan interaktif, artinya pembelajaran yang digunakan dengan kegiatan berbasis proyek dapat memberikan kesempatan peserta didik agar lebih aktif mengembangkan pengetahuan barunya seperti pengetahuan lingkungan sekitar, kesehatan, dan yang lainnya. Untuk itu kurikulum Merdeka menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kesehatan mental peserta didik.[]

Baca Juga :  Universitas Syiah Kuala Sediakan Kuota 10240 Mahasiswa Baru

Penulis :
Ririn Dwi Wiresti, M.Pd, Dosen STIT Madani Yogyakarta, email : ririnwiresti@gmail.com

banner 300250