Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah Singkawang merupakan sebuah lembaga yang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada bidang akademik, tetapi juga fokus pada pembentukan karakter dan kepribadian santri. Dalam upaya mencapai tujuan ini, peran pengasuh sangat penting. Sistem pengasuhan di Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah dirancang untuk mendukung perkembangan karakter santri secara menyeluruh. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menanamkan karakter jiwa yang kuat.
Dalam hal ini, pengasuh berperan dalam membimbing santri untuk menjalankan ibadah dengan disiplin, memahami nilai-nilai akhlak, serta mengembangkan kemandirian. Salah satu strategi utama dalam sistem pengasuhan yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah adalah pendekatan keteladanan, yang mana pendidik dan pengasuh berusaha memberikan contoh yang baik dalam hal disiplin dan tanggung jawab. Ketika santri melihat pengasuhnya menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan termotivasi untuk meniru perilaku tersebut.
Pondok Pesantren ini juga mengatur dengan baik pembagian tugas antara pengasuh dan tenaga pendidik melalui struktur kepengurusan dan SOP yang jelas. Dengan pembagian tugas yang terstruktur, santri akan mendapatkan perhatian penuh dari kedua pihak, sehingga mereka dapat berkembang secara holistik. Dalam hal ini, peran pengasuh adalah bertanggung jawab atas pembinaan karakter dan pengawasan kegiatan sehari-hari santri, sementara tenaga pendidik fokus pada aspek pembelajaran formal.
Adapun salah satu cara untuk memastikan perkembangan santri dapat dipantau dengan baik adalah melalui pembentukan grup khusus antara wali santri dan para musyrif/musyrifah. Grup ini berfungsi sebagai platform komunikasi yang memungkinkan wali santri untuk berinteraksi langsung dengan pengasuh. Dalam grup tersebut, informasi terkait perkembangan santri dapat disampaikan dengan mudah, dan wali santri dapat memberikan dukungan moral yang diperlukan.
Di lembaga pendidikan manapun tentunya tidak akan pernah lepas dengan yang namanya masalah. Namun, masing-masing lembaga tentunya pasti memiliki cara tersendiri dalam menangani masalah tersebut. Sama halnya dengan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah yang memiliki strategi untuk menangani masalah disiplin santri. Penanganan ini dilakukan secara edukatif, dengan penekanan pada pentingnya motivasi kedisiplinan. Pendidik tidak hanya menegur pelanggaran, tetapi juga memberikan pemahaman tentang dampak dari tindakan tersebut.
Pendekatan ini bertujuan agar santri menyadari pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pengasuh mengajarkan santri tentang hikmah belajar di pesantren. Santri diberi pemahaman bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Hal ini membantu mereka menyadari bahwa setiap pelajaran dan pengalaman di pesantren memiliki nilai yang penting untuk masa depan mereka.
Sejak lama, Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah Singkawang dikenal sebagai lembaga pendidikan. Namun, pendidikan di sana tidaklah sebatas pengajaran akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan kepribadian santri. Untuk membimbing santri mencapai tujuan ini, tim wali asuh dan pengasuh diperlukan.
Artikel ini membahas beberapa aspek berbeda dari sistem pengasuhan, termasuk hubungan wali santri dengan pengasuh, metode pengendalian diri dan komunikasi, serta strategi pengembangan kemandirian dan penanganan disiplinmasalah santri. Pertama, diperlukan sistem pengasuhan yang mendukung perkembangan karakter santri secara menyeluruh. Dalam hal ini, salah satu pendekatan dapat berupa penanaman karakter batin. Begini, pengasuh memainkan peran penting dalam membimbing anak-anak untuk beribadah rutin dan tertib, memahami nilai-nilai akhlak, dan mengembangkan kemandirian. Dalam hal ini, sebagai contoh, pengasuh dipilih atas dasar keteladanan. Demikian tulisan ini semoga bermanfaat, dan tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan mudir pondok pesantren Asy-Syafi’iyyah, Singkawang.[]
Penulis :
Azzah Husna Dzakiyyah (Mahasiswi Aktif Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani, Yogyakarta) dan Qiyadah Robbaniyah, M.Pd.I. (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani, Yogyakarta)
