Memilih Jenis Tanaman yang Tepat untuk Reklamasi Pasca Tambang

Oleh : Yadianto*

Kegiatan pertambangan selain menghasilkan produk olahan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, harus juga menghasilkan dampak ikutan yang harus dipulihkan, sepertinya adanya bekas galian tanah. Untuk itu pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi Pasca Tambang Keputasan dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 26 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan Mineral Dan Batubara. Tujuannya yaitu agar tidak terjadi dampak negatif dari aktivitas pertambangan untuk dikurangi atau bahkan dihilangkan.

Lahan yang bekas penambangan secara nyata memperlihatkan kondisi tanah yang mengalami kerusakan struktur dan pemadatan yang berdampak negatif terhadap sistem tata air dan erasi yang secara langsung dapat mempengaruhi fungsi dan perkembangan akar. Hal ini juga mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang secara efektif, kerdil, merana, dan mati. Rusaknya struktur tanah juga berdampak pada tanah yang kurang mampu menyimpan dan meresapkan air pada musim hujan sehingga terjadi erosi tanah.

Sebaliknya pada musim kemarau tanah menjadi keras dan padat, sehingga tanah menjadi sulit untuk di olah. Hal tersebut dikarenakan, pertumbuhan tanaman di lahan yang melakukan upaya untuk pemulihan serta pemeliharaan atau bisa juga disebut dengan revegetasi. Revegetasi yang masih rendah mengakibatkan ukuran daun menjadi kecil, volume dan diameter tanaman yang kecil. Penyebab utamanya adalah unsur hara seperti kalium (K), kalsium (Ca), besi (Fe), tembaga (Cu), dan mangan (Mn).

Selain unsur hara tanaman yang rendah, lahan tambang nikel merupakan tanah-tanah yang terbentuk dari bahan induk batuan beku basa atau ultra basa yang memiliki kandungan logam berat yang mencapai kadar toxic pada tanaman, anatara lain nikel (Ni), kromium (Kr). Sementara logam Timbal (Pb), Chadmium (Cd) memiliki kadar yang masih relative aman. Oleh karena itu, untuk memperbaiki keadaan tanah yang tidak subur ini, penambahan bahan amelioren seperti bahan humut dan kompos mutlak dilakukan dalam rangka meningkatkan kesuburan tanah.

Baca Juga :  Dampak Pertambangan Emas Bagi Lingkungan

Pemberian bahan humat dan kompos merupakan salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Bahan humat merupakan bahan yang memiliki potensi dalam memperbaiki konidisi tanah dengan kemampuannya yaitu berinteraksi dengan ion logam, oksida dan hidroksida, termasuk zat pencemar lainnya. Kompos merupakan bahan yang telah mengalami pelapukan dari kotoran ternak dan sisa-sisa tumbuhan seperti dedaunan, dedek padi, jerami, dan rumput-rumputan. Kompos yang baik mengandung atau memperkaya bahan makanan bagi tanaman dan berperan penting dalam meningkatkan kualitas sifat-sifat tanah.

Menurut Munawar, Kompos juga memiliki kemampuan memperbaiki kondisi tanah, tidak menyebabkan polusi air dan tidak memiliki biji-biji gulma. Kompos juga memiliki kemampuan umtuk meingkatkan dalam kesuburan fisil, kimia, dan bilogi tanah.

Mengingkat pentingnya pemanfaatan bahan humat dan kompos dalam memperbaiki kondisi tanah, maka perlu dilakukan perbaikan kualitas tanah, sehingga tanaman dapat memperlihatkan pertumbuhan yang baik. Hal ini bertujuan untuk pemberian serta penamaman tumbuhan yang baik dan bagus usai penambangan dilakukan. Oleh karena itu, beberapa jenis tanaman apat digunakan seperti dalam proses revegetasi lahan pasca tambang, melakukan penutupan lahan seperti untuk bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Salah satu penutupan lahan yaitu dengan Legum Crop Cover yang membutuhkan teknik penamaman yang memanfaatkan tanaman khusus yang akan ditanam, untuk memperbaiki struktur tanah melalui memperbaiki sifat fisik, sifat kimia, dan perlahan memperbaiki sifat biologis. Tanaman ini membantu proses perubahan dalam struktur spesies ekologi dari waktu ke waktu bisa juga (suksesi) dari sebuah vegetasi yang dialami oleh perbaikan pada tanah. Selain itu, penamaman ini bisa menambah bahan organic pada tanah sehingga secara tidak langsung dapat menambah unsur hara pada tanah.

Tanaman cover crop ini berasal dari tanaman kacang-kacangan seperti seruni jalar, ubi hias, lantana, kriminil, dan daun beludru. Tanaman ini selain indah dan bagus untuk dilihat, juga dapat mencegah erosi, memperbaiki struktur tanah, menekan pertumbuhan gulma, menyediakan unsur hara, serta memilihi kemampuan mengikat nitrogen dari udara bebas, karena tanaman ini mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yaitu dengan cara menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar.

Baca Juga :  Konservasi Tambang Timah di Kepulauan Bangka Belitung

Tanaman pokok juga merupakan tanaman yang dapat ditanam pada awal kegiatan penanaman yang cepat tumbuh. Karena jenis tanaman ini memiliki daur masak tebang maksimal 15 tahun sekali. Kemampuannya yang cepat tumbuh akan membantu proses revegetasi lahan dan lebih mudah dalam meningkatkan kesuburan lahan dan tanah.

Dengan begitu, jenis tanaman lainnya akan mudah tumbuh sehingga muncul ekosistem atau suksesi primer yang baru. Keberadaan tanam pokok yang tumbuh akan memiliki guguran daun yang menjadi serasah sehingga membantu memenuhi kecukupan bahan organik bagi tanah. Selain itu, terdapat manfaat lain yang diberikan tanaman pokok ini antara lain dapat memecahkan laju angin, mengurangi intesitas cahaya yang masuk, serta meningkatkan dan menstabilkan kelembaban udara. Tanaman jenis ini pun mampu menciptakan iklim mikro yang sesuai bagi ekosistem hutan yang terbentuk. Jenis tanaman pokok yang dapat direkomendasikan pemelihan tanaman revegetasi diantaranya yaitu sangon, pinus, turi, ketapang, trambesi, ekaliptus, dan lamtoro.

Tanaman berkayu tersebut dapat menjadi naungan bagi tanaman yang hidup di bawahnya. Sehingga tanaman pokok ini sangat berperan penting dalam kegiatan revegetasi untuk reklamasi pasca tambang. Dalam pemilihan tanaman pokok harus memenuhi beberapa kriteria yaitu tanaman harus tidak berguguran di musim tertentu, mampu tumbuh secara cepat dan baik pada tanah yang kurang subur, tidak menjadi inang atau penyakit, tidak menjadi pesaing air serta hara bagi tanaman lain, dan kuat saat di terpa angina.

Tanaman sisipan adalah tanaman local yang endemik kehutanan atau tanaman buah-buahan yang ditanam di sela tanaman pokok reklamasi. Tujuan ditanamannya tanaman sisipan yaitu untuk memperkaya jenis tanaman dan mempercepat terbentuknya ekosistem mikro dipantau dari jumlah satwa yang datang ke lokasi tersebut. Waktu penanaman yang tepat untuk tanaman sisipan yaitu jika tanaman sisipan termasuk toleran terhadap matahari maka menunggu tajuk pohon tanaman pokok sudah saling menutupi contoh meranti, keruing, eboni.

Baca Juga :  Rusaknya Ekosistem Laut dan Keindahan Pantai Akibat Penambangan TI Apung

Hal ini bertujuan untuk memberikan proses waktu lebih untuk mendapatkan kondisi tajuk yang cukup, sehingga iklim mikro mendukung pertumbuhan jenis tanaman sisipan. Akan tetapi jika tanaman sisipannya intoleran maka tanaman bisa ditanam setelah tanaman pokok ditanam contoh tanaman buah buahan. Jenis tanaman sisipan yang dipilih untuk ditanam dapat berupa jenis tanaman produksi lokal dengan tujuan agar masyarakat setempat dapat memperoleh manfaat dari adanya reklamasi lahan tersebut. Terdapat berbagai macam tanaman sisipan yang dapat ditanam pada lahan reklamasi bekas tambang diantaranya seperti pohon pinang, lamtoro gung, mersawa, kapur, ulin, dan gaharu. Penanaman jenis tanaman sisipan ini sangat penting untuk mencegah terjadinya erosi tanah.

Selain itu, eksistensi tanaman sisipan mampu mencegah penyebaran debu dan meminimalisir kebisingan. Guguran daun dari tanaman ini juga dapat membantu dalam proses penyuburan tanah karena menghasilkan bahan organik yang tinggi. Penanaman tiga jenis tanaman reklamasi ini diarahkan untuk membantu keberhasilan reklamasi. Diawali dengan penanaman tanaman penutup yang membantu meningkatkan kesuburan tanah, dilanjutkan penanaman fast growing untuk membentuk tutupan atas pada lahan dan menciptakan iklim mikro lingkungan sekitar sehingga tercipta ekosistem baru, dibantu dengan tanaman sisipan untuk mempercepatkan terbentuknya ekosistem.

Agar tidak terjadinya perubahan ekosistem, sehingga perlu dilakukan pengolahan lingkungan yang baik setelah operasional tambang dilakukan. Sehingga tidak meninggalkan masalah dikemudian hari dan tetap terjaganya ekosistem yang lebih baik untuk dirasakan masyarakat.[]

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, email : yadiantomaret@gmail.com

banner 300250