Mengenal Tradisi Rujak Pencok dari Kabupaten Batang

Rujak pencok adalah salah satu makanan khas yang disajikan di momen khusus. Biasanya makanan ini dibuat saat terdengar kabar meninggalnya orang yang sedang melahirkan. Yang membuat makanan ini pun adalah orang-orang hamil yang mendengar kabar kematian tersebut dibantu dengan keluarga dan orang sekitar.

Bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat rujak pencok yaitu: Terong mentah, Kacang Panjang mentah, Babal Nangka (Nangka yang masih kecil), Terasi dan bahan-bahan rujak pada umumnya.

Semua bahan-bahan disatukan menjadi rujak seperti pada umumnya dengan cara dipencok atau dicincang kasar, setelah rujak tersebut selesai dibuat tidak lupa didoakan terlebih dahulu dan langsung dibagikan pada warga sekitar. Tidak hanya sampai disitu, setelahnya cobek bekas membuat rujak (harus yang terbuat dari tanah liat) diletakkan diatas pengki (ingkrak sebutan dari masyarakat sekitar) dan ditutup oleh ujung/pupus daun pisang lalu dibawa di perempatan jalan terdekat setelahnya cobek dari tanah liat tersebut dipecahkan di perempatan jalan.

Menurut warga sekitar, tradisi ini dilakukan agar ibu dan bayi yang di kandung di berikan keselamatan saat proses melahirkan oleh Allah SWT.

Nilai- nilai yang dapat di ambil dari tradisi tersebut adalah: 1) Menjadi lebih dekat dengan Allah; 2) Berbagi kepada orang sekitar; 3) Mensyukuri kehidupan; dan 4) Dan senantiasa berhati-hati dalam menjalani hidup.

Tradisi rujak pencok adalah tradisi yang patut dilestarikan, banyak masyarakat Indonesia yang asing dengan tradisi ini. Tradisi rujak pencok adalah tradisi unik dari Desa Kalibalik, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang. Kebanyakan orang berpikir saat pertama kali mendengar kata rujak pencok yaitu sejenis beladiri seperti pencak silat. Penting bagi anak muda dan generasi selanjutnya mengetahui tradisi unik ini.

Baca Juga :  Pentingnya Penguasaan Komponen Manajemen Berbasis Sekolah

Berbeda dari tradisi rujak tingkeb atau tradisi merujak saat usia kandungan mencapai tujuh bulan, tradisi ini di lakukan orang yang sedang hamil dalam usia berapa pun saat mendengar kabar kematian Wanita mengandung. Beragam doa dipanjatkan saat melakukan tradisi ini agar ibu dan bayi yang di kandungnya diberi keselamatan sampai proses persalinan mendatang.

Selain dihadiri tetangga sekitar rumah, tradisi ini juga dihadiri oleh tokoh agama sekitar. Setelah itu mereka melakukan doa Bersama untuk ibu dan bayi yang di kandung, setelah selesai rujak tersebut pun di bagikan kepada para warga yang hadir. Tradisi rujak pencok sendiri memang khudus di lakukan oleh Wanita yang sedang mengandung.

Biasanya berita kematian Wanita yang sedang mengandung diketahui dari mulut ke mulut, saudara dari Wanita yang meninggal biasanya langsung menyebarkan informasi tentang kabah kematian Wanita hamil tersebut agar orang lain bisa melangsungkan tradisi rujak pencok.

Tradisi rujak pencok juga disebut- sebut juga mirip dengan tradisi slametan gerhana, karena slametan gerhana juga dilakukan oleh ibu hamil.[]

Penulis :
Nadia Firdausul Pramita, Mahasiswi UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan

banner 300250