Mengenali Tradisi Mappacci, Adat Suku Bugis Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang

KEBUDAYAAN merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki secara bersama yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.Kebudayaan berkaitan dengan pola hidup manusia ,adat istiadat dan budi pekerti.Kehidupan manusia sehari-hari dimulai dengan cara makan, berpakaian, dan berbicara, dan tidak dapat dipisahkan dari tradisi dan budaya.Bahkan, itu dianggap sebagai contoh yang sangat baik dan patut untuk dicontoh dalam penerapan semua tindakan.Masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan kabupaten Pinrang Suku Bugis yang memiliki tradisi dan kebiasaan yang masih di pertahankan sampai saat ini,termasuk Pernikahan.

Suku Bugis terkenal dengan sistem pernikahannya yang sangat kental dengan adat Bugis, dan dikenal sebagai salah satu sistem pernikahan yang kompleks karena ada beberapa proses pernikahan yaitu sebelum hari pernikahan,saat nikah dan setelah menikah.salah satu kegiatan sebelum hari pernikahan yaitu mappacci .

Mappacci berasal dari kata pacci (Bersih atau Suci) yang berarti mensucikan diri.Mappacci adalah upacara pernikahan tradisional yang diturunkan secara turun-temurun oleh suku Bugis, yang tujuannya adalah untuk membersihkan atau menyucikan kedua mempelai dari hal-hal yang buruk, dan tujuan dari segala kebaikan didasarkan pada niat baik dan kerja keras itu ada.Budaya mappacci dalam pernikahan Suku Bugis memiliki makna yang sangat luas dan nilai budaya tersendiri.

Sebelumnya di kalangan bangsawan acara mappacci ini diadakan 3 kali berturut turut pada malam hari,namun sekarang acara mappacci diadakan satu malam saja,yaitu satu hari sebelum acara pernikahan.Dahulu, konon acara mappaci hanya dilakukan para bangsawan sja,seiring berkembangnya zaman acara mappacci umumnya dilakukan oleh masyarakat Bugis.

Mappacci itu sendiri dilakukan pada saat tudang penni/wenni (pada malam hari), mappacci merupakan upacara yang sangat mendarah daging dengan nuansa keindahan.Dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang baik harus didasari oleh niat dan upayah yang baik pula.Upacara adat mappacci dihadiri oleh keluarga dan kerabat untuk diberikan restu dan doa kepada calon mempelai pengantin dalam menempuh kehidupan berumah tangga sebagai suami-istri serta keberkahan dari Allah SWT.

Baca Juga :  Ini Tradisi Mappasikarawa Suku Bugis di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan

Dalam tradisi mappacci ada beberapa perlengkapan yang harus dipersiapkan seperti:Kanggulu atau bantal,lipa sabbe atau sarung sutra sebanyak 7 lembar yang disusun diatas bantal,pucuk daun pisang diletakkan diatas sarung sutra serta daun nangka yang diletakkan di atas daun pisang dan biasanya terdiri dari 7 lembar, tetapi beberapa orang tidak menentukan berapa banyak daun nangka yang mereka butuhkan dan menghiasi bentuk daun nangka tersebut,gula merah dan daun pisang diletakkan di wadah yang sama yang berisikan beras,dan lilin serta daun pacci atau daun pacar dan air yang diletakkan disebelah bantal tersebut.

Sebelum calon mempelai pengantin melakukan tradisi mappacci terlebih dahulu calon mempelai melakukan dio majang atau mandi kembang.setelah itu calon mempelai di rias dan dipakaikan baju adat bugis.Berikut cara melakukan tradisi mappacci yaitu: 1) Calon mempelai yang sudah dirias dipersilahkan untuk duduk diatas lamming atau pelaminan, didepannya diletakkan bantal yang telah dilapisi sarung sutra,pucuk daun pisang dan daun nangka; 2) Kedua tangan calon mempelai disimpan diatas bantal dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas; 3) Pembaca barasanji (pabbarasanji) sudah ditempat dan mulai membacakan “badrun alaina”maka dimulai pula lah acara mappacci tersebut; 4) Keluarga atau kerabat calon mempelai yang telah ditentukan dipanggil satu persatu untuk memberikan daun pacci kepada calon mempelai dimulai dari tangan kanan kemudian tangan kiri dan menghamburkan beras kepada calon mempelai sebanyak 3 kali yang disertai dengan doa; dan 5) Setelah semua tamu yang telah ditetapkan untuk melakukan mappacci maka seluruh tamu berdoa bersama sama agar calon mempelai diberi restu kepada yang maha kuasa supaya menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

Berdasarkan dari hasil wawancara terdapat perbedaan dalam melakukan proses mappacci di masyarakat kecamatan Mattiro Sompe Kab.Pinrang yaitu dari jenis daun pacci atau daun pacar yang digunakan.”Dari tata cara proses mappacci masyarakat kecamatan Mattiro Sompe kab.Pinrang,dimana yang dulunya daun pacci yang digunakan terlebih dahulu dihaluskan,namun seiring berjalannya waktu sebagian masyarakat tidak lagi menghaluskan,karena sekarang sebagian orang mengambil daun pacci kemudian ditempatkan diwadah untuk diberikan kepada calon mempelai tanpa dihaluskan terlebih dahulu”.ujar salah satu masyarakat kecamatan Mattiro Sompe kab. Pinrang.

Baca Juga :  Ini Dampak Kenaikan Harga BBM Bagi Masyarakat

Demikian tradisi mappacci adat istiadat Suku Bugis Kab.pinrang yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai tradisi yang dilakukan secara turun-temurun yang mengandung unsur makna kebaikan yang secara umum tidak melanggar syariat islam mak dari itu tradisi ini terus dilakukan dan budaya dalam pernikahan masyarakat Kecamatan Mattiro Sompe kab.Pinrang Sulawesi Selatan.[]***

Pengirim :
Rahma
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri Pare-Pare
Email : rahma210602@gmail.com

banner 300250