Menjaga Keseimbangan Emosi Perempuan dalam Mememenuhi dan Melaksanakan Hak-Hak di Dalam Rumah Tangga

Perempuan memiliki independensi yang penting baginya. Dari independensi tersebut, dia memiliki kemampuan untuk memberikan sesuatu, terutama pada saat dia mungkin tidak disayangi atau tidak dihargai sebelumnya. Hal ini berarti ada tugas yang harus diselesaikan dalam bahasa yang digunakan. Semua itu adalah kebutuhan psikisnya sebagai seorang istri dan ibu. Kebutuhan psikis termasuk disayangi, dihargai sebagai individu yang unik, dihargai sebagai ibu bagi anak-anaknya, dihargai sebagai anak dari orang tuanya, dan juga disayangi oleh anak dan suaminya. Siapa yang memberikan perhatian terbesar tergantung pada lingkungan yang diciptakan. Misalnya, jika dia kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, tetapi anak-anak dan suaminya memberikan perhatian, maka tidak akan ada kekurangan psikis di sana. Walaupun ada kekurangan dari orang tuanya, dia tidak akan merasa kekurangan dalam kebutuhan psikisnya karena dia disayangi dan dihargai sebagai individu. Terkadang orang menganggap bahwa setelah menikah, dia harus mengikuti pasangannya tanpa menghargai dirinya sebagai individu yang berbeda. Dia tidak harus setuju sepenuhnya dengan orang lain karena ada karakteristik tertentu yang melekat pada dirinya.

Selain itu, menghargai diri sendiri juga merupakan hal yang penting. Penghargaan terhadap diri sendiri adalah kebutuhan psikis yang harus dipenuhi. Jika seseorang ingin dihargai oleh orang lain, mereka juga harus menghargai diri mereka sendiri. Namun, terkadang ada orang yang tidak membutuhkan penghargaan dari orang lain, sementara ada yang sangat membutuhkannya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terjadi kesenjangan dan kekurangan. Salah satu yang paling parah adalah ketika seseorang memiliki penghargaan diri yang rendah. Oleh karena itu, menghargai diri sendiri adalah yang paling penting dan harus menjadi prioritas pertama.

Selain itu, kita perlu belajar tentang ego. Ego diperlukan untuk menjadi makhluk yang merdeka. Kenapa seseorang bisa merdeka? Karena mereka memiliki ego. Meskipun menjadi egois dianggap negatif, sebagai manusia, kita diberi pujian karena memiliki ego. Orang yang memiliki derajat tertinggi adalah mereka yang mengesakan Allah dan memberikan ego mereka kepada-Nya. Belajar tentang ego ini harus berhubungan erat dengan tauhid. Tidak ada manusia yang akan tunduk pada manusia lain dalam hakikat Rububiyah. Namun, karena mereka mentauhidkan Allah, mereka tunduk pada manusia karena mereka sebenarnya tunduk pada Allah. Mereka membangun mindset yang baik bahwa mereka tunduk pada manusia ini karena perintah Allah. Mereka memberikan yang terbaik dari diri mereka. Oleh karena itu, masalah ego harus dihadapi oleh semua orang. Hal ini terjadi ketika seseorang ingin mendapatkan manfaat. Ego ini kemudian harus dididik agar menjadi seorang yang mentauhidkan Allah. Ini adalah hal yang paling berat dan akan diuji melalui ujian dalam rumah tangga.

Disayangi dan dihargai oleh orang lain, menghargai diri sendiri, mengelola ego, dan menghargai keinginan adalah aspek penting yang hampir mirip, tetapi perlu dibedakan. Mengenai keinginan, mengapa kita perlu memberikan ruang untuk keinginan kita? Karena itu adalah mimpi kita. Jika mimpi tersebut tidak pernah dapat diwujudkan, kita tidak akan berkembang. Keinginan-keinginan ini tidak boleh dipadamkan. Misalnya, seseorang menginginkan sesuatu, tetapi pasangannya atau anggota keluarga lainnya tidak mendengarkan atau tidak mendukung keinginan tersebut. Akibatnya, individu tersebut tidak dapat berkembang lebih lanjut karena tidak ada ruang bagi keinginan-keinginannya. Oleh karena itu, penting bagi individu tersebut untuk menyampaikan keinginan dan cita-citanya agar dapat tercapai. Meskipun batasan ilmu seseorang mungkin tidak memungkinkan untuk mencapai keinginan tersebut, penting bagi mereka untuk mengungkapkan keinginan tersebut sehingga pasangan atau keluarga dapat mendengar dan membantu mewujudkannya. Ini sangat penting untuk diperhatikan. Seberapa besar kita menghargai diri sendiri, jika kita terus mencela diri sendiri, itu perlu diperbaiki. Sebaliknya, kita harus menjadi detektif kebaikan, sehingga kita merasa bersyukur. Jika tidak, kita akan merasa menjadi korban dan tidak menghargai diri sendiri. Jika kebutuhan penghargaan dari orang lain tidak terpenuhi, ada yang tidak memerlukannya sama sekali, dan ada yang hanya memerlukannya sebatas prestasi dan penghargaan dari orang lain. Hal ini bervariasi dari individu ke individu. Oleh karena itu, kelima hal tersebut perlu dipahami lebih dalam dan dieksplorasi lebih lanjut pada diri kita sendiri untuk melihat apakah kebutuhan-kebutuhan tersebut telah terpenuhi atau belum.

Baca Juga :  Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia di Era Digitalisasi

Namun, bagaimana cara menghadapi situasi ketika keinginan-keinginan tersebut tidak terpenuhi di dalam rumah tangga saat ini? Bagaimana seseorang tetap mampu memenuhi hak-haknya dalam rumah tangga dan memberikan yang terbaik bagi keluarga dan pasangannya? Hal ini merupakan tantangan yang perlu dihadapi oleh perempuan. Oleh karena itu, jihad perempuan terjadi di dalam dirinya sendiri. Bahkan hanya untuk dirinya sendiri, ini adalah bentuk jihad. Mengingat perempuan cenderung lebih dipengaruhi oleh emosi, hal ini berkaitan dengan perubahan emosi yang tiba-tiba terjadi ketika tidak merasa dihargai, terutama ketika tidak merasa dicintai. Perempuan sangat rentan terhadap fluktuasi emosi. Maka, bagaimana seseorang dapat mengatur emosinya dengan baik dan tetap berkinerja optimal dalam membangun rumah tangga dan menjadi seorang ibu?

Pertama, Sabar; karena otak manusia tidak bisa mencerna kalau belum diam sejenak, namanya sabar adalah habsun nafs dia menahan diri. Manusia perlu memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk merenung, karena pikiran tidak dapat bekerja dengan baik jika tidak ada waktu untuk diam sejenak. Kesabaran adalah proses menahan diri, dalam hal ini adalah menahan diri dari bereaksi terlalu cepat. Ketika menahan diri, langkah pertama adalah mundur beberapa langkah untuk merenung. Karena perempuan sering kali lebih mengandalkan emosi daripada berpikir secara rasional, maka langkah pertama adalah menahan diri. Menahan diri memiliki cara dan metode yang spesifik. Ada kesabaran hati, di mana hati kita tidak boleh merasa jengkel atau marah kepada Allah. Hati harus menerima kondisinya terlebih dahulu. Ada juga kesabaran dalam ucapan, di mana kita harus mencegah diri dari mencela, menghujat, atau mengutuk.

Dalam beberapa metode, ada saran untuk mengeluarkan emosi melalui ucapan, dengan mengeluarkan semua keluhan dan rasa tidak puas melalui kata-kata. Namun, dalam Islam, itu tidak diajarkan. Islam memerintahkan untuk bersabar terlebih dahulu, untuk bersabar dalam ucapan dan tindakan. Ketika situasi seperti itu terjadi, jangan terus-menerus mengekspresikan kemarahan dengan cara membanting-banting atau bertindak kasar. Kita harus mundur perlahan, berbicara dengan tenang kepada tangan kita, meskipun ekspresi wajah sulit untuk dikendalikan karena itu adalah ekspresi yang paling tampak dari hati yang marah. Setelah kita dapat menahan diri, menahan diri dengan mengambil napas dalam-dalam, kita mulai mengubah sudut pandang. Misalnya, jika kita melihat sesuatu yang tidak kita sukai, kita beralih ke sesuatu yang kita sukai tentang hal tersebut. Sebagai contoh, kita bisa melihat ke anak-anak atau suami kita. Misalnya, jika uang belanja kurang, itu adalah sesuatu yang tidak kita sukai, tetapi hal yang kita sukai adalah saat suami datang dengan senyuman, memberikan uang dengan senyuman, atau bahkan tetap memberikan uang meskipun jumlahnya kurang. Ini adalah tingkat kedua, yaitu rasa syukur.

Baca Juga :  Implikasi Antropologi dalam Sistem Pendidikan di Indonesia

Kedua Syukur; Memiliki rasa syukur sebenarnya bukanlah hal yang mudah, itu perlu dilatih. Salah satu latihannya adalah dengan mengucapkan doa setiap setelah Subuh, saat bangun tidur. Kita mengucapkan, “Alhamdulillahilladzi ahyana ba’damaa amaatanaa wa ilayhin nusyur” yang artinya “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati dan kepada-Nya kami akan kembali.” Ini adalah ungkapan syukur terhadap diri kita sendiri. Bagaimana mungkin seseorang dapat memberikan kebahagiaan kepada keluarganya jika dirinya sendiri tidak bahagia? Oleh karena itu, yang pertama adalah bersyukur terhadap diri sendiri. Bersyukur bahwa kita masih hidup, masih bisa bernafas. Bersyukur setiap hari bahwa kita semakin cantik. Bersyukur bahwa kita masih bisa mandi, karena banyak orang yang tidak bisa melakukannya. Ada kondisi-kondisi orang yang seperti itu. Jadi, kita perlu bersyukur terlebih dahulu atas apa yang telah kita peroleh setiap hari.

Syukur sebenarnya disebut “syakaro” dalam Islam karena itu melibatkan tiga komponen yang harus ada. Dengan hati, kita harus mengucapkan syukur. Dengan lisan, kita harus mengungkapkannya. Dan dengan anggota tubuh, kita harus membuktikan rasa syukur. Oleh karena itu, fokuslah pada mensyukuri diri sendiri, misalnya, bersyukur bahwa kita sehat. Itu berarti kita harus merawat diri kita, kita harus menyayangi diri kita. Itu sudah merupakan ungkapan syukur dari diri kita. Kemudian, yang terdekat, mungkin anak-anak kita, pasangan kita, rumah kita, bahkan benda-benda kita. Bahkan dalam beberapa tradisi, ketika membuang sesuatu, kita mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku selama ini. Meskipun mungkin tidak ada yang disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an, mungkin perlu mencari dalam hadis, tetapi mensyukuri memiliki efek yang luar biasa. Bahkan dalam penelitian-penelitian, terutama di Jepang, satu pohon yang dipuji, diterima, dan disyukuri, tumbuh dengan lebih baik daripada pohon yang dicela-cela.

Oleh karena itu, bersyukurlah terlebih dahulu, terutama bersyukur terhadap diri sendiri. Karena jika kita tidak bersyukur terhadap diri sendiri, tidak mengasihani diri sendiri, kita tidak akan tahu siapa yang akan mencintai kita kecuali diri kita sendiri. Hanya kita yang mengharapkan Yang Maha Pengasih untuk mencintai kita. Jika kita sudah bisa bersyukur dengan hati, lisan, dan anggota tubuh, itu adalah tingkat yang lebih tinggi, yang disebut ridho. Ridho berada di atas syukur.

Baca Juga :  Pemimpin Hebat Sebagai Panutan

Ketiga Ridho; Ridho yang berada di atas syukur memang memiliki makna yang luar biasa. Ketika kita ingin bersyukur, kita bisa mengucapkan doa seperti “Ya Allah, radhitu billahi robba wabil Islami diynaa” yang berarti “Ya Allah, aku ridho dengan Engkau sebagai Rabbku dan dengan agamaku.” Itu benar-benar kita maknai kalimat tersebut. Mengapa kita perlu memahami makna ridho dengan baik? Karena bagaimana kita bisa mendapatkan ridho orang tua, ridho suami, atau meridhoi anak kita jika kita tidak mengerti apa arti ridho itu sebenarnya. Katakanlah bahwa kesuksesan anak tergantung pada keridhoan orang tua. Jika kita sendiri tidak memahami konsep itu, anak pasti akan menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Bahkan dalam beberapa metode pengasuhan anak, mereka mengatakan bahwa kita harus mengucapkan “Ya Allah, aku ridho dengan anakku seperti ini” dan sebagainya.

Mencapai tingkatan ridho memang membutuhkan latihan dan pemahaman yang mendalam tentang sabar, syukur, dan ridho itu sendiri. Tidak semudah itu. Dalam ayat Al-Qur’an, kita mendapati kalimat “radiyallahu anhum wa rodhu anhu” yang berarti “Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada-Nya.” Ini menunjukkan bahwa ridho adalah sesuatu yang luar biasa. Keduanya saling ridho. Jika dalam transaksi jual beli, keduanya saling ridho, berarti keduanya ikhlas dengan pemberian yang telah diberikan, baik oleh Allah subhanahu wa taala maupun oleh manusia lainnya. Kemudian, ridho terhadap Allah dan Allah ridho kepada kita adalah sesuatu yang luar biasa, dan pahala akan sesuai dengan amalannya.

Bagaimana kita dapat mencintai orang lain tanpa pamrih, mengharapkan kebaikan bagi orang lain tanpa pamrih, dan menghormati orang lain dalam berbagai perbedaan adalah hal yang luar biasa. Saling menghormati perbedaan pendapat, saling menghormati dalam banyak hal, bahkan sampai pada tingkat dapat menghormati keputusan dan perbedaan orang lain adalah sesuatu yang mengagumkan. Tingkatan ridho tercapai ketika kita mampu mengharapkan kebaikan bagi orang lain tanpa mengharapkan imbalan, namun dengan tulus mendukung mereka. Ini adalah derajat yang tinggi. Derajat tertinggi wanita di surga bukanlah hal yang mudah dicapai. Memberi tanpa batas, mengharapkan kebaikan orang lain tanpa batas, tanpa mengharapkan balasan dari mereka, menghormati orang lain dalam berbagai perbedaan tanpa menghujat atau menghakimi, semuanya itu merupakan tingkatan yang memerlukan ilmu dan pemahaman yang mendalam.[]

Penulis:
Nida` Uzakiyah, S.H.I, Pengajar Pondok Pesantrean Islamic Center Bin Baz dan Qiyadah Robbaniyah, M.Pd.I (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta, email : qrobbaniyah@gmail.com

banner 300250