Orang Tua yang Meremehkan Ilmu Agama dalam Mendidik Anak

Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang islam, kita tidak bisa hidup tanpa ilmu, semua tingkah laku kita pasti membutuhkan ilmu, seperti sholat, berwudhu, bahkan sampai hal-hal seperti memasak, dan bekerja. Segala sesuatu yang dilakukan tanpa adanya ilmu maka sesuatu itu menjadi sia-sia dan tidak berpahala. Nabi Muhammad Saw telah menegaskan bahwa mencari ilmu itu wajib dalam haditsnya yang berbunyi:
طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَّ مُسْلِمَة

“Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”(H.R Muslim).

Kewajiban menuntut ilmu dalam hadits diatas adalah khusus untuk ilmu agama yang hukumnya Fardlu ‘Ain (wajib) diantaranya tentang Aqidah, Akhlaq, Ibadah, dan mencari tahu tentang yang halal dan yang haram, yang haq dan yang batil, dan lain-lain. Adapun untuk mencari ilmu sosial kemasyarakatan adalah hukumnya Fardlu Kifayah (wajib dalam dalam keadaan tertentu).

Orang yang menuntut ilmu agama akan diberi beberapa keutamaan oleh Allah Swt, diataranya Allah akan mengankat derajatnya, akan dimudahkan dalam segala urusan, terkabulnya do’a, dan dimasukan kedalam surga-Nya. Tetapi dengan semua keutamaan yang allah janjikan ini banyak orang-orang yang mengabaikannya, mereka lebih memilih mempelajari ilmu-ilmu yang bersifatnya duniawi, karena mereka berpikir dengan ilmu itulah mereka mendapatkan uang, mendapat kebahagian, mendapat pangkat, dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa yang memberi rezeki adalah Allah Swt, pangkat setinggi apapun itu hanya pemberian dari Allah, harta sebanyak apapun tidak bisa menjamin untuk kebahagiaan di akhirat, bahkan bisa menjerumuskanmu dalam nerakanya Allah Swt, Na’udzubillah.

Memang benar, bahwa kita mencari ilmu yang yang sifatnya duniawi itu bertujuan untuk penghidupan diri sendiri, keluarga, anak, dan istri yang hukumnya wajib. Tetapi kita tidak boleh meninggalkan untuk belajar ilmu agama, karena dengan ilmu agamalah kita bisa mengenal tuhan kita, nabi kita, bukan hanya sekedar menjadi orang islam yang dimana kita mendapatkan title tersebut dari orang tua kita (islam keturunan).

Baca Juga :  Problematika Resolusi Kemacetan Lalu Lintas

Pada zaman sekarang banyak orang tua yang tidak mengajarkan anak-anaknya ilmu agama, mereka lebih menekankan kepada anak-anak mereka untuk belajar ilmu sosial akademik bahkan para orang tua sangat meremehkan sekali terhadap ilmu agama. Mereka bangga ketika anaknya-anaknya menguasai bahasa inggris, sarjana lulusan kedokteran, sarjana management bisnis, sekolah diperguruan tinggi negeri dan sebagainya, tetapi mereka tidak prihatin dengan anaknya yang tidak bisa membaca al-qur’an, tidak tahu caranya berwudlu, sholat, bahkan mereka malu ketika anaknya dimasukan ke pesantren.

Menurut saya ini kurang benar, karena jika bukan orang islam sendiri yang belajar ilmu agama maka siapa lagi yang menjadi penerus para ulama dan para nabi?, jika al-qur’an diturunkan sebagai pedoman dan petunjuk bagi umat manusia, seharusnya kita mempelajarinya, menghafalnya dan mengamalkannya, menurut saya ilmu agama adalah hal wajib yang pertama kali orang tua ajarkan kepada anaknya sebelum mempelajari hal-hal yang lainya. Nabi Muhammad Saw bersabda : ”Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amal darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang selalu mendo’akanya.” (H.R Muslim).

Tiga perkara yang disebutkan dalam matan hadits diatas pahalanya akan terus mengalir walaupun orangnya sudah meninggal dunia, dan semua poin diatas menurut saya berkaitan dengan topik pembahasana kita kali ini, yaitu sedekah jariyyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendo’akan orang tuanya. Berikut penjelasanya:
1. Sedekah Jariyyah
Sedekah Jariyyah adalah sedekah yang dapat mambawa banyak manfaat kepada orang lain. Pahalanya tidak akan terputus selama manfaatnya masih dirasakan banyak orang. Contoh sedekah jariyyah adalah membangun tempat ibadah seperti masjid, mushola, dan langgar, atapun membangun tempat-tempat seperti sekolahan, panti asuhan, dan lain-lain. Allah swt berfirman dalam qur’an surat al-zalzalah ayat 7 yang artinya:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya .” (Q.R Al-Zalzalah:7)
Semua ini bisa kita dapatkan jika hati kita benar-benar Ikhlas dan niat kita benar, bukan karena kesombongan supaya dilihat tetangga atau sebagainya, maka niat yang benar dan hati yang ikhlas itulah yang kita pelajari dalam ilmu agama.

Baca Juga :  Kesehatan Mental Impian Dari Semua Anak Broken Home

2. Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat dapat menjadi amalan yang tidak terputus pahalanya meski telah meninggal dunia, ilmu yang bermanfaat dapat diartikan sebagai ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan juga membawa manfaat bagi orang lain. Contoh ilmu yang bermanfaat adalah mengajarkan al-quran, mengajarkan kebaikan, menulis buka yang dimana buku itu menjadi rujukan yang berguna bagi orang lain, dan sebagainya. Sudah jelas bahwa kita butuh mempelajari ilmu agama jika kita ingin meraih poin nomer dua ini.

3. Do’a Anak yang Sholeh
Do’a anak yang sholeh tidak akan terputus pahalanya, bahkan setelah orang yang dido’akan meninggal dunia. Anak sholeh adalah anak yang selalu berbakti pada orang tuanya dan selalu mendengar nasehat dari orang tuanya. Bagaimana kita bisa menjadikan anak-anak kita sholeh? yaitu dengan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepadanya sedini mungkin. kita ajarkan wudlu, sholat, berdzikir, berdo’a, membaca al-qur’an, membaca kisah-kisah para nabi, dan lain sebagainya. Maka insya allah anak-anak kita akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Ketika anak kita tidak di ajarkan ilmu agama anak kita akan menjadi anak yang jauh dari tuhan dan nabinya, jauh dari kebaikan, durhaka kepada orang tua, dan lain sebagainya, maka nanti kita sendiri yang akan kesusahan di dunia maupun di akhirat dan semua itu pasti dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Baca Juga :  Sambut Tamu Ala “Urang Kite”

Kesimpulan

Menuntut ilmu memang wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan, sebagaimana sabda nabi saw diatas. Diantara keistimewaan orang berilmu adalah diangkatnya derajat oleh Allah Swt, ilmu itu bermacam macam jenisnya, ada ilmu sosia kemasyarakatan sepeti kedokteran, bisnis, dan lainya. Dan juga ada ilmu agama sepeti ilmu fikih, akhlaq, Aqidah, dan lain sebagainya. Dan yang diwajibkan dalam hadits diatas adalah ilmu agama, kita boleh-boleh saja mempelajari ilmu sosial, tetapi jangan sampai meninggalkan ilmu agama. Karena ilmu agama ini lah yang akan menjadi tuntunan bagi kita untuk memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat. Dan kita juga harus mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak kita. Karena ilmu agama lah yang akan menjadi bekal untuk anak kita supaya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Apalagi ketika anak kita seimbang antara ilmu agama dan ilmu sosial akademiknya maka anak kita akan menjadi anak yang sukses bahagia di dunia dan akhirat.[]

Pengirim :
Laode Muhamad Fazly, mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, email : rrqfazly@gmail.com

banner 300250