Paradigma Manusia Indonesia dari Perspektif yang Beragam

Oleh : Iis Narahmalia*

Manusia merupakan makhluk sempurna yang diciptakan dengan akal dan pikiran. Plato dan Rene Descartes mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi tubuh dan dimensi jiwa atau rohani. Sejauh mana topik tentang identitas paradigma manusia Indonesia menjadi sebuah pemahaman yang berkesinambungan dan menarik dipahami dalam proses belajar. Dalam membangun perspektif kritis dengan mengacu pada budaya Sosio-Kultural dan Psikologi Perkembangan untuk melihat bagaimana latar belakang sosial budaya dan pola asuh serta implementasi Pendidikan di Daerah Khusus.

Pemahaman mendalam tentang ‘Perjalanan Pendidikan Indonesia’, ‘Dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara’ hingga materi ‘Identitas Manusia Indonesia’. Ketiga materi tersebut dapat dihubungkan dengan materi Sosial-Kultural, Psikologi Perkembangan dan Pendidikan di Daerah Khusus.

Hal ini yang menandai bahwa calon pendidik maupun pendidik seutuhnya ialah sosok yang harus mampu menguasai empat kompetensi yakni kompetensi profesional hingga kompetensi sosial. Seperangkat kemampuan tersebut kemudian diimplementasikan dalam suatu kondisi-kondisi di mana pendidik membangun sikap adaptif yang mampu mengakulturasikan dengan budaya setempat.

Baca Juga :  DPRK Aceh Tamiang Gelar Paripurna Pengucapan Sumpah Pengganti Antar Waktu Abdul Muis

Kondisi yang saya fokuskan di sini ialah kondisi di lokasi mengajar dan mengabdi di daerah khusus 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Di mana daerah khusus 3T menunjukkan kondisi yang apa adanya, konvinsional dan terbilang bersahaja. Keterbatasan yang harus mampu ditangani secara mampu ditangani dan dihadapi melalui penghayatan aksi nyata dari keempat kompetensi guru yaitu : pedagogis,kepribadian, sosial dan profesional. Nah, di mana saya sangat berfokus pada kemampuan pendidik yang adaptif sehingga nantinya kemampuan lainnya akan datang beriringan, sejalan dengan implementasi dari kemampuan adaptif di daerah khusus.

Sikap adaptif tersebut tentunya membuat pendidik secara terbuka menerima, mempelajari, memahami segala perangkat potensi sosial-kultural yang ada di dalam lingkungan belajar peserta didik. Baik itu bahasa, tradisi, kondisi ekonomi kemasyarakatan dan lain sebagainya. Potensi sosial-kultural secara utuh mengambarkan hakikat dari manusia Indonesia itu sendiri.

Baca Juga :  Pembelajaran Daring, Strategi apa yang Harus Dilakukan?

Di mana manusia yang punya beragam keunikan dari segi sosial-kultural yang menjadi fokus utama pendidik ialah peserta didik. Peserta didik serta merta tidak dilihat sebagai sekumpulan orang yang sama, melainkan dilihat sebagai manusia yang unik, manusia kompleks, dan manusia yang beragam (heterogen). Satu kelas belum tentu memiliki latar belakang sosial-kultural yang sama. Sama halnya dengan gaya belajar, kondisi psikologi, ritme belajar, motivasi belajar dan lain sebagainya.

Jadi, seorang pendidik harus secara aktif memfasilitasi segala potensi yang di miliki peserta didik. Profesionalitas pendidik harus jeli dalam mengkolaborasikan kondisi sosial-kultural peserta didik dengan materi ajar. Pendidik harus cerdas dalam memetakan kebutuhan peserta didik melalui metode serta pendekatan yang dikuasai. Pendidik ialah sosok-sosok multi talenta yang mampu mengimplementasikan segala perangkat kebhinekaan dan Pancasila di lokasi mengajar dan mengabdi khususnya di daerah di 3T.

Baca Juga :  Melirik Potensi Wisata Arung Jeram Desa Kaloy Aceh Tamiang

Sebagaimana yang menjadi poin utama dari filosofi Ki Hadjar Dewantara yang selalu menjadi pengangan saya ketika mengajar, ialah: “Pendidikan itu berhamba kepada sang anak”. Demikian jabaran perspektif saya, salam guru hebat![]

*Penulis adalah Mahasiswa PPG Prajabatan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

banner 300250