Pecinta Alam Namun Tak Cinta Seperti Namanya

Lingkungan, Opini0 Dilihat

Oleh : Moch Rizky Agust Suryana*

Pecinta alam yang terdiri dari dua kata “Pecinta” dan “Alam” pecinta adalah orang yang mencintai sedangkan alam adalah suatu ekosistem yang ada dengan segala isinya. Namun alam selalu identik dengan gunung dan pecinta alam adalah seseorang atau komunitas yang mempunyai hobi mendaki gunung dan menjelajah hutan saja, padahal hakikat dari alam itu sendiri terdiri dari banyak unsur yang terdiri dari manusia, tumbuhan, hewan, angin, air, sungai, ada juga lembah dan masih banyak lainnya. Jadi, kalau alam adalah berikut seluruh isinya, mengapa hanya gunung saja yang diperhatikan?

Mengapa sungai dan pantai yang bau, lingkungan kotor dan amis tidak dikunjungi? Mengapa rupa-rupa buruk alam lainnya tidak disapa? Mengapa selalu tentang gunung dan gunung? Atau karena pecinta alam adalah orang yang hanya mencintai alam hanya ketika indah saja dan ketika kotor seolah-olah tidak peduli dan ditinggalkan?

Mendaki gunung saat ini memang sudah bukan hanya dari kelompok pecinta alam dan kelompok pendaki gunung saja namunn sudah menjadi aktivitas yang bisa dilakukan semua kalangan, hal ini menjadi tugas bersama baik organisasi berlatar belakang yang berkaitan untuk mengajarkan persiapan dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di gunung. Memang mendaki gunung saat ini hanyalah suatu trend anak muda tetapi hanya sebagai ajang untuk membuktikan diri seolah-olah ketika dia berhasil mendaki dia hebat dan gaul bisa disebut juga untuk kepuasan pribadi saja yang malah berdampak pada kerusakan alam dan kerusakan kestabilan ekosistem yang membuat pencemaran lingkungan tidak bisa dihindari karena saking banyaknnya pendaki liar yang tak tahu adat.

Saat ini banyak terbangun komunitas pecinta alam dari sekolah-sekolah sampai universitas yang biasa disebut SISPALA atau IMAPALA suatu komunitas pecinta alam yang mengajarkan cara-cara mencintai dan menjaga alam, tetapi kadang tak sesuai namanya yang dimana banyak dari mereka hanya masuk dalam komunitasnya tapi tidak dengan pengamalannya dalam diri mereka dan lingkungan sekitarnya.

Saat ini banyak komunitas pecinta alam mengajak atau memperkenalkan komunitas mereka kepada orang-orang di masyarakat dengan mengadakan acara seperti pendakian bersama, menjelajah hutan dan berkemah dihutan padahal justru dari acara seperti itu malah banyak masyarakat yang baru pertama ikut seenaknya mengotori alam dengan membuang sampah sembarangan dan putung rokok yang justru membuat kotor gunung dan hutan-hutan, padahal ada kegiatan yang lebih bermanfaat seperti menanam ratusan bibit pohon secara serempak, membersihkan sungai yang kotor akibat sampah dan masih banyak kegiatan serupa yang lebih banyak manfaatnya.

Jadi kedepannya harus ada tindak lebih lanjut lagi dalam pembinaan terhadap para pecinta alam agar menjadikan pecinta alam menjadi komunitas yang citranya tidak dipandang buruk oleh banyak orang dan menjadikan pecinta alam ini bukan hanya sekedar nama saja sebagai pecinta alam tetapi yang benar-benar bisa memberikan manfaat terhadap lingkungan masyarakat dari kecintaannya terhadap alam.

Mencintai Alam tidak selalu harus orang yang berada dalam organisasi khusus pecinta alam, mencintai alam sudah seharusnya kita lakukan sebagai manusia, karena jika alam dicintai maka alam akan memberikan apa yang manusia butuhkan, alam harus kita rangkul karena luka alam adalah bencana bagi kemanusiaan. Selain mencintai, alam juga harus dipelihara agar kelak anak cucu kita bisa merasakan alam yang begitu indah dan bermanfaat. Karena dengan melakukan tindakan tersebut kita sudah menjadi manusia yang mencintai alam termasuk mencintai sesama manusia.

Menjadi pecinta alam juga adalah tentang diri. Dengan mengcintai alam kita harus mencinta orang-orang yang ada dibumi ini, dengan mencinta alam kita harus mencintai hewan dan tumbuhan yang ada di dunia ini, dan yang paling penting dengan mencintai alam kita harus mengalahkan diri kita sendiri, seperti itu katanya. Mencintai alam dengan melakukan pendakian bukit, gunung dan telusur sungai dan gua, bukan tentang menaklukan alam. Ini terlebih tentang menaklukan ego dalam diri kita sendiri.[]

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta, email : rizkyagust20@gmail.com