Pemanfaatan Pygmalion Effect dalam Belajar

Oleh : Talitha Firjatullah*

Pernahkah anda tiba – tiba bersemangat ketika ada seseorang memberikan ucapan positif terhadap apa yang sudah anda lakukan seperti “kemampuan melukismu sudah meningkat, kamu pasti akan menang jika mengikuti perlombaan “. Secara sadar maupun tidak sadar kalimat – kalimat positif yang diberikan orang lain akan menimbulkan motivasi untuk lebih baik lagi. Hal ini ternyata benar adanya, dalam psikologi dikenal dengan Pygmalion effect.

Pygmalion effect adalah fenomena psikologi di mana semakin tinggi anda meletakkan harapan terhadap orang lain maka semakin baik kinerjanya. Atau dapat dianalogikan keyakinan yang anda berikan atas orang lain akan mempengaruhi tindakan anda yang kemudian berdampak munculnya perasaan yakin pada diri orang tersebut. Istilah Pygmalion ini diangkat dari mitos Yunani. Pygmalion merupakan seorang pematung yang terinspirasi oleh mimpinya sendiri untuk membuat patung yang sangat cantik, patung tersebut bernama galatea.

Karena kecantikannya dan keindahannya ini kemudian pygmalion jatuh cinta padanya dan meminta kepada Dewa Aphrodite, yaitu dewa cinta untuk merubah patung tersebut menjadi manusia hidup. Permintaanya dikabulkan dan menikahlah keduanya. Terinspirasi akan hal ini, kemudian terbentuklah Pygmalion effect . Awal terbentuknya diawali dengan gagasan yang diberikan Rosenthal dan Lennor Jakobson dalam bukunya tahun 1998. Dijelaskan bahwa ekspektasi positif terhadap orang lain dapat meningkatkan performa dalam dirinya.

Baca Juga :  Perspektif Pengaruh Peran Peradilan Agama dalam Penyelesaian Sengketa Keluarga

Mengapa ekspektasi positif dapat memperkuat performa seseorang? Ketika ada seseorang menaruh harapan yang kuat terhadap anda, secara sadar anda akan berperilaku seolah apa yang orang lain harapkan dapat dengan mudah untuk diwujudkan. Contoh sederhananya, yaitu ketika diantara anda menjadi siswa di lingkungan sekolah yang guru maupun kepala sekolahnya memiliki ekspektasi tinggi terhadap siswanya. Lalu kemudian para guru tersebut akan melatih anda lebih keras dengan membiasakan menghadapi situasi sulit yang diharapkan bisa beradaptasi dengan berbagai penguatan.

Dengan kata lain anda dibentuk untuk bisa lebih maju dan berhasil dengan berbagai cara, dengan begitu anda akan berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya, jika seorang guru meyakini bahwa anda akan gagal maka secara tidak langsung perlakuan yang diberikan biasa saja seperti memberikan soal yang tidak perlu berpikir terlalu rumit, tidak dibiasakan dengan hal – hal yang memang harus dipecahkan dengan cara terbaik , dikatakan tidak pandai atau bisa jadi dianggap tidak mampu belajar dengan baik. Dengan hal tersebut kemudian memunculkan rasa tidak percaya diri pada anda dan membuat seolah anda berjalan menuju kegagalan.

Baca Juga :  Indahnya Ramadhan dengan Berburu Takjil dan Berburu Lailatul Qadar

Lalu, bagaimana cara mengolah Pygmalion effect agar dapat meningkatkan performa dalam belajar? Dalam hal ini, anda bisa memulainya dengan hal – hal kecil yang ada di lingkungan sekitar. Berikut merupakan cara pemanfaatan Pygmalion effect : 1) Mengidentifikasi keyakinan orang – orang sekitar yang berkorelasi secara positif dengan anda. Coba jelaskan korelasi positif tersebut dengan melihat kinerja anda di berbagai bidang. Tuliskan dengan jujur apa harapan anda. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anda; 2) Berharap keberhasilan. Setelah harapan dari mereka diketahui dengan jelas, lakukan juga usaha yang konsisten. Maka keberhasilan tidak sekadar menjadi harapan namun bisa menjadi kenyataan; 3) Membiasakan diri untuk berpikir positif. Dengan terus berpikiran positif maka akan mempengaruhi tingkah laku anda terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain; 4) Mulai kurangi ekspektasi negatif terhadap orang lain. Hal ini dapat dilakukan karena sudah adanya pemahaman bahwa ekspektasi negatif akan berpengaruh pada orang lain; dan 5) Tetap memperhatikan sikap realistis. Walaupun Pygmalion effect benar adanya jangan terlalu berharap pada orang lain dan juga terhadap diri anda sendiri, karena hal itu bisa jadi akan menimbulkan beban. Dan bisa juga hal ini menjadikan anda frustasi dan mengganggu mental untuk maju kedepannya.

Baca Juga :  Pendidikan Agama dan Penggunaan Gadget yang Tepat pada Anak Usia Dini

Jadi, terlepas ekspektasi positif dari seseorang dapat meningkatkan performa diri. Tidak kemudian menjadikannya sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan keberhasilan dari yang anda impikan. Harus juga adanya pengimbangan usaha yang konsisten, berpikiran positif, mencari lingkungan yang mendukung.[]

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, email : talithafirjatullah03@gmail.com

banner 300250