Pendidikan Dalam Era New Normal

Oleh : Rudi Hartono*

Dalam seminggu ini, setidaknya sebagian kota besar di Indonesia sudah mempersiapkan diri menghadapi era “new normal”. Itu artinya, setiap faktor atau aspek kehidupan seperti misalnya pendidikan yang sempat terhambat karena batasan PSBB, kini perlahan mulai kembali seperti sebelum mewabahnya virus corona. Dalam keadaan bagaimanapun, pendidikan harus tetap berlangsung karena tidak saja terkait dengan masa depan generasi penerus bangsa, bahkan umat manusia.

Terlebih jika kita semua sependapat bahwa dalam sejarah kehidupan manusia pendidikan dalam berbagai bentuknya merupakan rekayasa sosial dengan mana berbagai kecerdasan manusia diasah agar mampu menjadi khalifah dalam kehidupannya di muka bumi.

Oleh sebab itu, kita patut berterimakasih kepada para pendiri negeri ini yang dengan kesadaran kolektif sepakat menjadikan pendidikan sebagai salah satu cita-cita kemerdekaan. Lebih dari itu, didasari oleh visi jauh ke depan, di bagian pembukaan konstitusi ditegaskan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan eksistensi bangsa ini. Konsekuensinya, apapun hambatannya termasuk Pandemi Covid 19, pendidikan must go on.

Study from Home: Persiapan Menuju New Normal

Baca Juga :  Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Menghasilkan Orang yang Terdidik

Sejak Mas Menteri (panggilan akrab Mendikbud RI) menerbitkan surat edaran tentang Study from Home (SFH) bulan Maret 2020 yang lalu, satu tahun sudah kita belajar dan kuliah dari rumah guna menghindari wabah Covid 19. Apakah selama itu mereka semua pura-pura belajar? Apakah selama itu pula guru, dosen, kepala sekolah, dan pejabat serta tenaga kependidikan lainnya berleha-leha atau merenungi keterkurungan di rumah masing-masing? Apakah SFH hanya salah satu upaya sementara untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah menyelenggarakan sekolah sebagaimana biasanya?

Ini semua pertanyaan-pertanyaan keblinger karena berharap besok kita akan kembali seperti kemarin ketika hidup di era Old Normal. Pertanyaan positif nan bijak seyogyanya didasari semangat memasuki era New Normal yakni; Apa pelajaran yang kita dapat dari SFH untuk dijadikan modalitas memasuki era New Normal? Apa paradigma dan praktik pendidikan era Old Normal yang harus kita tinggalkan? Seperti apa rancangan “persekolahan” hari esok?

Sesungguhnya bencana itu merupakan krisis karena terjadi mendadak tanpa peringatan dan sebagaimana disampaikan dalam tulisan lain telah membawa wahyu perubahan. Oleh sebab itu tidak satu pun pemangku kepentingan siap, dipersiapkan, dan mempersiapkan diri mengatasinya sehingga penerapan SFH masih banyak kekurangan di sana-sini. Akan tetapi, jika kita berfikir positif, banyak pelajaran berharga yang kita peroleh. Banyak pula praktik persekolahan dalam arti moda pembelajaran yang sebelumnya kita tolak seperti belajar jarak jauh, home schooling, ujian sekolah dan semacamnya, selama SFH kita terapkan. Tidak berlebihan jika SFH telah mengembalikan pendidikan ke hakekatnya yang esensial yaitu learning.

Baca Juga :  Budaya Berkilau di Linggoasri, Memahami Keberagaman dalam Cerita Warisan

Revolusi Mental siswa

Banyak siswa yang merasa terisolasi dari relasi pertemanan, takut karena wabah, jenuh dengan situasi di rumah, sampai ketegangan relasi keluarga karena dampak ekonomi selama pandemi.Semua pengalaman terbaik dari penerapan SFH tidak boleh disia-siakan karena bermimpi kembali pulang ke rumah lama. Harus disadari bahwa bencana yang sekarang dialami umat manusia di seluruh muka bumi akan menjadikan hari esok tidak akan pernah sama lagi dengan kemarin. Yang tersedia hanya one way ticket. Dengan kesadaran itu, pengalaman terbaik selama SFH harus dijadikan pelajaran, kemudian diperkaya dan diperkuat untuk dikemas menjadi strategi baru pendidikan di rumah yang baru.

Untuk itu, diperlukan revolusi mental. Kini saatnya siswa memerdekakan dirinya mencari ilmu yang diperlukannya sesuai dengan minat, kemampuan dan cita-citanya berbasis merdeka belajar. Orangtua murid menguatkan kedudukannya sebagai pemilik utama anak termasuk masa depannya. Untuk itu mereka harus bekerjasama bahu membahu dengan kepala sekolah dan guru dalam mengelola sekolah dan pembelajaran. Saatnya guru menjadi guru sejati yang belajar dan membelajarkan diri sendiri dan muridnya. Pengelola sekolah secara proaktif menerapkan sebenar-benarnya manajemen berbasis sekolah untuk membangun kampus merdeka dengan menjadikan masyarakat sebagai pengendali mutunya.

Baca Juga :  KUHP Baru Meringankan Pidana Kasus Korupsi

Sebagai penutup, sekali lagi mengingatkan bahwa Pandemi Covid 19 membawa wahyu perubahan yang menuntut revolusi mental semua manusia di muka bumi khususnya bangsa Indonesia. Lebih khsusus lagi pemangku kepentingan pendidikan. Kurang normal jika new normal dikelola secara old normal. Hanya saja: Siapkah? Maukah? Mampukah? Ikhlaskah? Kita semua yang harus menjawabnya!

*Penulis adalah Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan Jakarta, email : rudih1055@gmail.com

banner 300250