Penguatan Akidah pada Masyarakat Muslim Desa Selopampang

Oleh : Maya Trilifia Febriani

Pendidikan agama Islam ialah pendidikan yang memuat syariat Islam. Pendidikan Islam memilliki banyak tujuan terutama dalam lngkungan keluarga. Untuk mewujudkan insan yang beriman dan taat pada ajaran agama, maka perlu dibangun landasan keagamaan berupa penguatan aqidah. Aqidah merupakan iman atau keyakinan yang pasti , serta tidak ada keraguan sedikitpun terhadap orang yang meyakinkannya.

Layaknya sebuah rumah, akidah merupakan sebuah pondasi yang menentukan baik buruknya seorang Muslim. Tujuan penanaman akidah terhadap umat untuk membentuk pondasi dasar mereka sebagai orang Muslim dalam menjalankan ajaran agama Islam seutuhnya. Dapat kita ketahui bahwa akidah masyarakat masih tergolong rendah, dikarenakan masyarakat masih kuat memegang budaya atau adat Karo, baik dalam bentuk kepercayaan, tingkat laku, sampai dengan ritual-ritual tertentu.

Penguatan Akidah

Pendidikan adalah suatu proses dalam mengantarkan manusia kepada kesempurnaan yang dilakukan melalui lembaga formal, informal dan nonformal. Sedangkan, akidah merupakan suatu kepercayaan atau keyakinan. Akidah merupakan suatu perkara yang harus diyakini keberadaannya wajib diikuti oleh hati, menentramkan jiwa sehingga menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan (Ahmad & Tambak, 2018: 24-41). Aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu aqada-yaqidu yang berarti mengumpulkan atau mengokohkan. Sedangkan secara epistemologi, akidah adalah keyakinan yang tersimpul dengan kokoh di dalam hati.

Baca Juga :  Seruan #StopBayarPajak Harus Distop!

Aqidah sebagai dasar utama ajaran Islam bersumber pada Al-Qur’an dan Assunah. Aqidah Islam mengikat seorang muslim sehingga terikat dengan segala aturan hukum yang dating dari Islam. Dalam suatu pembelajaran, akidah hanya sebagai suatu materi yang hanya disampaikan dan diterima oleh siswa. Dengan hal ini, santri juga dibentuk agara pengetahuan akidah yang dimiliki dapat diingat, dihayati dalam hati serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan tujuan gama Islam, yaitu pendidikan dengan tujuan untuk membentuk pribadimuslim yang seutuhnya, menumbuhkan hubungan yang harmonis setiap manusia dengan penciptanya, dan manusia dengan alam semesta.

Budaya sadranan sebagai media penguatan akidah Islamiyah

Istilah nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “Sradha”. Istilah yang digunakan warga Hindu untuk upayaca pemuliaan roh leluhur. Diawali di masa pemerintahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, ia menyelenggarakan upacara Sradha untuk memuliakan arwah sang Ibunda Tribuwana Tunggadewi. Masuknya Islam membuat ritual Sradha menjadi tradisi nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah, dimana bulan Syakban dianjurkan untuk memuliakan orang tua, termasuk yang sudah meninggal.

Baca Juga :  Peran Geolistrik dalam Menentukan Letak dan Kedalaman Akuifer Air Tanah

Di Selopampang Temanggung budaya sadranan hingga sekarang terus terjaga dan masih tetap berlangsung bahkan dalam pelaksanaannya juga dilaksanakan dengan meriah. Tradisi sadranan masyarakat Selopampang Temanggung diawali dengan ziarah kubur kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan yang dibawa oleh setiap keluarga dijadikan satu lalu dibagi lagi secara merata pada semua keluarga yang melakukan sadranan.

Pada budaya sadranan bisa dijadikan sarana untuk menjalin silaturahmi dan menjadi wujud sedekah dan berbagai sesama yang lebih penting lagi adalah sebagai simbolisasi relasi sesama baik itu manusia dengan Tuhan Yang maha Esa (Akhmad Ludiyanto, 2019). Tradisi sadranan ini menjadi tradisi yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat. Hal itu terbukti dalam pelaksanaan tradisi sadranan selalu melibatkan seluruh masyarakat, bahkan tidak sedikit masyarakat yang merantau pulang kampung untuk sekedar mengikuti tradisi sadranan.

Baca Juga :  Jalinan Kasih Pejuang ABK Jenjang Sekolah Dasar

Budaya tersebut dapat menjadi media untuk meningkatkan aqidah seseorang, dengan berziarah maka seseorang akan langsung berhubungan dengan Tuhannya. Lewat zikir yang mereka lafazkan maka mereka yakin adanya Tuhan yang mereka sembah. Juga karena lantaran berziarah mereka akan selalu diingatkan akan adanya kematian yang akan mereka alami. Hal tersebut menjadika aqidah seseorang akan bertambah. Dengan percaya adanya suatu qadha dan qadarullah.[]

*Penulis adalah mahasiswi INISNU Temanggung, email : mayatrilifia@gmail.com

banner 300250