Pentingnya Menuntut Ilmu Syar’i (Agama) Bagi Setiap Muslim

Ketika kita mempelajari ilmu syari, kita akan mendapati bahwa ulama-ulama telah memberikan ketentuan baku dalam setiap buku dan cabang keilmuan, baik itu terkait aqidah (keyakinan) maupun fiqih (hukum-hukum Islam). Ketentuan-ketentuan ini hadir untuk memberikan pedoman yang jelas bagi kita dalam mempelajari dan memahami ilmu syari. Dengan adanya ketentuan-ketentuan tersebut, kita dapat mengarahkan pembelajaran kita dengan lebih terstruktur dan fokus.

Dalam buku-buku dan cabang-cabang keilmuan yang berkaitan dengan ilmu syari, ulama-ulama telah menguraikan prinsip-prinsip yang mendasari keyakinan dan pemahaman kita tentang agama. Mereka telah mengidentifikasi hal-hal yang harus dipahami dan diyakini dalam aqidah, serta hukum-hukum dan aturan-aturan yang mengatur kehidupan sehari-hari dalam fiqih. Semua ini dituangkan dalam ketentuan baku yang dapat menjadi pedoman bagi setiap penuntut ilmu syari.

Dengan memiliki pedoman yang jelas ini, kita dapat memperoleh arah yang benar dalam mempelajari dan memahami ajaran Islam. Ketika kita menuntut ilmu syari, kita tidak hanya belajar secara acak atau tanpa arah yang jelas. Sebaliknya, kita dapat merujuk kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh ulama sebagai landasan ilmu yang sahih dan valid. Ini membantu kita memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan akurat tentang aqidah dan fiqih, serta memperkuat landasan keimanan kita.

Dengan demikian, adanya ketentuan baku yang diberikan oleh ulama dalam setiap buku dan cabang keilmuan ilmu syari memberikan kita pedoman yang jelas dalam menuntut ilmu. Ini memungkinkan kita untuk belajar dengan cara yang terarah dan terstruktur, sehingga kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang ajaran agama dan meningkatkan keimanan kita secara kokoh.

Sebelum mempelajari ilmu syari, penting bagi kita untuk memahami urgensi dan pentingnya dalam mempelajarinya. Terkadang terdapat kesan bahwa ilmu dunia tidak bermanfaat, namun sebenarnya di dalamnya terdapat makna yang sangat dalam. Namun, ketika kita mempelajari ilmu syari, hal ini diberikan prioritas yang lebih tinggi daripada ilmu dunia, meskipun ilmu dunia juga memiliki keterkaitan dengan ilmu syari. Pentingnya mempelajari ilmu syari tidak berarti mengabaikan ilmu dunia. Sebaliknya, ada hubungan yang erat antara keduanya. Ilmu dunia dapat memberikan manfaat dalam kehidupan materi dan dunia sehari-hari, seperti pengetahuan tentang ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, ilmu dunia ini juga harus dikaitkan dengan ilmu syari agar dapat dimanfaatkan dengan cara yang sesuai dengan prinsip dan ajaran agama.

Dalam konteks ini, urgensi mempelajari ilmu syari menjadi lebih penting. Mempelajari ilmu syari membantu kita untuk memahami aqidah yang benar, hukum-hukum Islam, dan prinsip-prinsip moral yang terkandung di dalamnya. Dengan mempelajari ilmu syari, kita dapat mengetahui tata cara beribadah yang benar, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ilmu syari juga membimbing kita dalam memahami nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kebaikan sosial yang menjadi landasan dalam kehidupan beragama.

Ilmu syari juga membantu kita dalam mengenal Allah dengan lebih mendalam dan memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Saat kita memahami ajaran-ajaran agama dan mengamalkannya, ilmu dunia yang kita pelajari juga akan lebih terarah dan dapat digunakan untuk kebaikan. Dengan mengutamakan ilmu syari, kita membangun fondasi keimanan yang kuat, memahami tujuan sejati kehidupan, dan mengintegrasikan ilmu dunia dengan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali urgensi dan kepentingan dalam mempelajari ilmu syari. Sementara ilmu dunia memiliki manfaatnya sendiri, ilmu syari memberikan arah yang jelas dalam memandu kehidupan kita sesuai dengan ajaran agama. Mengutamakan ilmu syari tidak berarti mengabaikan ilmu dunia, tetapi memadukan keduanya sehingga ilmu dan amal kita menjadi berkah bagi kehidupan kita dan orang lain

Salah satu aspek penting dalam mempelajari ilmu syari adalah mengenal Allah. Ketika kita memiliki pemahaman yang kuat tentang Allah, hubungan kita dengan-Nya menjadi lebih dalam dan menyeluruh. Pemahaman tentang Allah mengarahkan kita untuk memahami makna sejati dari kehidupan dan tujuan eksistensi kita di dunia ini. Ketika kita mengenal Allah, pemahaman dan penghayatan terhadap ilmu dunia juga menjadi lebih baik. Mengenali Allah sebagai Pencipta dan Pemberi segala ilmu dan pengetahuan menginspirasi kita untuk menjelajahi keajaiban ciptaan-Nya.

Baca Juga :  Pria Corat-Coret Mesjid di Tamiang dengan Kata-kata Jorok Terekam CCTV

Dalam mempelajari ilmu dunia, kita dapat melihat keberadaan tanda-tanda kebesaran Allah dalam segala aspek kehidupan. Hal ini membuat proses belajar ilmu dunia menjadi lebih berarti dan bernilai. Selain itu, mengutamakan pembelajaran ilmu syari daripada ilmu dunia juga berkaitan dengan kebutuhan mental dan spiritual kita sebagai individu. Ilmu syari membantu memenuhi kebutuhan jiwa dan ketenangan batin kita. Dalam kehidupan yang serba sibuk dan penuh dengan tantangan, memperdalam pemahaman tentang agama dan mengamalkan ajaran-ajaran agama membantu kita menjaga keseimbangan dan kestabilan mental.

Mengutamakan ilmu syari tidak berarti mengabaikan ilmu dunia secara mutlak. Ilmu dunia tetap memiliki nilai dan manfaatnya sendiri dalam kehidupan kita. Namun, dengan mengutamakan pembelajaran ilmu syari, kita menempatkan prioritas yang tepat pada pembangunan spiritual dan moral kita. Ini membantu kita menjalani kehidupan yang seimbang, dengan memadukan kedua aspek tersebut dengan cara yang harmonis. Dalam kesimpulannya, mengenal Allah adalah aspek yang sangat penting dalam mempelajari ilmu syari. Pemahaman tentang Allah memperkaya pemahaman kita terhadap ilmu dunia dan membantu memenuhi kebutuhan mental dan spiritual kita sebagai individu. Dengan mengutamakan pembelajaran ilmu syari, kita menempatkan prioritas yang benar pada pembangunan diri secara keseluruhan.

Ilmu syari memang dibagi menjadi dua kategori, yaitu fardhu ain dan fardhu kifayah. Fardhu ain merujuk pada ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu Muslim. Ini berarti setiap Muslim berkewajiban untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek-aspek penting dalam agama yang menjadi tanggung jawab pribadi. Contoh ilmu fardhu ain antara lain adalah pengetahuan tentang aqidah (keyakinan), fiqh (hukum-hukum Islam), dan ibadah-ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ilmu ini merupakan bagian esensial dalam kehidupan seorang Muslim dan menjadi landasan untuk menjalankan tuntutan agama secara benar.

Sementara itu, fardhu kifayah merujuk pada ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian orang dalam masyarakat Muslim. Yaitu ilmu yang dibutuhkan manusia demi tegaknya agama mereka yang sifatnya harus ada. Ini berarti jika ada beberapa individu yang telah memperoleh pengetahuan dalam bidang tersebut, maka kewajiban mempelajarinya akan terpenuhi bagi seluruh komunitas. Contoh ilmu fardhu kifayah adalah menghafal Al-quran, hadits, dan ilmu hadits, ilmu ushul, fikih, nahwu, bahasa arab, shorof, ilmu perowi hadits, ijma, dan perselisihan ulama. Sehingga, jika ada sekelompok orang yang memperoleh pemahaman dalam bidang tersebut, maka tidak semua individu harus mempelajarinya secara mendalam, tetapi tetaplah penting untuk ada sejumlah individu yang berdedikasi untuk memperoleh pengetahuan tersebut.

Pemisahan ilmu syari menjadi fardhu ain dan fardhu kifayah membantu menjaga keseimbangan dan tanggung jawab di antara komunitas Muslim. Dengan mempelajari ilmu fardhu ain, setiap individu dapat memenuhi kewajibannya dalam menjalankan ajaran agama secara benar. Sementara itu, melalui ilmu fardhu kifayah, komunitas dapat memastikan bahwa ada individu yang memiliki keahlian dan pengetahuan dalam bidang-bidang yang diperlukan untuk melayani dan memberikan bimbingan dalam masyarakat. Pentingnya mempelajari ilmu fardhu ain oleh setiap individu dan memastikan keberadaan ilmu fardhu kifayah dalam komunitas membantu membangun masyarakat yang lebih berkualitas dalam memahami dan mengamalkan agama.

Jika seseorang menganggap paradigma mempelajari ilmu syari hanya sebagai pilihan dan mengabaikannya, hal ini termasuk dalam keraguan atau syubhat. Keraguan tersebut timbul karena orang tersebut tidak memahami urgensi dan pentingnya mempelajari ilmu syari sebagai bagian integral dari kehidupan agama. Ketika seseorang malas mempelajari ilmu syari karena menganggap bahwa semua ilmu itu bermanfaat dan tidak masalah jika tidak mempelajari ilmu syari, itu merupakan suatu pemikiran yang keliru. Dalam ilmu syari terdapat aspek-aspek fardhu ain yang menjadi kewajiban setiap individu, terutama dalam masalah aqidah (keyakinan) dan ibadah wajib seperti shalat. Mengabaikan pembelajaran ilmu syari dalam hal-hal tersebut dapat menyebabkan keraguan dalam pemahaman dan pelaksanaan agama.

Baca Juga :  Bukan Sekedar Ucapan Poster, Selamat Hari Guru

Dalam Islam, mempelajari ilmu syari yang menjadi fardhu ain adalah suatu kewajiban yang harus ditepati. Mempelajari aqidah yang benar, memahami prinsip-prinsip dasar agama, dan menjalankan ibadah wajib dengan pemahaman yang benar adalah bagian integral dari kehidupan seorang Muslim. Hal ini juga memberikan landasan yang kokoh dalam mempraktikkan ajaran agama secara keseluruhan. Jadi, penting bagi seseorang untuk tidak menganggap remeh atau mengabaikan ilmu syari, terutama dalam hal-hal yang termasuk fardhu ain. Mempelajari ilmu syari dengan sungguh-sungguh membantu menghindari keraguan dan membangun keimanan yang kuat serta menghidupkan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Ibadah ini melibatkan berbagai aktivitas yang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang benar. Tanpa didasari oleh ilmu yang benar, bagaimana mungkin ibadah kita dapat diterima oleh Allah?. Dalam agama Islam, ibadah merupakan wujud pengabdian dan hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta. Ibadah meliputi shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Setiap ibadah memiliki aturan, tata cara, dan hukum-hukum yang harus kita pahami dengan baik.

Pentingnya ilmu dalam ibadah dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, ilmu memastikan bahwa ibadah kita dilakukan sesuai dengan tuntunan agama. Misalnya, dalam shalat, kita harus mempelajari gerakan-gerakan yang benar, bacaan-bacaan yang tepat, dan tata cara pelaksanaannya. Hanya dengan pengetahuan yang benar, kita dapat menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan. Kedua, ilmu membantu kita memahami tujuan dari setiap ibadah. Ketika kita memiliki pemahaman yang baik tentang mengapa kita beribadah dan apa tujuan akhirnya, ibadah kita akan dilakukan dengan keikhlasan dan dedikasi yang lebih tinggi.

Ilmu mengarahkan kita untuk menyadari pentingnya hubungan dengan Allah dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Ketiga, ilmu membantu kita menghindari kesalahan dan praktek-praktek yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam ibadah, terdapat hukum-hukum yang harus dipatuhi, dan ketidaktahuan dapat mengakibatkan pelaksanaan yang salah. Dengan memperoleh ilmu yang benar, kita dapat menghindari kesalahan dan melaksanakan ibadah dengan kepatuhan dan kecermatan.

Jadi, ibadah yang diterima oleh Allah memerlukan dasar ilmu yang benar. Ilmu merupakan landasan penting dalam menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran, pemahaman, dan ketaatan. Dengan pengetahuan yang benar, ibadah kita akan menjadi lebih bermakna, lebih dekat dengan Allah, dan lebih memberikan manfaat spiritual dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, penting bagi kita untuk selalu mencari ilmu yang benar dan memperdalam pemahaman kita tentang ibadah. Dengan melibatkan ilmu dalam ibadah kita, kita dapat memastikan bahwa ibadah kita diterima oleh Allah dan mendapatkan keberkahan serta kepuasan spiritual yang lebih tinggi.

Dalam pandangan yang tepat, jika seseorang berpikir bahwa semua ilmu memiliki manfaat yang sama dan mengabaikan ilmu syari, atau hanya mempelajarinya secara sekedarnya, hal ini tidak tepat. Setiap ilmu memiliki manfaatnya masing-masing, dan setiap individu memiliki talenta dan minat yang berbeda-beda dalam mengembangkan ilmunya. Namun, perlu dipahami bahwa dalam mempelajari ilmu syari, tujuan dan arahannya sudah diatur dengan baik oleh ulama. Sebagai penuntut ilmu (thalibul ilmi), kita diarahkan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan aplikasi yang benar dari ajaran agama. Ulama telah menetapkan struktur pembelajaran dan tingkatan dalam mempelajari ilmu syari, yang memungkinkan kita untuk mengikuti perjalanan pembelajaran yang benar dan terarah.

Meskipun kita mungkin masih berada pada tingkatan penuntut ilmu (thalibul ilmi), ini tidak berarti bahwa kita mengabaikan pentingnya ilmu syari atau hanya mempelajarinya secara sekedarnya. Sebaliknya, kita diharapkan untuk tetap bersemangat, tekun, dan sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu syari dengan tujuan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama. Melalui proses ini, kita dapat terus meningkatkan keimanan dan pengetahuan kita dalam rangka menjadi lebih baik dalam beribadah kepada Allah dan memperbaiki diri. Mencapai tingkatan ahli ilmu adalah perjalanan yang membutuhkan komitmen dan dedikasi yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Konsep Tauhid dalam Pengasuhan Anak-anak

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar dan meningkatkan pemahaman kita tentang ilmu syari. Dalam perjalanan ini, kita dapat terus mendapatkan bimbingan dari ulama, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan kita, dan menerapkan ilmu syari secara lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, meskipun kita masih berada pada tingkatan penuntut ilmu (thalibul ilmi), bukan berarti kita mengabaikan atau hanya mempelajari ilmu syari secara sekedarnya. Kita diharapkan untuk terus berupaya meningkatkan diri, mempelajari ilmu syari dengan sungguh-sungguh, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, kita dapat terus maju dalam perjalanan kita menuju tingkatan ahli ilmu, sambil terus meningkatkan keberibadian kita, beribadah kepada Allah dengan lebih baik, dan memperbaiki diri.

Dalam pandangan yang tepat, jika seseorang enggan menerima tuntutan mempelajari ilmu agama dan lebih memilih untuk belajar secara sembarangan, tidak memperdulikan kualitas dan kedalaman ilmu yang diperoleh, maka sulit bagi mereka untuk menjadi manusia yang kuat atau bahkan pemimpin dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

Pertama ; Kekuatan manusia dan kepemimpinan yang baik membutuhkan pondasi yang kuat dalam ilmu dan pemahaman yang mendalam. Ilmu syari merupakan ilmu yang berhubungan langsung dengan keimanan dan ajaran agama. Dalam membangun kepribadian yang kuat dan menjadi pemimpin yang baik, seseorang harus memahami prinsip-prinsip agama, etika, moral, dan nilai-nilai yang benar. Hanya dengan memperoleh pengetahuan yang benar dan mendalam dalam ilmu syari, seseorang dapat membangun fondasi yang kokoh untuk perkembangan dirinya sebagai manusia yang kuat dan pemimpin yang berkualitas.

Kedua ; Ilmu dunia juga memiliki manfaatnya sendiri dan tidak boleh diabaikan. Namun, penting untuk mengubah pola pikir anak-anak agar mereka mengutamakan pembelajaran ilmu syari dan memberikan nilai yang tinggi padanya. Hal ini bukan hanya sekadar pilihan yang lebih utama, tetapi juga merupakan kewajiban yang harus dihayati sebagai bentuk keimanan kepada Allah dan upaya untuk mengenal-Nya dengan baik.

Ketiga ; Dalam ilmu syari terdapat aspek-aspek yang memiliki sifat fardhu ain, yang menjadi kewajiban bagi setiap individu Muslim. Aspek-aspek ini harus ditanamkan dengan kuat dalam hati dan keimanan kita kepada Allah. Dengan memperdalam pemahaman tentang aqidah, ibadah wajib seperti shalat, dan masalah-masalah fardhu lainnya, kita dapat memperkuat ikatan spiritual kita dengan Allah dan mengenal-Nya dengan lebih baik.

Keempat ; Mengenal Allah dengan baik adalah langkah penting dalam menjalani kehidupan kita. Ketika kita memiliki pemahaman yang mendalam tentang Allah, nilai-nilai agama, dan ajaran-ajaran-Nya, kita dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan-Nya. Ini membantu kita untuk memiliki landasan moral dan etika yang kuat, serta memandu kita dalam mengambil keputusan yang benar dan bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, penting untuk mengajarkan anak-anak tentang pentingnya memprioritaskan pembelajaran ilmu syari dan mengembangkan pola pikir yang benar sejak usia dini. Meskipun ilmu dunia juga memiliki manfaatnya, pembelajaran ilmu syari harus ditempatkan pada tingkat yang lebih tinggi. Ini bukan hanya sekadar pilihan yang lebih utama, tetapi juga merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Dengan memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang mendalam dalam ilmu syari, anak-anak akan dapat membangun fondasi yang kuat dalam keimanan mereka kepada Allah.

Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kepribadian yang kokoh, memiliki pemahaman moral dan etika yang baik, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin yang berintegritas dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, penting untuk mengubah pola pikir anak-anak dan memberikan prioritas yang tepat pada pembelajaran ilmu syari. Dengan mengutamakan ilmu syari sebagai kewajiban dan landasan keimanan, anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman yang mendalam tentang agama, memperoleh kekuatan spiritual, dan memiliki landasan yang kuat dalam menjalani kehidupan mereka.[]

Pengirim :
Nida Uzzakiyah, S.H.I dan Qiyadah Robbaniyah, M.Pd.I, email : qrobbaniyah@gmail.com

banner 300250