Perbedaan Harga Pasar Kelapa Sawit di Indonesia dengan Malaysia

Perbedaan harga pasar yang terjadi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja dibandingkan dengan harga pasar yang diberikan oleh negara tetangga Malaysia dengan harga pasar yang stabil. Indonesia menyatakan harga pasar yang ditetapkan turun menjadi Rp1.500/kg. Sedangkan, harga pasar yang ditetapkan di negara Malaysia Rp4.500-Rp5.000/kg. Petani kelapa sawit merasa rugi dikarenakan negara sendiri mengeluarkan harga pasar yang cukup rendah dibandingkan harga pasar dari negara tetangganya. Harga TBS di Malaysia yang lebih tinggi membuat para petani tidak ingin menjual hasil panen mereka di negaranya sendiri.

Kondisi ini membuat petani kelapa sawit perpindah ke Malaysia karena harga pasar yang cukup bagi mereka, terutama di Kalimantan yang beramai-ramai menjual sawitnya ke Malaysia karena harga pasar di Malaysia yang lebih baik dibandingkan di Indonesia. Lalu apakah dengan penurunan harga pasar dapat berdampak terhadap PSAK 68 terkait penurunan nilai wajar dan aktivitas yang dilakukan pada PSAK 69 terkait agrikultur bisa berjalan optimal kembali? Karena PSAK 68 sendiri merupakan standar akuntansi yang bertujuan untuk menetapkan pengukuran nilai wajar dimana ada transaksi yang terjadi antara pelaku pasar dengan kondisi yang terjadi pada tanggal pengukuran.

Ketika ingin mengukur nilai wajar, entitas memperhitungkan karakteristik aset atau liabilitas pelaku pasar akan memperhitungkan karakteristik tersebut dan menentukan harga aset atau liabilitas pada tanggal pengukuran. Lalu, aktivitas PSAK 69 terkait agrikultur menunjukkan manajemen transformasi biologis dan panen aset biologis oleh entitas untuk dijual atau untuk dikonversi menjadi produk agrikultur atau menjadi aset biologis tambahan. Aset biologis (biological asset) adalah hewan atau tanaman hidup. Transformasi biologis (biological transformation) terdiri dari proses pertumbuhan, degenerasi (perubahan keadaan secara fisika dan kimia), produksi, dan prokreasi yang mengakibatkan perubahan kualitatif atau kuantitatif aset biologis.

Baca Juga :  Wolbachia untuk Provinsi NTT Bebas DBD

Adanya kasus seperti ini penulis beropini bahwa pemerintah Indonesia kurang memperhatikan dampak yang terjadi apabila harga pasar yang ditetapkan rendah untuk penjualan kelapa sawit akan memberikan ketidakstabilan ekonomi pada negara. Para petani kelapa sawit cukup kecewa dengan kebijakan yang dianggap kurang ini karena kebutuhan produk yang merupakan hasil dari pemerosesan setelah panen yang menjadi minyak kelapa sawit ini sangat penting untuk kebutuhan masyarakat. Karena adanya penurunan harga pasar kelapa sawit ini belum menerapkan PSAK 68 yang mengakibatkan kurang optimalnya dari aktivitas PSAK 69 terhadap aset biologis dan produk agrikultur

Dari opini diatas penulis memberikan saran untuk dapat memperhatikan harga pasar dalam negeri agar kebutuhan kelapa sawit yang menjadi produk agrikultur menjadi produk yang merupakan hasil pemrosesan setelah panen dapat optimal. Pemerintah Indonesia juga harus memiliki strategi yang matang dan berkualitas terhadap harga pasar kelapa sawit agar tidak terjadi penurunan yang membuat petani kelapa sawit rugi di negeri nya sendiri karena turunnya harga jual di Indonesia dan berpindah ke Malaysia karena harga jual yang lebih baik. Pemerintah juga harus menyelidiki terkait penyebab jatuhnya harga sawit di tanah air karena penjualan ke luar negeri juga bisa merugikan industri berbahan sawit dalam negeri, seperti industri minyak goreng dan industri kosmetik.

Saya berharap dengan pemerintah lebih memperhatikan keadaan dalam negeri agar tidak terjadi kerugian dan ketidakstabilan ekonomi di negara karena penurunan harga pasar yang berbeda di Indonesia dengan Malaysia. Dan harapan besar terhadap kebijakan harga pasar dapat lebih di optimalkan agar petani kelapa sawit mau menjual kembali hasil panen ke tanah air kembali.[]***

Pengirim :
Otmar Ajulpon Purba, Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, email : otmarpurba26@gmail.com

banner 300250