Potensi Budidaya Lada di Bangka Belitung

Bangka Belitung tidak hanya terkenal sebagai pengekspor timah, tetapi juga sebagai salah satu pengekspor lada terbesar di Indonesia. Tiap tahun Provinsi Bangka Belitung setidaknya menghasilkan tak kurang dari 30.000 ton lada putih. Tidak diragukan lagi bahwa Bangka Belitung memiliki lada yang berkualitas dan memiliki ciri khasnya tersendiri.

Lada putihnya memiliki cita rasa rempah berkulitas tinggi dikarenakan piperin yang tinggi antara 5-7% dan aroma minyak atsiri yang tajam. Komoditas lada di Kepulauan Bangka Belitung merupakan komoditas pertanian berkualitas dan telah menjadi salah satu tanaman budaya mayarakat secara turun temurun.

Lada yang ditanam di Bangka Belitung diperkirakan berasal dari Lampung melalui Sumatra Selatan pada masa awal kedatangan Belanda yaitu 300-400 tahun yang lalu. Hal ini terindikasi dari variaetas tanaman lada yang berkembang di provinsi ini dengan nama Lampung Daun Lebar (LDL) Lampung Daun Kecil (LDK) dan Jambi (Erianto, 2020).

Alasan mengapa pengembangan lada dipindahkan ke wilayah Bangka Belitung dikarenakan Pemerintahan Belanda berupaya untuk menguasai perdagangan rempah-rempah dunia dan didukung oleh petani keturunan Tionghoa yang sebelumnya bekerja sebagai buruh di pertambangan timah.

Awalnya lada ditanam di kecamatan Muntok dan Jebus di Kabupaten Bangka Barat yang dikenal sebagai sentra lada, kemudian menyebar ke arah barat, yakni Dalil dan Petaling di Kabupaten Bangka. Akibat penyakit kuning dan penurunan kesuburan tanah, sentra lada dipindahkan ke wilayah tengah dan selatan Pulau Bangka, yakni Kecamatan Payung dan Toboali di Kabupaten Bangka Selatan.

Perkebunan lada pertama diusahakan oleh orang-orang Tionghoa. Mereka sehari-hari bekerja sebagai penambang timah dan pada saat senggang menanam dan merawat tanaman ladanya. Karena dinilai menguntungkan, orang-orang Tionghoa secara intensif membudidayakan lada di dekat tinggal mereka. Pada awal abad ke-20, petani pribumi mulai tertarik menanam lada.

Baca Juga :  Keindahan Tanjung Kalian Muntok Pulau Bangka

Hal itu tak terlepas dari mudahnya mengurus tanaman lada dan cocok diintegrasikan dengan tanaman ladang serta komoditas itu lebih mudah dijual dengan harga tinggi. Pemerintahan Belanda juga memberikan kemudahan kepada warga pribumi untuk menanam lada sehingga lada menjadi tanaman yang disukai pribumi.

Selanjutnya petani pribumi menaman lada dalam skala perkebunan besar yang kemudian semakin berkembang hampir di seluruh wilayah di Pulau Bangka. Kemudian, lada disebarluaskan ke Pulau Belitung dan Manggar yang tercatat sebagai daerah pertama yang menanam lada.

Pada tahun 1929 jumlah tanaman lada mencapai 7 juta pohon. Setahun kemudian bertambah menjadi 9 juta pohon dan berkembang hampir tiga kali lipat menjadi 20 juta pohon pada 1931. Alhasil, ekspor lada dari Bangka Belitung pada tahun1931 pun tercatat lebih dari 12.000 ton, sementara ekspor lada Hindia Belanda kala itu 14.000 ton. Ekspor lada dari Bangka Belitung mendominasi ekspor lada Hindia Belanda hingga menjadikannya negara pengekspor lada nomor satu di dunia.

Sektor pertanian bisa menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat Bangka Belitung sejak langkanya timah di provinsi ini. Masyarakat yang tadinya berpaling ketimah diharapkan Kembali menekuni pertanian dengan kebun-kebun lada sebagai andalannya.[]

Pengirim :
Muhammad Fikri, mahasiswa Universitas Bangka Belitung, email : tvrumahan512@gmail.com

banner 300250