Revolusi Kurikulum PAI : Membangun Pendidikan Berkualitas di Era Digital

Kurikulum tidak hanya berbicara tentang kualitas dan relevansi materi yang disampaikan. Sebenarnya, kurikulum menekankan kepada gagasan terhubungnya komponen-komponen pendidikan yang dikontekstualisasikan dengan kemajuan dan perkembangan zaman yang dibutuhkan oleh peserta didik setelah mereka selesai menempuh pendidikan di sekolah. Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam membentuk karakter dan moral peserta didik. PAI juga berperan dalam mempersiapkan generasi yang tangguh dan memiliki daya saing di tengah perkembangan dunia yang sangat pesat.

Dengan adanya perkembangan ilmu teknologi dan informasi yang pesat, tentunya juga berdampak terhadap pendidikan, dapat dilihat dari kurikulum pendidikan yang berubah-ubah. Seperti hal nya kurikulum 2013 atau bisa disebut sebagai kurtilas dan juga kurikulum merdeka yang sedang dialami peserta didik saat ini. Dalam kurikulum 2013, pendidikan sudah menggunakan teknologi. Hanya saja tidak berpacu dengan teknologi. Berbeda dengan kurikulum merdeka yang sedang berlangsung saat ini, hampir segala kegiatan tidak terlepas dengan teknologi atau sebut saja teknologi tersebut dengan HP.

Baca Juga :  Apel Kesiapsiagaan Pemilu 2024, Dandim 0117 Aceh Tamiang : Junjung Tinggi Netralitas TNI

Adanya teknologi memang sangat membantu dalam proses pembelajaran di sekolah, baik bagi guru maupun peserta didik. Dengan adanya teknologi peserta didik dapat belajar secara luas. Artinya peserta didik tidak hanya berpacu kepada buku panduan yang diberikan oleh guru saja, tetapi peserta didik dapat belajar dari berbagai sumber. Selain itu, peserta didik juga dapat mengikuti perkembangan zaman.

Namun dampak yang dihasilkan di era digital ini tidak hanya positif saja, tentunya banyak dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari perkembangan teknologi tersebut. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan yaitu dengan adanya kurikulum merdeka, guru bisa dikatakan loss terhadap peserta didik. Artinya guru hanya sebagai fasilitator saja. Berbeda dengan KTSP yang lebih banyak mengeluarkan effor adalah guru. Sehingga murid hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru saja.

Baca Juga :  Bukit Awan Tamiang Punya Potensi Jadi Destinasi Agrowisata

Dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya guru sebagai fasilitator dan hanya mendampingi peserta didik sehingga peserta didik dituntut untuk menggali ilmu secara mandiri. Peserta didik yang memang menyukai sebuah tantangan akan memiliki pengetahuan yang lebih luas, berbeda dengan peserta didik yang lebih suka mendengarkan tentunya mereka akan malas jika harus menggali ilmu dengan cara seperti itu.

Sehingga dengan adanya kurikulum merdeka ini tentunya sudah baik karena peserta didik dapat belajar sesuai dengan hal-hal yang mereka sukai, namun tentunya juga perlu diadakannya perubahan demi kelanjutan kurikulum pendidikan yang lebih efektif.[]

Penulis :
Luk Luki Fitri Rohmatilah, mahasiswi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan INISNU Temanggung

banner 300250