Rusaknya Ekosistem Laut dan Keindahan Pantai Akibat Penambangan TI Apung

Bangka Belitung merupakan salah satu daerah yang menjadi penghasil timah terbesar di Indonesia. Hasil tambang yang di hasilakan di pulau bangka dan Belitung dikutip dari laman babelpos timah merupakan produk andalan di sektor pertambangan di pulau bangka. Kontribusi sektor pertambangan khususnya pertambangan timah di kabupaten bangka selatan mencapai 24,37 persen. Dengan kenyataan dan keadaan tersebutlah yang mendorong masyarakat untuk terus menjadi penambang timah di Babel.

Banyak lubang-lubang timah yang sudah terukir di tanah bangka ini serta sekarang sedang marak-maraknya membuat inovasi penambangan timah baru.TI apung ini merupakan salah satu sarana mereka untuk memperoleh kebutuhan timah yang dapat dijual demi melangsungkan hidup mereka. Kenapa “apung”? Ya, alat ini nantinya akan berlayar di titik dimana yang menjadi tujuan penambang untuk meraih timah. TI apung ini menjadi objek menarik bagi saya untuk memperkenalkan hal ini kepada eksternal Babel.

Banyak sudah bertebaran TI apung di beberapa daerah bangka salah satunya di daerah Bangka Barat kecamatan Muntok di desa Belo Laut pada awalnya TI apung atau masyarakat sering menyebutnya ponton ini di tolak keberadaanya oleh masyarakat belo laut dan sekitarnya karena dapat merusak lingkungan laut dan dapat merugikan para nelayan setempat hingga sempat terjadi demo pada saat ponton ingin beroprasi dipantai belo laut. Para nelayan menolak keras dengan adanya ponton ini karna dapat merusak habitat di laut membuat mata pencaharian meraka hilang.

Baca Juga :  Kemendikbudristek Ijinkan Universitas Teuku Umar Buka Program Magister Ilmu Pertanian

Namun aktivitas pertambangan ini memuat pendapat pro dan kontra tidak sedikit juga masyarakat yang setuju dengan adanya TI apung ini karena sebagian dari penghasilan ponton ini di bagikan ke pada masyarakat dalam bentuk uang atau bantuan sembako lainya sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ada juga masyarakat yang menolak tegas penambangan ini karena dapat berdampak pada lingkungan laut dalam kurun waktu yang lama karena untuk memperbaiki kerusakan lingkungan tidaklah mudah.

TI apung ini di jalankan dilaut yang berdampak ke pesisir pantai dimana pantai merupakan salah satu destinasi yang menyenangkan bila di kunjungi bersama keluarga di hari libur. D-engan adanya TI apung dapat merusak keindahan dari pantai tersebut hingga menurunkan minat untuk berlibur di pantai sehingga orang-orang memilih destinasi lain, ini merupakan salah satu dampak negatife dari TI apung.

Melihat sisi negatifnya, banyak sekali yang harus diperhatikan oleh masyarakat di antaranya kerusakan ekosistem laut, tergangguanya jalur mobilitas nelayan tradisional yang tidak dapat beroprasi karna adanya ponton, pencemaran air laut akibat minyak yang tumah, pecemaran udara karena mengeluarkan asap yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan, serta pencemaran suara karena adanya suara dari mesin ponton itu sendiri yang lumayan keras hingga terdengar dari jarak kurang lebih sekitar 100 meter dari lokasi TI apung, serta menyebabkan abrasi pantai semakin kuat dan terjadi perubahan garis pantai yang semakin mengarah kedaratan.

Baca Juga :  Ungkap Pelaku Pembunuh Gajah, 17 Personel Polres Atim Diberi Penghargaan

Dari berbagai dampak negatife yang di timbulkan dari TI apung ini yang memprihatikan adalah kerusakan ekosistem laut yang mengakibatkan para nelayan sulit untuk menangkap ikan. Apabila di lihat dari pendapatan nelayan bangka Belitung meraka rata-rata berpenghasilan di bawah upah minimum. Penghasilan nelayan ini sangat kecil apa bila di bandingkan dengan penghasilan seorang penambang TI apung. Aktivitas penggalian dan pembuangan sedimen menyebabkan perairan di sekitar penambangan menjadi keruh dan terbawa hingga mencapaian daerah terumbu karang yang mengakibatkan pada pertumbuhan ekosistem di laut.

Ikan-ikan menjadi mati karna sedimen dan terkadang tercemar karna tumpaham minyak. Dengan pencemaran laut ini membuat hasil tangkapan menjadi kurang maksimal dari yang sebelumnya. Dampak ini membuat mata pencaharian nelayan punah dan meraka susah untuk mendapatkan perkerjaan di masa sekarang dengan latar belakang Pendidikan yang bisa di bilang kurang baik karna kebanyakan hanya tamatan smp bahkan ada yang tamatan sd ini membuat nelayan resah karena mereka harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang bila tidak mencari ikan di laut.

Baca Juga :  Menumbuhkan Cinta Terhadap NKRI

Dari permasalahan yang terjadi akibat kerusakan ekosistem laut upaya yang dapat di lakukan salah satunya dengan penanaman kembali pohon bakau di pesisir pantai agar ikan-ikan kecil dapat berkembang biak ataupun masyarakat yang bekerja di TI apung dapat di alihkan ke pekerjaan lain seperti pertanian. Dengan dukungan dari pemerintah untuk pemasok modal dapat membuat sektor pertanian di bangka ini menjadi jauh lebih baik agar pertambangan berkurang karena dampak negatife dari pertambangan sangat buruk.

Dengan mengalokasikan pertanian di beberapa daerah penghasil tambang dapat membuat masyarakat memiliki mata pencaharian yang baru selain menambang dan dapat memperburuk keadaan ekosistem laut. Dengan adanya inovasi baru untuk memajukan sektor pertanian di bangka khususnya di pertanian lada karena bangka memiliki peluang yang besar untuk menghasilkan lada yang berkualitas.

Tidak hanya itu pemerintahan juga dapat membangun fasilitas untuk membantu kemajuan di sektor parawisata. Sayang rasanya bila memiliki pantai yang indah tetapi tidak di perkenalkan kemasyarakat luas agar perekonomian di bangka menjadi lebih baik. Di bandingkan hanya berpatok pada penghasil timah saja karena pada dasarnya timah adalah hasil bumi yang lama kelamaan akan habis bila terus di tambang dan tidak menjamin kehidupan kedepanya.[]

Pengirim :
Dian Rumisandry, mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

banner 300250