Strategi Progresif Menuju Mahasiswa Aktif dan Edukatif

Oleh: Maya Trilifia Febriani

Pendidikan sebagai upaya untuk membangun sumber daya manusia memerlukan wawasan yang sangat luas, karena pendidiikan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam pemikiran maupun pengalamannya. Oleh karena itu, pembahasan pendidikan tidak cukup berdasarkan pengalaman saja, melainkan dibutuhkan suatu pemikiran yang luas dan mendalam. Pengkajian pendidikan tidak cukup hanya dengan hasil sutu penelitian secara ilmiah, namun dibutuhkan pengkajian yang lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengkajian ilmiah merupakan suatu keharusan karena akan mengungkapkan fakta-fakta yang berkaitan dengan pengalaman manusia yang berkaitan dengan pendidikan.

Pengkajian filosofis terhadap pendidikan mutlak diperlakukan karena kajian semacam ini akan melihat pendidikan dalam suatu realitas yang komperehensif. Kajian filosofis tentang pendiidkan akan membantu memberi informasi tentang hakikat manusia sebagai dirinya sendiri, secara horizontal dalam hubungannya dengan sesama di jagat raya, serta secara vertical manusia adalah sebagai makhluk Tuhan pencipta jagat raya dengan segala isinya, termasuk manusia sehingga kajian tentang realitas sangat dibutuhkan dalam menentukan tujuan akhir pendidikan.

Baca Juga :  Penanganan Cidera Pada Sprain Ankle

Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya, cara baik mempersiapkan para mahasiswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang kemungkinan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saai ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.

Orang-orang progresif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif dan bahwa umat manusia, muda maupun tua, baik dan dapat dipercaya untuk bertindak dalam minat-minat terbaik merekan sendiri. Berkenaan dengan ini, para pendidik (ahli pendidikan ) yang memiliki suatu orientasi progresif memeberi kepada para mahasiswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman-pengalaman kuliah mereka.

Baca Juga :  Dampak dan Cara Menyikapi Era Globalisasi

Sekalipun demikian, pendidikan progresif hal ini tidak berarti bahwa para mahasiswa tidak memberi strukutr atau para mahasiswa bebas melaksanakan apapun yang mereka inginkan. Mahasiswa progresif memulai dengan posisi dimana keberadaan mahasiswa dan melalui interaksi keseharian di kelas, mengarahkan mahasiswa untukmelihat bahwa mata kuliah yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.

Peran mahasiswa dalam sesuatu lingkup pendidikan yang berorientasi secara progresif adalah berfungsi sebagai agen perubahan atau agent of change yang menjadi subjek dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan secara edukatif untuk meng eksplor segala bidang pengetahuan untuk dikembangkan secara aktif dalam ranah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa di sini berhubungan dengan icon kampus yang dikelola untuk memajukan segala program kampus baik secara akademik maupun non akademik. Dalam kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi yang tidak menjadi batasan dalam menerima sumber ilmu secara berkeseinambungan maka mahasiswa harus memiliki strategi progresif untuk memajukan segala ranah pendidikan baik secara teori maupun praktik yang meliputi ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik.

Baca Juga :  Membangun Personal Branding di Era Digital

Keberadaan mahasiswa menjadi jalur alternative untuk melesatkan kualitas kampus baik secara manajemen maupun pengelolaan kualitas mutu pendidikan dalam mengimplementasikan tri pusat perguruan tinggi yaitu penelitian, pengembangan, dan pengabdian kepada masyaratkat. Maka dalam mencapai semua itu sebagai agen of change mahasiswa harus memiliki semangat zeitgeist (spirit zaman) dalam pengupayaan peningkatan kualitas sumber daya manusia terlebih dalam pencapaian progres pendidikan sesuai dengan standar yang diterapkan oleh pemerintah maupun instansi kampus.

Upaya pengembangan itu dapat dilakukan melalui kegiatan berbasis edukatif seperti peningkatan budaya literasi kampus bak secara digital mauoun cetak dan juga aktif dalam pengembangan non edukatif sepertihalnya aktif diberbagai program ekstra kulitas yang berbasis intra maupun ekstra kampus.[]

*Penulis adalah mahasiswi PAI Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, email : mayatrilifia@gmail.com

banner 300250