Strict Parents dan Bahasa Diam dalam Keluarga

"Membaca Pola Asuh Lewat Perspektif Semiotik"

Di banyak keluarga, aturan sering kali hadir lebih dulu dibandingkan percakapan. Jam malam ditetapkan, pergaulan dibatasi, dan pilihan hidup anak diawasi dengan ketat. Pola asuh seperti ini dikenal dengan istilah strict parents. Di ruang digital, istilah tersebut kerap muncul dalam bentuk curhat, meme, hingga diskusi tentang pengalaman emosional generasi muda. Namun, di balik kesan keras tersebut, terdapat bahasa diam dalam keluarga yang jarang dibaca secara reflektif.

Teori semiotik membantu kita memahami bahwa komunikasi tidak hanya berlangsung lewat kata-kata. Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tanda dan makna. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berkomunikasi melalui sikap, ekspresi, aturan, serta kebiasaan. Dalam keluarga, pola asuh orang tua sejatinya merupakan rangkaian tanda yang terus-menerus dikirimkan kepada anak, baik secara sadar maupun tidak.

Dalam keluarga dengan strict parents, aturan menjadi tanda utama. Larangan pulang malam, tuntutan akademik yang tinggi, hingga keharusan mengikuti kehendak orang tua berfungsi sebagai penanda dari petanda yang lebih dalam, seperti rasa takut orang tua terhadap masa depan anak, kekhawatiran akan lingkungan sosial, serta keinginan untuk melindungi. Sayangnya, makna yang dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian ini tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh anak.

Semiotik menegaskan bahwa makna tidak pernah bersifat sepihak. Anak sebagai penerima tanda akan menafsirkan pesan berdasarkan pengalaman dan kondisi emosionalnya sendiri. Ketika aturan disampaikan tanpa ruang dialog, anak bisa membaca tanda tersebut bukan sebagai kasih sayang, melainkan sebagai ketidakpercayaan. Nada bicara yang tinggi, ekspresi wajah yang kaku, serta hukuman tanpa penjelasan perlahan membangun makna bahwa rumah adalah ruang kontrol, bukan ruang aman.

Situasi ini sering melahirkan pola ganda dalam diri anak. Di rumah, mereka tampil patuh sebagai simbol “anak baik”. Namun di luar rumah, mereka mencari ruang kebebasan yang tidak mereka dapatkan di dalam keluarga. Dalam perspektif semiotik, kondisi ini dapat dibaca sebagai resistensi simbolik, yaitu upaya anak menegosiasikan identitas dan kebebasan di tengah tekanan aturan yang tidak memberinya ruang suara.

Meski demikian, semiotik juga mengajarkan bahwa tanda dapat dimaknai ulang. Disiplin tidak selalu harus hadir dalam bentuk larangan keras. Ketika orang tua mengubah cara berkomunikasi—dari perintah menjadi dialog, dari ancaman menjadi penjelasan—makna yang diterima anak pun ikut bergeser. Aturan tidak lagi dibaca sebagai pengekangan, melainkan sebagai bentuk kepedulian dan bimbingan.

Bahasa tubuh yang lebih terbuka, nada bicara yang tenang, serta kesediaan mendengar pendapat anak menjadi tanda baru yang menciptakan rasa aman. Dalam kondisi ini, keluarga tidak hanya menjadi tempat anak “diatur”, tetapi juga ruang belajar bersama. Anak diajak memahami alasan di balik aturan, bukan sekadar diminta patuh.

Pada akhirnya, memahami strict parents melalui perspektif semiotik mengajak kita untuk membaca ulang bahasa dalam keluarga. Tidak semua aturan lahir dari niat buruk, dan tidak semua kepatuhan berarti sehat. Yang sering hilang bukan kasih sayang, melainkan bahasa yang saling dipahami.

Refleksi ini menjadi penting, terutama bagi generasi muda. Mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan bagaimana kita—baik sebagai anak maupun calon orang tua—belajar mengirim tanda yang lebih manusiawi. Karena rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk tumbuh, bertanya, dan menjadi diri sendiri.[]

Penulis :
Novi Anggreani, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang