Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Tinggi

Badan Pusat Statistik telah merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2023 sebesar 5,03%. Realisasi ini termasuk yang tertinggi di dunia dan menjadi sebuah  anomali di luar ekspektasi semua pihak baik pemerintah maupun pengamat karena ekonomi global sedang mengalami perlambatan.

Apa pengaruh kondisi ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Saat awal tahun 2023, Bapak Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa tahun 2023 is gonna be dark and darker. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Managing Director IMF Kristalina Georgieva. Karena memang faktanya di tahun 2023, dunia dihadapkan pada situasi yang sangat kompleks.

Tahun lalu, saat kita menjadi Presidensi G20, kita selalu mengatakan pandemi itu menimbulkan efek luka dalam atau scarring effect. Jadi kalau pulih, kita ingin pulihnya tetap ajek dan yang terkena scarring atau luka yang dalam itu bisa secara perlahan-lahan pulih, seperti sektor restoran, hotel, dan transportasi, itu yang terpukul sangat dalam, bahkan sampai kepada konstruksi dan bangunan karena orang-orang sekarang tidak kerja di kantor, tapi di rumah.

Indonesia harus bersiap-siap berdampak dari pelemahan ekonomi global dan risiko politik itu akan seperti apa. Maka kita mengatakan tahun 2023 menjadi tidak akan baik, maka pengamat juga ikut mengatakan ini tidak baik, terutama akan terpengaruh ke ekspor kita. Namun kalau kita lihat momentum pemulihan ekonomi mulai dari kuartal yang lalu, yaitu kuartal pertama 2023, kita tahu bisa tumbuh 5,03%, itu bagus.

Baca Juga :  UMKM Indonesia yang Mendunia

Itu karena akhir tahun biasanya orang sudah mulai ramai beraktivitas, kemudian pandeminya sudah dianggap mulai selesai, orang ada yang vaksin boosting dan kemudian kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang terlihat nyata, seperti daerah Bali tempat-tempat destinasi wisata itu udah mulai tumbuh cukup kuat.

Pada kuartal pertama kita khawatir apakah akan tetap jalan momentumnya? Namun jika dilihat dari angka-angkanya seperti consumer confidence kita itu masih sangat kuat. Tadinya kita khawatir karena inflasi tinggi, daya beli menurun, confidence dari konsumen juga menurun.

Namun karena pemerintah bersama-sama pusat, daerah, dan Bank Indonesia bekerja sama untuk menurunkan inflasi secara baik, dengan kombinasi kebijakan yang tidak konvensional, kita melihat ke daerah-daerah, inflasi kita turunnya cukup cepat dibandingkan negara-negara maju yang inflasinya masih cukup tinggi. Dan ini menolong daya beli. Sehingga konsumsi adalah motor penggerak terbesar.

Baca Juga :  Mengenal Beberapa Landasan Penyelenggaraan PAUD

Jadi ekonomi itu memang terdiri dari seluruh kegiatan masyarakat, ada yang dari sisi menjual, ada yang membeli, ada yang memproduksi dan ada yang mengkonsumsi, ada yang investasi, ada yang ekspor sehingga itu akan menciptakan lapangan kerja, orang-orang yang bekerja bisa mendapatkan pendapatan.

Akan tetapi kmmponen yang paling menonjol dan kontribusinya paling besar dalam ekonomi kita adalah konsumsi. Investasi kita nomor dua terbesar, tapi pertumbuhannya di kuartal pertama masih tidak terlalu bagus, di bawah 3%. Kita berharap kegiatan investasi harus terus dipacu. Karena ini bagus untuk job description dan berbagai dampak bagi produktivitas kita. Ekspor kita luar biasa masih sehat. Sampai dengan kuartal pertama ini, ekspor masih tumbuh di atas 14%.

Kalau dari sisi produksinya itu sektor manufaktur, kegiatan sektor manufaktur yaitu berbagai pabrik yang menghasilkan berbagai barang dan jasa.

Tapi yang lain penting adalah pertambangan dan konstruksi. Pertambangan karena kita punya natural resource rate, dalam hal seperti tadi batubara, nikel, ferro, kemudian kita punya juga timah. Itu yang besar. Dan terakhir yang kelima terbesar adalah construction. Construction itu ya kita bikin jalan tol, kita bikin bangunan, dan yang lain-lain itu penting.

Baca Juga :  Tradisi Ngaji Pasaran Ramadhan Sebagai Sarana untuk Meningkatkan kualitas Ibadah

Ada pun beberapa strategi yang di lakukan Pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.Pemerintah dalam menyusun APBN 2023 menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi. Asumsi pertumbuhan ekonomi kita untuk tahun ini sebesar 5,3%. Sangat ambisius pada situasi yang luar biasa penuh ketidakpastian global. Tapi kita coba untuk terus mencapai asumsi itu. Bagaimana caranya?

Karena ekonomi is about productivity, maka dari sisi produktivitas, apa yang menyebabkan ekonomi kita punya produktivitas tinggi? Yaitu orang-orangnya. Maka orang-orangnya itu harus punya kompetensi dan kapasitas. Makanya belanja untuk sektor pendidikan, pelatihan itu menjadi sangat besar.

Kita sudah menggunakan banyak instrumen APBN untuk mendukung berbagai reform di bidang pendidikan, seperti merdeka belajar. Sekarang karena mahasiswa bisa belajarnya di perusahaan, jadi dia tidak hanya di kelas. Kita juga memberikan kartu prakerja, yaitu mereka bisa belajar yang kehilangan pekerjaan atau masih mencari pekerjaan. Balai Latihan Kerja di Kementerian Tenaga Kerja maupun di daerah-daerah kita tingkatkan. In short, seluruh instrumen APBN dipakai untuk memperbaiki kualitas SDM.[]

Pengirim :
Chinta Dwi Cahyana, mahasiswa Universitas Bangka Belitung Program Studi Bisnis Digital, Hp/WA : 0821750103xx

banner 300250