Urgensinya Menanamkan Pemahaman Tauhid: Hubungan dengan Weton

Penulisan ini diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber kyai, H. Abdul Nashir. Hitung-hitungan yang biasa kita kenal dengan sebutan weton. Weton merupakan hari kelahiran seseorang, di Jawa weton dihitung dengan menggabungkan hari dalam seminggu (senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, sabtu dan minggu) dengan lima hari pasaran Jawa (pahing, wage, kliwon, pon dan legi).

Di tanah Jawa ini weton tetap kita gunakan sebagai bentuk melestarikan budaya. Jika kita tidak menggunakan hitungan weton juga tidak ada masalah. Weton sudah tidak perlu kita gunakan, asalkan kita sudah tawakkal pada Allah SWT. Namun, jika kita masih ada keraguan dalam mengambil tindakan dan hidup dalam masyarakat Jawa kita perlu menggunakan weton. Rasulullah sudah mengingatkan tentang keraguan, beliau bersabda:

عَنْ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُك

Baca Juga :  Raqan Pertanggungjawaban APBK 2023, Ini Penjelasan PJ. Bupati Asra

“Diriwayatkan dari Al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhuma cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau. Beliau mengatakan: Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam nasehat ini, ‘Tinggalkanlah perkara yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu.’” (HR. An-Nasa’i dan Tirmidzi). Dari hadist tersebut bisa kita simpulkan, ketika kita ragu tinggalkan jangan dilaksanakan, pasti dalam keraguan ada sesuatu yang tidak sesuai.

Asal mula menggunakan weton, jika diliat dari bangsa Arab itu sudah ada sejak zaman rasulullah. Weton adalah hari kelahiran, untuk mengingat hari kelahiran rasulullah pada tanggal 12 rabiul awal, beliau menjalankan puasa senin. Kemudian dari tanah Jawa bermula dari jaman kerajaan Majapahit itu weton sudah ada, akan tetapi sebelum jaman kerajaan Majapahit weton itu dilatar belakangi oleh nenek moyang zaman dahulu.

Oleh karena itu bagi masyarakat, weton diperlukan karena kita sebagai orang Jawa harus melestarikan tradisi Jawa. Seperti halnya tradisi weton tersebut yang biasa digunakan dalam acara pernikahan saat menentukan tanggal hajatan, membuat rumah dan setiap tindakan yang akan kita laksanakan di waktu yang dianggap baik sesuai perhitungan weton.

Baca Juga :  Pj Bupati Atam : Keakurasian Data Menjadi Pondasi dalam Perencanaan

Kita sebagai manusia boleh-boleh saja untuk tidak mempercayai perhitungan weton. Namun, menurut orang Jawa ketika tidak percaya dengan weton tetap ada resiko yang tidak diinginkan. Menurut secara ketauhid-an tidak ada resiko jika kita tidak percaya dengan perhitungan weton, semua kembali kepada kehendak Allah SWT.

Misalnya seseorang ingin menikah dan menggunakan hitungan weton hasilnya tidak cocok, jika tetap ingin melaksankan pernikahan tidak apa-apa. Menurut orang Jawa pasti ada resiko seperti ada keluarga salah satu meninggal, rumah tangga tidak harmonis.

Namun, itu masih menjadi mitos belaka, sampai sekarang belum ada bukti terkait tersebut. Biasanya jika sudah mengetahui tidak cocok tapi masih dilaksankan dari pihak keluarga melakukan doa-doa kepada Allah SWT untuk menolak balak yang mungkin terjadi. kalau dihubungkan dengan kehendak Allah SWT semua tidak ada urusan semua menyimpang.

Baca Juga :  Hukuman Mati Perspektif dalam Hukum Islam

Agama Islam memiliki toleransi yang tinggi sehingga adanya weton Islam menghormati sebagai tradisi. Namun, seseorang yang mempercayai tentang keadaan weton jelas bertentangan dengan ketauhid-an, karena ketuhid-an kita hanya kepada Allah SWT. Sebenarnya tidak langsung menyimpang asalkan kita tidak mengimaninya cukup memahami weton sebagai bentuk kehati-hatian seseorang dalam melaksanakan pernikahan.

Selain golongan Nahdlatul Ulama percaya dengan weton dianggap musyrik. Golongan Nahdlatul Ulama boleh-boleh saja karena kita tidak boleh menghilangkan tradisi Jawa dengan syarat tidak boleh menghilangkan kepercayaan dan keyakinan kita kepada Allah SWT.

Hitungan weton yang kita anggap sebagai tradisi Jawa memiliki nilai nilai tasawuf. Berarti membenahi pekerjaan kita (dzohir dan batin) supaya jadi pekerjaan yang lebih baik. Nilai-nilai tasawuf yang terkandung diantaranya: menghormati warisan budaya para leluhur, dan melestarikan budaya.[]

Pengirim :
Sherylia Muthia Nabila, mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang, Hp/WA : +62 858-6619-2378

banner 300250