Waspadai Peningkatan Kasus DBD di Tengah Pandemi Covid-19 di Kalbar

Oleh : Gerard Bhram Hasiolan Siregar*

Kalimantan Barat merupakan bagian paling barat dari pulau Kalimantan yang terletak di antara garis 2˚08 LU serta 3˚05 LS dan terletak diantara 108˚0 BT dan 114˚10 BT dengan luas wilayah 14.731.000 hektare pada peta bumi. Berdasarkan pada letaknya ini, Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah tropis yang memiliki suhu udara yang cukup tinggi serta memiliki kelembapan yang tinggi. Selain itu Kalimantan Barat juga memiliki kawasan hutan seluas 8,4 juta hektare atau dapat dikatakan luas kawasan hutan Kalimantan Barat sekitar 57 % dari luas wilayah provinsi.

Kalimantan barat terdiri atas beberapa kota kabupaten diantaranya adalah Kabupaten Bengkayang dengan jumlah penduduk 286.336 jiwa, Kabupaten Kapuas Hulu dengan jumlah penduduk 252.609 jiwa, Kabupaten Kayong Utara dengan jumlah penduduk 126.571 jiwa, Kabupaten Ketapang dengan jumlah penduduk 570.657 jiwa, Kabupaten Kubu Raya dengan jumlah penduduk 609.392 jiwa, Kabupaten Landak dengan jumlah penduduk 397.610 jiwa, Kabupaten Melawi dengan jumlah penduduk 228.270 jiwa, Kabupaten Mempawah dengan jumlah penduduk 301.560 jiwa, Kabupaten Sambas dengan jumlah penduduk 629.905 jiwa, Kabupaten Sanggau dengan jumlah penduduk 484.836 jiwa, Kabupaten Sekadau dengan jumlah penduduk 211.559 jiwa, Kabupaten Sintang dengan jumlah penduduk 421.306 jiwa, Kota Pontianak dengan jumlah penduduk 658.658 jiwa dan Kota Singkawang dengan jumlah penduduk 235.064 jiwa (BPS Kalimantan Barat, 2020).

Saat ini pandemic covid-19 sedang melanda dunia khususnya pada daerah Kalimantan Barat sedang terjadi lonjakan kasus covid-19. Kenaikan kasus covid-19 di Kalimantan Barat membuat masyarakat menjadi semakin sadar akan pentingnya penerapan protokol kesehatan, namun membuat kita semua menjadi lupa bahwa terdapat penyakit yang tidak kalah berbahaya apabila dibandingkan dengan covid-19, salah satunya adalah demam berdarah dengue. Selain itu, akibat dari adanya pandemic covid-19 ini membuat banyak masyarakat yang secara tidak langsung meng-covid kan semua gejala seperti deman pilek dan lain sebagainya, padahal demam berdarah dengue memiliki gejala yang hampir sama dengan covid-19 yaitu demam tinggi, nyeri kepala, nyeri otot, sendi dan tulang serta mual dan muntah yang apabila terlambat ditangani maka akan berakibat pada kematian.

Baca Juga :  Mengapa Orang dengan Kepribadian Introvert Sering Dianggap Kurang Percaya Diri?

Oleh sebab itu, saat ini selain sosialisasi terkait covid-19, perlu juga dilakukan sosialisasi untuk pencegahan wabah demam berdarah dengue ditengah pandemi covid-19 dan juga dipaparkan bagaimana cara membedakan gejala demam berdarah dengue dengan covid-19.

Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang umum di daerah tropis dan subtropis di dunia. Virus demam berdarah (DENV) terutama ditularkan oleh dua jenis nyamuk Aedes yaitu Aedes aegypti (Ae. Aegypti) dan Aedes albopictus (Ae. albopictus) (WHO, 2019). Demam berdarah adalah infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit mirip flu dan terkadang meningkat menjadi komplikasi yang mengancam jiwa yang disebut demam berdarah parah. Demam berdarah telah menjadi beban penyakit utama di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kejadian global demam berdarah telah meningkat tajam dalam dekade terakhir, dan sekitar setengah dari populasi dunia berisiko. Demam berdarah juga merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor yang paling umum dengan distribusi geografis yang luas, yang dapat menyebabkan penyakit yang serius dan fatal. Menurut perkiraan epidemiologi, demam berdarah dapat menginfeksi lebih dari 50 juta orang setiap tahun, dan sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia berisiko terinfeksi. Meskipun kematian akibat demam berdarah 99% dapat dicegah, angka kematian di seluruh dunia (CFR) jauh lebih tinggi dari 1%. Demam berdarah diperkirakan menyebabkan 10.000 kematian di lebih dari 125 negara atau wilayah. Menurut statistik terbaru, pada tahun 2080, 60% populasi dunia akan berisiko terkena demam berdarah.

Baca Juga :  Penggunaan Wolbachia dalam Mengendalikan Wabah Penyakit DBD

Penyebaran kasus demam berdarah dengue dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah cuaca yang panas dan juga kelembapan udara yang tinggi. Temperatur yang tinggi akan mempengaruhi kecepatan replikasi virus dan perkembangan vektor larva, serta lingkungan yang lembap merupakan habitat yang sangat disukai oleh nyamuk pembawa virus demam berdarah (DENV). Hal ini sangat sesuai dengan kondisi wilayah Kalimantan Barat dimana Kalimantan Barat memiliki suhu udara yang cenderung tinggi dan juga memiliki kelembapan udara yang tinggi serta memiliki kawasan hutan yang luas yang sangat berpotensi menjadi habitat utama dari nyamuk Aedes aegypti (Ae. Aegypti) dan Aedes albopictus (Ae. albopictus).

Kasus Demam Berdarah Dengue di Kalimantan Barat

Berdasarkan pada data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, secara global pada bulan Januari 2020 terdapat 297 kasus demam berdarah dengan 1 kematian dan pada bulan Februari 2020 terdapat 115 kasus demam berdarah dengan 1 kematian yang mana dari keseluruhan data yang ada Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan kasus demam berdarah tertinggi selama tahun 2020. Berdasarkan pada data Ditjen P2P, Kemenkes RI total data case fatality rate (CFR) kasus demam berdarah di Kalimantan Barat berada di angka 1,16 % yang mana angka kematian (CFR) pada kasus demam berdarah yang lebih dari 1 % dikategorikan tinggi.

Strategi Pengendalian Vektor DBD

1. Edukasi

Edukasi merupakan bagian terpenting dalam strategi pegendalian vector demam berdarah yang ada di Kalimantan Barat, dimana dengan memberikan infirmasi terkait penyakit vector demam berdarah dan nyamuk pembawa virus demam berdarah (DENV) sehingga dimasa yang akan datang akan ada tindakan preventif atau pencegahan dari masyarakat yang ada di Kalimantan Barat sehingga dapat menurunkan tingkat case fatality rate (CFR) vector demam berdarah yang ada di Kalimantan Barat. Kegiatan yang dapat dilakukan sebagai sarana edukasi adalah dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat terkait pencegahan penyakit vektor demam berdarah.

Baca Juga :  Kondisi Guru RA Dalam Masa Pandemi Covid-19

2. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian vector demam berdarah secara kimiawi dapat dilakukan dengan cara penggunaan insektisida seperti melakukan kegiatan fogging secara rutin di setiap wilayah yang ada di Kalimantan Barat. Program ini dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan masing-masing pemimpin daerah Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Dengan adanya kegiatan ini dapat membunuh spesies nyamuk yang membawa virus demam berdarah (DENV) seperti Aedes aegypti (Ae. Aegypti) dan Aedes albopictus (Ae. albopictus). Selain itu pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air sehingga dapat membunuh jentik-jentik nyamuk yang ada dalam tempat penampungan air.

3. Pengendalian Lingkungan

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah penerapat program 3M (menguras, menutup dan mengubur). Cara ini dapat dilakukan dengan menguras bak mandi dan tempat penampungan air lainnya setidaknya sekali dalam seminggu. Hal ini disesuaikan dengan waktu yang diperlukan nyamuk untuk dapat berkembang dari telur menjadi nyamuk dewasa yang memerlukan waktu sekitar 7 sampai 10 hari. Selanjutnya menutup setiap tempat penamungan air sehingga tidak dapat digunakan oleh nyamuk untuk bertelur dan yang terakhir adalah mengubur barang-barang yang dapat menampung air seperti ban bekas, gelas air mineral, botol minum dan lain sebagainya.

*Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana, email : gerard.siregar@students.ukdw.ac.id

banner 300250