Scroll Tanpa Henti: Media Sosial Sedang Mengancam untuk Mengubah Otak Kita

Opini0 Dilihat

Setiap pagi, begitu mata terbuka banyak dari kita langsung meraih ponsel. Jari-jari bergerak otomatis mencari ponsel untuk membuka sosial media seperti Instagram, TikTok, atau X (dulu Twitter). Tanpa sadar kita membuka sosisal media, waktu berjalan begitu cepat untuk menyaksikan potongan kehidupan orang lain yang lucu, sedih, atau penuh kemewahan yang belum tentu nyata. Aktivitas ini terasa ringan karena kita scroll aja, bahkan menyenangkan. Tapi di balik scroll-scroll yang tanpa henti itu, sesuatu sedang berubah cara otak kita bekerja.

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Kita menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan membentuk identitas atau jati diri. Namun, yang jarang disadari adalah bagaimana desain platform ini dirancang untuk membuat kita ketagihan dan kecanduan itu berdampak langsung pada kesehatan mental, kemampuan fokus, serta struktur berpikir masyarakat.

Baca Juga :  PWI Tamiang Gelar Konferensi, Ini Pesan Pj Bupati Asra

Menurunnya Kemampuan Fokus

Scroll tak ada hentinya dan tak ada ujungnya adalah desain yang secara psikologis membuat pengguna sulit berhenti. Setiap konten berdurasi pendek membuat otak terus-menerus menuntut hal baru. Akibatnya, membaca buku, menulis panjang, atau bahkan menyimak percakapan jadi semakin sulit karena sering melihat video atau konten yang sangat singkat durasinya. Studi dari Microsoft menyebutkan banyak perhatian manusia kini hanya sekitar 8 detik, lebih pendek dari ikan mas.

Kecanduan yang Tak Terasa

Media sosial bekerja dengan memberi “reward” berupa notifikasi, like, atau komentar. Ini memicu pelepasan hormon yang sama terlibat dalam kecanduan. Tanpa sadar otak belajar bahwa rasa bahagia datang dari validasi digital. Tidak ada notifikasi, tidak ada kebahagiaan. Ini menjadi alarm terutama untuk anak muda yang masih membangun rasa percaya dirinya.

Baca Juga :  Pj Bupati Asra Pimpin Rakor Persiapan Pilkada

Realitas yang Mematikan Percaya Diri

Di media sosial yang tampil hanyalah versi ilusi terbaik dari hidup seseorang yang disaring, diedit, yang muncul adalah keberhasilan, bukan proses, kebahagiaan bukan perjuangan. Ini menciptakan perbandingan sosial yang tidak realistis, yang bisa memicu rasa rendah diri dan kecemasan berlebih.

Krisis Berpikir dan Empati

Ketika informasi datang dalam bentuk potongan pendek dan cepat, kita mulai kehilangan kesabaran untuk proses yang mendalam. Diskusi panjang menjadi membosankan, empati tergerus oleh komentar cepat dan berpikir kritis tergantikan oleh reaksi spontan dan cepat. Jika dibiarkan, ini dapat membentuk generasi yang impulsif, mudah tersinggung, dan kesulitan dalam memproses dikehidupan dunia nyata.

Waktunya Ambil Kendali

Media sosial bukan musuh, namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa penggunaan tanpa kendali perlahan mengubah pola pikir dan kesehatan mental kita. Sudah waktunya kita berhenti menjadi pengguna pasif dan mulai menggunakan media sosial secara sadar. Mulai dari hal sederhana: kurangi waktu scroll tanpa tujuan, kembalikan fokus ke hal-hal nyata, dan jangan biarkan algoritma mengatur hidup kita.

Baca Juga :  Berkebinekaan Global Berdasarkan Profil Pelajar Pancasila

Selain itu untuk menghindari dampak negatif dari media sosial kita juga dapat melakukan beberapa hal, seperti: 1) Menentukan waktu khusus untuk media sosial, atur waktu tertentu dalam sehari untuk menggunakan media sosial; 2) Nonaktifkan pemberitahuan, matikan pemberitahuan media sosial untuk mengurangi godaan untuk memeriksa perangkat mobile; 3) Lakukan aktivitas lain seperti pilih aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan menyenangkan, contohnya membaca buku atau berolahraga; dan 4) Perbanyak interaksi di dunia nyata, habiskan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita.[]

Penulis :
Zakka Maulana Yusuf, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

banner 300250