Aceh Timur, TERASMEDIA.NET – Sejumlah pelaku seni di Kabupaten Aceh Timur menilai pengembangan ekosistem seni dan kebudayaan di daerah tersebut belum berjalan optimal. Selain minimnya ruang kolaborasi, mereka juga menyoroti belum aktifnya kelembagaan seni serta kurangnya inovasi dalam pembinaan dan pengembangan sektor kebudayaan.
Salah seorang pelaku seni dan praktisi kreatif Aceh Timur, Misbahhuddin, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, lembaga yang semestinya menjadi wadah berhimpun dan menyalurkan aspirasi para seniman belum menjalankan fungsinya secara maksimal.
“Di Aceh Timur sebenarnya ada Dewan Kesenian Aceh (DKA) yang dibentuk sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi sekaligus membangun kolaborasi antarpelaku seni. Namun, sejauh yang kami rasakan, lembaga tersebut tidak lagi aktif menjalankan fungsinya,” ujar Misbahhuddin, Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan, tidak berfungsinya wadah tersebut membuat para pelaku seni kesulitan menyampaikan aspirasi, membangun jejaring, maupun mengembangkan berbagai kegiatan kreatif secara berkelanjutan.
Menurutnya, kondisi itu juga diperparah dengan minimnya keterlibatan pemerintah dalam menjangkau komunitas-komunitas seni yang berkembang di tingkat akar rumput. Ia menilai pola pembinaan selama ini masih bersifat pasif dan belum mampu merangkul seluruh pelaku seni secara inklusif.
“Selama ini pemerintah terkesan hanya menunggu masyarakat datang. Seharusnya ada upaya jemput bola dengan mendatangi komunitas-komunitas seni agar pembinaan benar-benar menyentuh semua kalangan,” katanya.
Misbahhuddin juga menilai pelibatan seniman dalam berbagai kegiatan masih didominasi oleh kelompok tertentu. Akibatnya, banyak pelaku seni lain yang memiliki potensi belum memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam program-program pemerintah.
Selain persoalan kelembagaan, ia menyoroti belum adanya program strategis yang dirancang secara berkelanjutan untuk mendorong kemajuan seni dan budaya di Aceh Timur.
“Sampai saat ini kami belum melihat adanya terobosan yang benar-benar lahir dari kebutuhan daerah. Sebagian besar kegiatan masih sebatas menjalankan program rutin dari pemerintah pusat maupun provinsi, sehingga dampaknya terhadap pembinaan seniman lokal belum begitu terasa,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, para pelaku seni berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dapat melakukan pembenahan tata kelola seni dan kebudayaan secara menyeluruh. Mereka juga mendorong agar kelembagaan seni di daerah diaktifkan kembali secara inklusif, sekaligus menghadirkan ruang kreatif (creative hub) yang dapat dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas, kolaborasi, dan pengembangan kreativitas masyarakat.
“Kami membutuhkan komitmen nyata, bukan sekadar menjalankan program tahunan. Pemerintah perlu membangun komunikasi dengan seluruh pelaku seni, menghidupkan kembali wadah yang ada, serta menghadirkan kebijakan yang mampu mendorong tumbuhnya ekosistem seni dan budaya di Aceh Timur,” tutup Misbahhuddin.
Sementara itu, TERASMEDIA.NET berupaya mengonfirmasi informasi tersebut kepada pihak terkait. Berdasarkan informasi yang diperoleh, kelembagaan Dewan Kesenian Aceh (DKA) tingkat Kabupaten Aceh Timur saat ini belum terbentuk atau belum aktif. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari instansi pemerintah yang membidangi urusan kebudayaan terkait berbagai masukan yang disampaikan para pelaku seni tersebut.[] M. Thaib/TM-W013










