Peran Program Magang Jepang Bagi Mahasiswa Universitas Muhadi Setiabudi Brebes dalam Meregenerasi Petani di Indonesia

Opini, Pendidikan0 Dilihat

Oleh : Ali Sabarudin*

Perkembangan zaman saat ini lebih mengacu pada teknologi dan industri, sehingga para anak muda lebih condong ke sektor tersebut. Hal ini berdampak pada sektor pertanian, dimana minat anak muda terhadap dunia pertanian semakin berkurang sehingga mengakibatkan tergerusnya petani-petani yang berusia produktif. Mereka beranggapan bahwa berkecimpung pada pertanian tidak memiliki prospek jangka panjang.

Oleh karena itu, muncul pola pikir orang tua khususnya petani yang menyekolahkan anaknya ke kota guna mendapatkan pekerjaan yang lain dibandingkan menjadi seorang petani. Para anak muda pun meninggalkan desanya untuk pergi ke kota dan sebagaian besar bekerja pada sektor manufaktur. Hal tersebut mengakibatkan adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan ataupun pertokoan yang terjadi pada beberapa wilayah pedesaan. (Gusnelly dan Riskianingrum, 2018)

Salah satu solusi yang telah diupayakan oleh pemerintah adalah adanya program magang ke Jepang bagi generasi muda yang sedang serius dalam menekuni sektor pertanian. Program ini juga dilaksanakan oleh pihak Universitas Muhadi Setiabudi Brebes sebagai stimulus untuk mahasiswanya khususnya Fakultas Saintek. Program pemagangan ke Jepang ini diharapkan adanya peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam belajar teknologi pertanian modern. Kegiatan ini merupakan salah satu usaha untuk mendongkrak kembali minat generasi muda terhadap sektor pertanian di Indonesia.

Diharapkan program magang ini dapat memberikan dampak yang positif bagi penerimanya khususnya mahasiswa Fakultas Saintek Universitas Muhadi Setiabudi Brebes, salah satunya berupa remitansi. Remitansi yang diperoleh dapat berupa uang ataupun harta benda dan remitansi sosial dalam bentuk ide-ide atau ilmu pengetahuan, nilai-nilai, dan perilaku. Remitansi tersebut merupakan modal sebagai potensi aset bagi pembangunan daerahnya masing-masing. (Bustanul Arifin, 2004)

Capaian dari program ini adalah untuk menciptakan pengusaha muda di sektor pangan dan mendorong meningkatnya generasi muda yang bergerak dalam sektor pertanian. Hal yang terpenting adalah untuk regenerasi. (Zagata dan Sutherland, 2015) Latar belakangnya adalah usia petani yang semakin tua, kurangnya generasi tua yang mewariskan usaha pertaniannya kepada generasi muda sehingga tingkat pergantiannya rendah sehingga tidak idealnya perbandingan antara petani muda dengan petani usia lanjut, dan dunia yang semakin terbuka dan pasar yang semakin kompetitif menyebabkan pelaku yang harus bekerja pada sektor pertanian harus yang produktif dan efisien. Sedangkan, ketika petani di dominasi oleh usia lanjut maka relative tertinggal dalam akses dan teknologi karena memiliki produktivitas yang rendah dan kurang efisien. (Leonard, 2017)

Terkait penurunan jumlah tenaga kerja yang produktif pada sektor pertanian juga merupakan permasalahan yang terjadi di beberapa negara lainnya. (Susilowati, 2016) Penyebab terjadinya hal ini adalah adanya perubahan struktur ekonomi nasional dari sektor pertanian ke sektor lain, seperti pada sektor manufaktur. Perubahan inilah yang memaksa sektor pertanian menjadi sektor yang kurang dipedulikan. Salah satu buktinya adalah enggannya generasi muda untuk bekerja sebagai petani. Rendahnya pendapatan yang didapatkan petani juga yang melatarbelakangi kurang minatnya generasi muda untuk berkecimpung di sektor ini. (Arvianti, 2019) Hal itu juga berdasarkan dari pengamatannya sendiri secara langsung, dimana pendapatan sanak saudara yang berprofesi menjadi petani dibilang masih dibawah standar. (Arimbawa dan Rustariyuni, 2018)

Baca Juga :  Kontroversi Gedung Garuda di IKN: Antara Simbolisme dan Ekspektasi Publik

Permasalahan yang menimpa di sektor pertanian harus segera diselesaikan agar dapat mencegah menurunnya tingkat produktivitas. Universitas Muhadi Seiabudi Brebes merupakan salah satu kampus di Indonesia yang telah menerapkan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Kampus ini terus berbenah diri dengan merencanakan program-program berkualiatas sebagai penunjang kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswanya. Salah satu kebijakannya adalah adanya program magang di Jepang khusunya bagi mahasiswa Fakultas Saintek. Program ini bisa dijadikan solusi dalam membantu pemerintah untuk membangkitkan kembali minat generasi muda dalam terjun pada sektor pertanian. Jika generasi muda banyak yang berkecimpung pada sektor pertanian, maka produktivitas pada sektor ini kemungkinan besar terjadi peningkatan.

Program magang ini juga pastinya disokong oleh pemerintah yang menjadi salah satu upaya dalam mempercepat regenerasi petani di Indonesia. Universitas Muhadi Setiabudi Brebes baru melaksanakan program ini untuk pertama kalinya. Ada beberapa tahapan seleksi dalam memutuskan siapa saja mahasiswa yang berangkat ke Jepang untuk melaksanakan program ini. Proses seleksinya berupa tes fisik, tes bahasa, dan wawancara. Adanya tes fisik mampu mengetahui kondisi fisik dari mahasiswa yang bakal lolos seleksi dengan komponen meliputi daya tahan, stamina, kelentukan, kelincahan, kekuatan, daya tahan otot, kecepatan, dan koordinasi. (Hidayat, 2014) Dilakukannya tes fisik agar para peserta tidak keget ketika diberangkatkan ke Jepang, karena disana memiliki cuaca dan iklim yang berbeda dengan Indonesia. Unsur bahasa tak lupa dipertimbangkan karena menjadi faktor penting dalam melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para petani yang ada di Jepang. Faktor keseriusan dalam mengikuti program ini dibuktikan dengan adanya wawancara dengan pihak terkait.

Banyaknya mahasiswa yang mendaftar program ini, hanya 13 mahasiswa yang mampu lolos seleksi pada semua tahapan yang telah dilalui. Mahasiswa yang lolos seleksi maka akan ditempatkan di Jepang selama 1 tahun untuk belajar langsung tentang sektor pertanian disana. Mereka yang sedang melakukan pelatihan pada program ini merupakan angkatan pertama pada program magang Jepang yang diadakan oleh Universitas Muhadi Setiabudi Brebes. Mahasiswa yang melaksanakan program ini tidak hanya mendapatkan pelatihan dan pengetahuan baru tentang pertanian di Jepang. Akan tetapi, mereka juga mendapatkan beberapa fasilitas dan uang sebesar 160.000 yen. Uang tersebut nantinya bisa digunakan untuk menunjang kepentingan perkuliahan.

Melalui program magang Jepang yang diadakan Universitas Muhadi Setiabudi Brebes diharapkan mampu mendorong regenerasi petani secara berkala dari lingkup daerah hingga lingkup nasional. Mahasiswa yang nantinya akan kembali ke Indonesia diharapkan dapat menerapkan pegalamannya yang telah didapatkan selama melaksanakan kegiatan program magang di Jepang. Program ini bukan hanya bermanfaat bagi mahasiswanya saja, namun berdampak positif bagi universitasnya dimana mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Universitas Muhadi Setiabudi Brebes juga memancing universitas lain agar mampu mengadakan program magang yang serupa. Melalui banyaknya universitas yang menerapkan program magang ini, besar harapannya proses regenerasi petani di Indonesia dapat berjalan secara maksimal dengan efektif dan efisien.

Baca Juga :  Penimbunan Barang Dagangan

Peran Program Magang Jepang dalam Meregenerasi Petani di Indonesia

Pada dasarnya program magang Jepang berperan menjadi stimulus untuk generasi muda, mengingat kondisi krisisnya generasi muda menyoal masalah pertanian dengan latar belakang Indonesia sebagai Negara agraris. Padahal sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi. (Santoso dan Krisnawati, 2020) Regenerasi pada umumnya pewarisan usaha pertanian sebagai bentuk penciptaan atau pembentukan tenaga kerja yang berminat bekerja di sektor produksi pertanian. Proses regenerasi dapat terjadi dengan masuknya anggota keluarga ataupun pendatang baru kedalam sektor pertanian. Proses ini menjadi suatu solusi ditengah adanya maslah penuaan petani dan tidak produktifnya sektor pertanian. Secara umum, program magang Jepang bagi mahasiswa Universitas Muhadi Setiabudi Brebes telah mendukung regenerasi petani di Indonesia.

Mahasiswa yang telah melakukan program magang di Jepang ini memiliki pola pikir yang positif, mental yang kuat, dan pengetahuan yang luas. Dibandingkan sebelum melaksanakan program magang ini, paradigma mereka masih cukup sempit ketika dihadapkan dengan permasalahan pertanian. Berbekal keberanian dan pengetahuan yang didapatkan di Jepang, mereka memulai langkah awalnya dengan merencanakan sosialisasi kepada petani pada daerahnya masing-masing khususnya pada generasi mudanya. Mereka memberikan motivasi dan gambaran umum bagaimana sistem pertanian yang diterapkan di Jepang dan Indonesia. Kedua negara tersebut pastinya terdapat perbedaan dari sistem pertanian yang diterapkan. Melalui perbedaan tersebut maka bisa mengambil dan menerapkan bagaimana sistem pertanian yang efektif dan efisien yang nantinya bisa dicoba pada sektor pertanian wilayah masing-masing.

Kedekatan generasi muda dengan teknologi informasi dan modernisasi menjadi salah satu tantangan dan sekaligus dijadikan sebagai strategi untuk menggelorakan jiwa muda dalam kepedulian terhadap pertanian. Para mahasiswa yang telah mengikuti program magang ini merasakan perbedaan yang signifikan pada aspek teknologi pada sektor pertanian. Mereka ketika di Jepang merasa terbantu dalam mengerjakan lahan pertanian disana karena sebagian besar tahapannya dibantu oleh mesin sebagai aspek teknologinya. Sehingga mereka tidak terasa keberatan meskipun mengolah lahan yang sangat luas. Lain halnya yang terjadi di Indonesia, masih banyak sistem pengolahan lahan pertanian dilakukan secara manual sehingga membutuhkan tenaga yang ekstra. Pada sisi lain mereka merencanakan sistem pengolahan lahan pertanian, selain itu mereka juga memikirkan teknologi berupa mesin-mesin pembantu dalam mengolah lahannya. Harapan mereka ada kebijakan dari pemerintah untuk memberikan bantuan berupa mesin-mesin pertanian sebagai penunjangnya sehingga semangat jiwa generasi muda pun semakin meningkat.

Para mahasiswa yang ikut serta dalam program magang di Jepang awalnya kaget dengan sistem kerja pertanian yang ada disana. Banyak pengalaman yang mereka dapatkan, diantaranya kerja yang sangat cepat, disiplin waktu, orangnya ramah-ramah, dan memiliki lingkungan yang bersih baik di desa maupun di kotanya. Dengan beberapa perbedaan tersebut, mereka akan mengaplikasikan secara bertahap agar bisa terwujud pada pola pertanian yang ada di Indonesia. Dilain sisi ada beberapa dari mereka melakukan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu. Dengan keterlibatan pihak lain kemungkinan berhasilnya meningkat karena mereka terbantu oleh orang-orang yang berkompeten juga pada bidangnya sehingga tugas mereka tidak terasa berat seperti yang diperkirakan.

Baca Juga :  Budaya Hip Hop: Berpengaruh Terhadap Gen-Z Indonesia?

Melalui sikap dan tindakan bijaksana membuat rasa kagum para pengamat, mereka mampu membawa dampak yang baik di lingkungannya. Dengan keberhasilan mereka di usia muda, diharapkan mampu memompa dan memancing para generasi muda lain untuk tidak perlu malu dan takut ketika akan terjun pada sektor pertanian. Hal ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin berproses, karena memang untuk mencapai sebuah keberhasilan jalan yang dilalui tidak mudah dan butuh perjuangan yang luar biasa. Melalui sektor pertanian, para generasi muda juga mampu membantu sektor lain dalam menjalankan sistemnya masing-masing. Banyak jalan yang menjadi alternatif dalam mendukung sektor pertanian, tinggal bagaimana setiap individu belajar dan mencari pengalaman.

Kesimpulan

Program magang di Jepang merupakan kegiatan yang diadakan oleh pihak kampus dari Universitas Muhadi Setiabudi Brebes. Kegiatan ini menjadi salah satu program dari penerapan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Tujuan dari program ini adalah meregenerasi petani di Indonesia dan akulturasi pola pertanian yang mampu membawa perubahan yang baik. Pentingnya regenerasi karena mengingat yang terjadi di lapangan bahwasannya petani saat ini sebagaian besar berusia lanjut yang mana akan mempengaruhi produktivitas pada sektor pertanian. Sehingga diperlukan para generasi muda untuk meneruskan kinerja dari para petani berusia lanjut guna meningkatkan produktivitas pertanian agar tidak termarjinalkan oleh sektor lain. Program ini ditujukan untuk para mahasiswa Fakultas Saintek Universitas Muhadi Setiabudi Brebes yang nantinya melewati beberapa tahapan proses seleksi sebagai tolak ukur untuk diberangkatkan di Jepang untuk melaksanakan program magang dari kampus.

Mahasiswa yang telah terpilih wajib mengikuti pelatihan selama 1 tahun yang ditempatkan di Jepang. Melalui program ini mereka memiliki kapasitas diri yang lebih baik, dari pengetahuan yang luas, mental yang kuat, dan pola pikir yang positif. Disana mereka belajar banyak hal dari mulai sistem maupun budaya masyarakatnya yang berdampak positif bagi diri mereka. Dengan perubahan yang mereka alami sehingga memiliki kemampuan yang bisa diandalkan, mereka mampu mewujudkan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Langkah awal yang mereka lakukan dengan melakukan sosialisasi kepada generasi muda dan masyarakat sekitar mengenai motivasi dan pola pertanian yang diterapkan di Jepang. Kemudian perbedaan-perbedaan yang nantinya bisa diadopsi untuk diaplikasikan pada sektor pertanian yang ada di Indonesia.[]

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhadi Setiabudi Brebes, e-mail: alisabarudin10@gmail.com

banner 300250