Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari ciri serta berbagai variasi bahasa, dan hubungan di antara penutur di dalam masyarakat bahasa (Marni, 2016: 3). Sebagai pakar Sosiolinguistik, Fishman mengatakan bahwa kajian sosiolinguistik bersifat kualitatif (Rokhman, 2013: 6).
Dalam sosiolinguistik kita akan mempelajari alih kode, campur kode, kedwibahasaan, dan diglossia. Alih kode adalah penggunaan variasi bahasa lain atau bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain atau karena adanya partisipan lain, campur kode adalah penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke bahasa, kedwibahasaan adalah perihal pemakaian dua bahasa seperti bahasa daerah dan bahasa nasional dalam berkomunikasi untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang suatu informasi tertentu. Di sini kita akan membahas lebih spesifik ke campur kode, diglossia adalah situasi di mana dua ragam bahasa yang berbeda diucapkan dalam komunitas bahasa yang sama.
Menurut Chaer (2010:114), campur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya. Kode- kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hannyalah berupa serpihan-serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode.
Jadi campur kode itu bisa kita sebut penggunaan bahasa secara dominan dalam tuturan sehari-hari bersosialisasi di dengan masyarakat tetapi disisipi dengan tuturan yang lainnya.
Bisa kita lihat zaman sekarang banyak anak muda yang tuturannya mengandung campur kode kita ambil contoh saja saya sendiri yang merasakan bahwa tuturan saya mengandung campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah yaitu Sunda, karena memang saya lahir dan di besarkan di selat sunda jadi bahasa daerah tersebut sudah melekat dalam diri saya walaupun sudah belajar bahasa Indonesia. Ketika saya menjawab pertanyaan seseorang pasti selalu ada tambahan “atuh” di belakang kalimat seperti “Iya atuh” ketika pendapatnya sama dan “ngga atuh” ketika pendapatnya bertentangan, kenapa selalu ada kata tambahan “atuh” di belakang kalimat? Ya karena itu memang sudah kebiasaan saya sedari kecil di rumah.
Jika kalian peka terhadap lingkungan sekitar dan mengamati tutur kata orang-orang pasti akan menemukan seseorang yang memang tuturannya mengandung campur kode juga, ya faktanya memang campur kode ini sudah menjadi tren bagi anak-anak remaja ada yang memang tidak di sengaja karena kebiasaan sedari kecil ada juga yang memang di sengaja agar terlihat keren seperti anak Hits di Jakarta selatan yang mencampurkan bahasa asing ketika bertutur
Sebagai generasi muda Indonesia kita seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar bahasa negara kita selalu terjaga dan tidak punah di makan waktu, saya juga termasuk seorang yang tuturannya mengandung campur kode karena kebiasaan sedari kecil di besarkan di keluarga sunda sedang belajar sedikit demi sedikit agar tuturan saya baik dan benar, semangat belajar ya teman-teman dengan belajar dan usaha kita pasti bisa, karena usaha tidak akan menghianati hasil.[]***
Pengirim :
Siti Habibah, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Muhadi Setiabudi Brebes, email : sitihabibahrohman@gmail.com








