Persaudaraan yang Terjalin Dalam Masyarakat

Ukhuwah Insaniyah adalah persaudaraan yang berlaku universal bagi semua orang tanpa membedakan agama, suku, ras dan aspek khusus lainnya. Persaudaraan yang diikat oleh jiwa kemanusiaan. Islam sangat mengajarkan bahwa sangat penting untuk menjalin pesaudaraan pada masyarakat. Seperti halnya kita menolong saudara kita yang menjadi konban bencana.

Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Pada November lalu, gempa bumi terjadi didaerah Cianjur yang mengakibatkan 344 orang korban meninggal dunia serta kerugian harta benda yang tidak sedikit.

Sejumlah relawan nusantara memberikan bantuan, seperti sembako, pakaian bekas, perlengkapan bayi, obat-obatan, dan terpal untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena musibah. Pemerintah juga memberikan bantuan dana ganti rugi untuk korban gempa bumi Cianjur yang mengalami kerusakan rumah. Banyak sekali bantuan yang datang entah dari suku, atau ras apapun untuk persaudaraan setanah air.

Ini adalah salah satu contoh Persaudaraan Kemanusiaan (Ukhuwah Insaniyyah), yaitu saling membantu ketika ada yang terkena musibah. Dalam hal ini bahwa persaudaraan yang ada di dalam negeri ini sangat lekat. Persaudaraan kemanusiaan meniscayakan adanya rasa kasih sayang antara sesama manusia di dunia tanpa melihat latar belakang primordial mereka, karena pada dasarnya semua manusia merupakan anak keturunan nabi Adam, yang di dalam Al-Quran disebutkan sebagai “nafs washidah” (individu yang satu).

Baca Juga :  Memanfaatkan Potensi Maritim: Pendorong Utama Ekonomi di Bangka Belitung

Pada saat, Nabi Muhammad bersama umatnya hijrah ke Madinah pada 622 M. Ada yang menarik pada peristiwa ini, yaitu Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin sebagai pendatang dan kaum Anshar sebagai pribumi. Nabi menyadari para Muhajirin migrasi ke negara baru tidak membawa apa-apa. Semua harta tidak bisa mereka bawa. Sebagai solusinya, Nabi mempersaudarakan mereka dengan Muslim pribumi. Keputusan ini disambut baik oleh kedua belah pihak, bahkan kaum Anshar rela membagi separuh hartanya untuk saudara baru mereka. Padahal, secara ekonomi kaum pribumi juga sedang tidak membaik. Keimanan dan semangat persatuan dalam jiwa merekalah yang telah berhasil menyatukan.

Ukhuwah Insaniyah harus didasarkan pada ajaran bahwa semua manusia diciptakan oleh Tuhan. Meskipun Allah membimbing kepada kebenaran melalui ajaran Islam, Allah memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memilih jalan hidup berdasarkan pemikiran rasional. Apabila Ukhuwah Insaniyah tidak dilandasi oleh ajaran agama yang beriman dan taqwa, maka timbullah jiwa hewani yang penuh dengan keserakahan dan tidak tahu mana yang halal atau haram dan bahkan mungkin melakukan kanibalisme kepada orang lain.

Baca Juga :  Konflik Natuna Memanas, Bagaimana Solusi dan Pencegahannya?

Islam mengenalkan konsep persaudaraan yang dikenal dengan istilah ukhuwah. Secara etimologi, kata ukhuwah berasal dari kata dasar akhun. Kata akhun ini dapat berarti saudara kandung, seketurunan atau dapat juga berarti kawan. Bentuk jamaknya ada dua, yaitu ikhwat yang berarti saudara kandung dan ikhwan yang berarti kawan. Jadi ukhuwah bisa diartikan sebagai persaudaraan berasal dari akar kata yang pada mulanya berarti memperhatikan. Makna asal kata ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang bersaudara.

Didalam Ukhuwah Islamiyah kita tidak boleh Al-Muhajarah yang merupakan berbuat maksiat secara terang-terangan, baik bermaksiat dengan dipandang orang, atau menceritakan kemaksiatannya dalam orang lain secara terang-terangan, tanpa adanya rasa malu. hal ini pernah disebutkan pada hadist Rasulullah, dia bersabda : “Semua umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Di antara perbuatan dosa secara terang-terangan adalah seseorang berbuat satu dosa pada malam hari lalu pada esok harinya padahal Allah telah menutupi dosanya- mengatakan, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan demikian dan demikian.’ Padahal sungguh pada malam harinya Allah telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi hari-nya ia membuka tabir Allah darinya.” (HR. Muslim)

Baca Juga :  Sejarah Diantara Halaman: Mengarsipkan Peristiwa Genosida Palestina di Perpustakaan

Ke depan, saya berharap nilai-nilai Ukhuwah Insaniyyah dapat berkembang dan menjadi sesuatu yang dapat ditanamkan kepada masyarakat Indonesia, khususnya para remaja. Menciptakan rasa persaudaraan tanpa membeda-bedakan sangat penting tanpa memandang kebangsaan, ras, bahasa dan penilaian fisik. Selain itu, kita sudah memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” di Indonesia, yang artinya meskipun kita berbeda-beda, kita bisa dan harus tetap menjadi satu kesatuan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat hidup sendiri untuk memenuhi aspek kehidupan tentunya kita membutuhkan orang lain, karena pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, kita pasti membutuhkan orang lain untuk segala aktivitas kita. Islam mengajarkan umatnya untuk tetap menjalin persaudaraan dan menjaga hubungan baik antar sesama atau hablum minanna kepada sesama muslim maupun non muslim, namun di sisi lain Islam membenci dan mengutuk perpecahan dan permusuhan.[]***

Pengirim :
Diah Shafa Shafira, Mahasiswi Jurusan Manajemen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, email : diahshafa2@gmail.com

banner 300250