Westernisasi Mengancam Nasionalisme Bangsa

Opini, Pendidikan0 Dilihat

Oleh : Arin Safitiri*

Sebagai makhluk sosial yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, manusia dituntut untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Setiap individu memiliki ciri khas yang menjadi pembeda dengan individu lainnya, namun hal tersebut adalah kunci dari adanya perubahan sosial. Menurut Gilin yang merupakan pakar sosiologi, perubahan sosial merupakan cara hidup suatu individu yang dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal, ideologi yang dianut, kebudayaan material, dan komposisi penduduk yang dipengaruhi oleh hasil penemuan baru. Perubahan sosial dapat terjadi karena adanya faktor dari luar yang mempengaruhi sistem dan tatanan yang ada di suatu masyarakat dan menimbulkan tatanan baru.

Kebudayaan yang dibawa oleh masyarakat luar menimbulkan perubahan sosial seperti perkembangan teknologi dan pertukaran budaya yang pada masyarakat modern disebut dengan globalisasi. Globalisasi merupakan proses interaksi dari suatu negara dengan negara lain karena faktor pemenuhan kebutuhan masing-masing negara. Globalisasi memiliki berbagai dampak positif seperti ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi yang berkembang pesat. Namun terdapat dampak negatif yang menjadi urgensi negara Indonesia, yaitu timbulnya westernisasi.

Westernisasi merupakan kegiatan meniru kebudayaan Barat yang diimplementasikan dalam gaya hidup sehari-hari masyarakat Indonesia. Menurut Koentjaraningrat, westernisasi merupakan usaha untuk meniru gaya hidup orang Barat secara berlebihan pada segala aspek kehidupan, seperti perilaku, budaya, fashion, dan lain sebagainya. Kegiatan meniru budaya negara lain semestinya harus melakukan penyaringan yang bertujuan untuk meminimalisir terjadinya penggeseran budaya asli suatu negara. Namun pada implementasinya, proses peniruan yang dilakukan masyarakat cenderung secara keseluruhan dan tidak ada proses filter informasi. Masyarakat menerima segala informasi secara bulat-bulat tanpa memikirkan lebih lanjut mengenai suatu informasi dan pada umumnya informasi yang didapat bertolak belakang dengan kebudayaan asli Indonesia. Menurut Nawangsari, Kehidupan bebas bangsa Barat yang individualis bertolak belakang dengan kebudayaan Pancasila yang mempunyai keseimbangan antara kebutuhan individu dengan masyarakat dan keseimbangan rasa dan logika.

Baca Juga :  Pentingnya Bimbingan Konseling untuk Anak PAUD

Permasalahan westernisasi yang terjadi pada dasarnya merupakan faktor dari lemahnya jati diri nasional masyarakat dan lemahnya jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Masyarakat cenderung meninggalkan kebudayaan asli dengan mengedepankan kebudayaan bangsa Barat yang dinilai lebih modern. Selain itu, lingkungan pergaulan juga berpengaruh pada pemikiran suatu individu. Jika suatu individu tidak mengikuti suatu trend yang ada di media sosial tentang budaya negara lain maka dianggap kudet atau kurang update. Westernisasi mengubah sebagian besar kehidupan masyarakat, baik dalam hal cara berpakaian, tingkah laku, dan gaya hidup yang konsumtif.

Westernisasi dapat mempengaruhi suatu individu dalam proses interkasi dengan masyarakat. Konsumsi minuman keras dan pergaulan bebas sudah menjadi suatu hal lumrah yang dilakukan remaja di masyarakat. Adab kesopanan semakin luntur digantikan kebudayaan barat yang individualistik dan bebas, seperti cara berpakaian yang terlalu terbuka, rasa tidak peduli kepada orang lain, dan berbicara kepada lain dengan kata-kata kasar sudah menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat. Selain itu, kasus klitih yang ada di Yoygakarta dan maraknya anak dibawah umur yang melakukan tindak kejahatan pembunuhan merupakan urgensi yang ditimbulkan oleh gagalnya proses sosialisasi.

Baca Juga :  Menjadi Guru Profesional Guna Meningkatkan Mutu Pendidikan

Berbagai hal negatif yang ditimbulkan oleh westernisasi telah melanggar nilai dan norma yang ada di masyarakat. Nilai dan norma sangat penting bagi bangsa Indonesia karena di dalamnya memuat suatu aturan yang telah disepakati bersama dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Norma yang ada di Indonesia meliputi norma kesusilaan, agama, kesopanan dan hukum. Lunturnya nilai dan norma yang ada berarti bahwa bangsa Indonesia telah kehilangan jati diri, ciri khas bangsa, dan rasa nasionalisme. Bangsa Indonesia wajib untuk mematuhi nilai dan norma yang berlaku di masyarakat sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat 3 yang berbunyi “hukum menjadi keharusan dalam kehidupan bangsa dan negara karena adanya hukum dapat menciptakan ketertiban serta keadilan bermasyarakat”.

Baca Juga :  Patologi Etika Birokrasi Pemerintah di Era Media Sosial

Westernisasi dapat dihindari dengan menjaga nilai kebudayaan asli Indonesia. Masyarakat dapat menanamkan kebudayaan khas Indonesia pada suatu individu se dini mungkin. Peran orang tua dan lembaga pendidikan formal sangat penting untuk membentuk karakter anak yang sesuai dengan khas masyarakat Indonesia yang memiliki tutur kata dan kesopanan yang tinggi, mempunyai rasa bangga terhadap kebudayaan bangsa sendiri, dan terhindar dari pengaruh buruk yang ditimbulkan akibat globalisasi. Selain itu, masyarakat dapat memfasilitasi hal tersebut dengan cara mengadakan gotong royong, pergelaran kebudayaan daerah, serta hal lainnya yang membantu proses sosialisasi dan pembentukan karakter suatu individu yang berjiwa nasionalisme yang tinggi.[]

*Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta, email : arinsafitri.2022@student.uny.ac.id

banner 300250